Online
Saat ini ada 153 pengunjung tamu dan 1 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
|
|
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 16 komentar
|
|
Saat ini telah ada 16 komentar
Konsumen Indonesia blm dicintai oleh produsen. Kita baru diminta mencintai produk dalam negeri. Masih cinta bertepuk sebelah tangan
Benar sekali Pak Teddy Halim, jangankan oleh produsen, hukum pun tidak mencintai konsumen. Sepertinya UU Perlindungan Konsumen hanya formalitas aja, ga ada giginya.
memang nya di Indonesia ada UU perlindungan konsumen?
law love money...
konsumen menang lawan perusahann besar?? duitnya konsumen harus lebih besar dulu dari lawannya..
Pemerintah INDONESIA hanya mau uangnya konsumen saja tapi tdk mau memperhatikan apakah konsumen dirugikan atau tidak!
Di Indonesia konsumen bukan raja
konsumen harus punya wadah sendiri, biar kalo ada 1 konsumen di rugiin produsen, wadah konsumen independent bisa bantu atasin kalo perlu di boikot sekalian produsen nakal nya....
pembeli juga harus kritis, kalo brg yg di jual "A", sewaktu kita beli juga harus dpt "A", jangan di jual "A", setelah kita beli dapetnya "B".
YLKI belum berfungsi secara maksimal dalam melindungi hak-hak konsumen !!!
bagus...sediakan juga dong media diskusinya
siapa tahu ada rekan kita yang sdg kesulitan dan butuh masukan pd saat itu. tq
Banyaknya masalah yang menimpa konsumen di Indonesia banyak didukung oleh kultur kita yang masih belum sehat dan mengakar.
Salah satu cara 'unjuk gigi' para konsumen agar menarik perhatian para produsen, saya rasa dengan menulis keluhan di banyak media dengan bahasa lugas, tajam, tegas dan pedas.
Bisa jadi seperti ketidakpedulian para produsen disebabkan para big bossnya hanya menerima laporan sepihak dari para staf pelaksana di tingkat penjualan/after sales services, hanya laporan 'asal boss senang dan beres-beres saja'.
Media seperti mediakonsumen.com yang banyak menyuarakan keluhan konsumen, harusnya bisa pada level 'dipandang' oleh para produsen dan bisa jadi barometer utk konsumen maupun produsen.
Contohnya, ketika saya mau membeli ponsel merek agak kelas gak terkenal, ketika saya baca ada beberapa keluhan konsumen di mediakonsumen.com ini dan tidak ada feedback dari produsennya, langsung saya membatalkan dan memutuskan utk membeli merek lain.
So... banyak sudah contoh dimana kekuatan media bisa meruntuhkan/menurunkan penguasa, tokoh masyarakat / selebritis
mestinya suara konsumen yang dimuat di media yang 'dipandang' oleh produsen bisa jadi iklan/promo terbalik dari produk yg bersangkutan.
Sekarang sudah jaman 'Client/Customer Satisfaction', jadi seharusnya konsumen selain jadi 'ian kasela' juga jadi 'maia dan mulan kwok'.
konsumen kita juga kadang2 kurang kritis, istilahnya masa bodo, jarang sekali ada yg kritis, sekalipun kritis, tapi ga bisa di sampaikan di depan umum, dan juga ga bisa semua media (terutama koran) menampung semua keluhan, karena koran sendiri berpikir, daripada gw tampung keluhan konsumen yang "space" nya gratis, mending di komersilkan aja spacenya, jalan yang terbaik adalah web ini..
bahkan gw kepikiran untuk menjadi salah satu crew untuk mediakonsumen.. sekalian nih untuk menejemen media konsumen, bagikan jaket atau apa kepada para member yang aktif, agar web ini dapat disebarluaskan secara "gratis" oleh member2 nya yang suka mobile... termasuk gw, gw sendiri pengen banget web ini di kenal.. karena kalo keluhan masuk koran, bukannya uda melalui proses editing ?? kalo masuk disini kan murni tulisan konsumen... dan yang pasti harus junjung tinggi kejujuran....
bravo mediakonsumen !!!
saya pengunjung baru jadi belum tau persis manfaat dari media konsumen ini tapi sya bisa tebak arahnya pasti membantu para konsumen agar bia mencari jalan keluar bila dikecewakan oleh salah satu produsen yang dikonsumsi oleh konsumen
Oke kita bisa bilang harus lindungi Kosumen..
Tapi saya ingin sampaikan, kalau kita sebagai konsumen juga harus jaga diri dengan menghindari produk bajakan...
Waspada,, karena selain konsumen saya juga berntindak sebagai produsen.....
Dari hasil polling terlihat "menulis keluhan di media massa/internet" paling tinggi hasilnya, dari situ untuk sementara dapat disimpulkan bahwa konsumen masih memiliki keterbatasan akses langsung ke produsennya. Masih banyak produsen (terutama consumer good's)yang belum memiliki/mencantumkan nomor telepon/alamat untuk layanan konsumen, kalaupun ada alamat/no telepon itupun baru terbatas di kotak kardus besar isi 10 buah/lebih.
digunakan untuk . Jadi kalau kita membeli 1 bungkus makanan ringan/rokok kemudian merasa dikecewakan, untuk bisa mengajukan keluhan/kekecewaan langsung ke produsennya maka kita harus membeli dulu 1 kardus
produk tsb. agar kita tahu siapa produsennya, alamatnya
di mana dan no. teleponnya berapa(kalau ada).........
uang no. 1, pelayanan no. 2