MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

Pendatang Kurang Perduli dengan Jakarta?
Dikirim tanggal: Rabu, 22 Agustus 2007

Terlalu banyak hal-hal negatif yang memalukan Jakarta saat ini. Saya sebagai penduduk Jakarta sejak lahir, melihat banyak penurunan dari segi hubungan sosial sampai kebersihan. Apakah ini disebabkan oleh pendatang dari daerah yang hanya memikirkan Jakarta sebagai tempat cari nafkah? Artinya mereka kurang perduli dengan Jakarta karena Jakarta bukan kampung halaman mereka. Yah mungkin saja.

Saya bisa mengatakan begitu karena setiap saya tanya semua pegawai, pedagang, tukang parkir, pelayan restoran, ternyata mereka semua berasal dari luar kota dan datang ke Jakarta hanya untuk mencari nafkah. Pernah ada kejadian, seorang pegawai toko saya tanya mengenai kemacetan di Jakarta, jawab dia "Tokh saya bukan orang Jakarta, buat apa saya mikirin kemacetan di Jakarta. Itu tanggung jawab orang Jakarta."

Mendengar begitu, saya jadi sedikit kesal. Toh mereka ke Jakarta hanya ingin memeras uang dari Kota ini tanpa bisa ikut perduli dengan situasi lingkungannya. Wah lihat saja kalau lagi Lebaran, betapa sepinya Jakarta. Itu menunjukan berapa banyak pendatang yang datang ke Jakarta.

Saya hanya bisa mengatakan tolong loh, anda ini pendatang dan sudah menggunakan berbagai Fasilitas yang ada di Jakarta, sudah diberi kesempatan untuk bekerja dan mencari nafkah. Sudah saatnya memberikan sesuatu kepada Kota Jakarta ini. Mungkin bisa dimulai dengan peduli dengan kota Jakarta. Misalnya anda Supir Bus, ya tolong jangan berhenti sembarangan dan menyelip kanan kiri tidak karuan. Kalau anda Tukang Parkir, ya tolong jaga juga kerapihan kendaraan di Jakarta, jangan hanya mau noceng saja tanpa menjaga kerapihan tempat parkir. Kalau anda penjaga toko, ya Sopan lah dengan pembeli, jangan menimbulkan suasana yang tidak enak. Walaupun itu bukan toko anda, toh nafkah anda berasal dari toko tsb.

Jangan hanya memikirikan Jakarta sebagai tempat mencari nafkah, sudah saatnya anda para pendatang memberikan kembali kepada Jakarta yang sudah banyak memberikan banyak kesempatan yang luas.

Ronald B
Jakarta Pusat


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 5 komentar


  1. P.Jonathan | Rabu, 22 Agustus 2007

    To Mr Ronald...inilah peliknya bila sebuah kota dinamakan metropolitan,selalu bermasalah,gambaran saya sebaiknya Jakarta itu hanya sebagai ibukota saja tapi bukan metropolitan,artinya pemerintahannya dipindah kekota lain segala bentuk departemen kementrian,kedutaan, dipindah kekota lain,seperti misalnya amsterdam ibukota belanda tapi kota pemerintahannya di Den Haag atau misalnya Ankara ibukota Turki tapi kota metropolitannya Istanbul,begitulah kira kira

  2. alfa | Pesan | Rabu, 22 Agustus 2007

    yup...setuju sekali...

    krn ga ada sense of belongin' jd begini lha jakarta adanya,istilah nya numpang cr duit makan tidur aja...coba klo merasa memiliki,buang sampah sembarangan sembarangan jg pasti ga mau...

    mana ada org yg mau kotorin rumah sendiri...apa ada org yg mau bikin rumah nya sendiri berantakan??(selain org tak waras tentu nya)....

    TANYA KENAPA??

  3. lqchss | Kamis, 23 Agustus 2007

    ini sih semua masalah mental orangnya, bukan dari orang jakarta atau bukan jakarta,........dan tergantung dari pandangan dan wawasan masing masing.........buat di negara maju, dan berkembang/terbelakang kata kata politikus "apa yg telah kamu berikan pada negara, jangan berpikir apa yg telah diberikan negara pada kamu".....itu sih berlaku kalau negara udah maju dan negara sudah banyak memberi kenikmatan/fasilitas (hidup nyaman, tidak stres, ramah lingkungan, fasilitas kota berlimpah dan tidak susah seperti air minum, listrik, dan angkutan kota yg mewah seperti subway), tapi kalau di negari berkembang/terbelakang walaupun di kobarkan kata kata/doktrin di atas, itu tidak akan berjalan, karena di negara berkembang semua serba minim dan susah, dan rakyatnya hanya berpikir apa yg telah negara berikan kepada kita dan bukan apa yg telah kita berikan pada negara.......itulah reality hidup,.....makanya perbaiki tuh kesejahteraan dan fasilitas hidup, agar nanti pendatang akan berpikir sama dengan anda........Di negara maju aja kebanyakan kota di bangun oleh kaum pendatang, contoh Amerika yg sampai saat ini masih menerima orang orang pintar dari seluruh dunia dengan program green cardnya.......tidak seperti Jakarta yg ketakutan dengan pendatang.......dari negara sendiri........semoga informasi ini bisa memberi tambahan wawasan...........dan kita bisa bisa membangun jakarta dan daerah daerah lainnya seperti di negara negara maju............dengan tingkat kesejahteraan dan fasilitas yg mewah.............

  4. Johnny Antonius | Pesan | Selasa, 13 November 2007

    sebenarnya memang bukan masalah pendatang atau bukan,yg pasti sbg tuan rumah harusnya bertindak arif dan tegas dan menyikapi segala tuntutan dan masalah yg ada sebagai ibukota negara dan sebagai kota metropolitan....

    bgmn bisa dipandang apalg dipatuhi,lah pemimpinnya aja kyk gitu...

    yg paling mudah masalah pembangunan busway yg sdg marak dibicarakan dan didebatkan...

    saya sendiri heran,sebegitu byknya manusia2 pintar yg menjawab di pemerintahan,apa tidak ada yg belajar mana yg harus didahului sebelum melakukan sesuatu...jgn hanya pintar berteori dan berbicara...

    seperti yg saya tonton kmrn di acara cinta jakarta di indosiar,presenternya semua hanya bisa menyinggung dgn sangat halus dan tdk sampai di tujuan...saya mencoba berinteraktif akan ttp tidak tersambungkan...

    pdhl bapak2 yg dr pemerintahan itu jg tau, rencana apa yg yg akan dilakukan setelah pembangunan jalur busway selesai...diantaranya pembanguan park drive, penanaman pohon,pelebaran jalan dsb...

    yg saya ingin tanyakan knp kok tidak sarana pendukung busway yg didahului shg kemacetan yg semakin parah ini tdk terjadi,knp jalanan yg sdh sempit harus dicor u/ jalur busway dilakukan dahulu,bknya melebarkan jalannya terlebih dahulu atau membangun park drive di titik halte busway yg sdh ada shg para pengendara mobil pribadi bisa leluasa mengunakan busway utk aktifitas mereka...

    bener2 ini membuat saya sgt bingung dan marah...saya adlh warga kelahiran jakarta,bgmn kita mau menertibkan para pendatang kl internal kita saja msh tidak becus... knp selalu memikirkan permasalahn itu dr cakupan yg besar bkn dr yg kecil dahulu...

    kalau begini terus,sampai kapan pun tidak akan ada jalan keluarnya krn akar permasalahan itu terus akan berkembang menciptakan masalah2 baru...

  5. hikmah sanad | Pesan | Selasa, 04 Desember 2007

    smua tergantung pada manusia nya, sama halnya dengan kita hidup berkeluarga rumah milik sendiri tetapi dalam satu rumah tersebut pasti ada satu atau lebih yang tidak perduli dengan kerapihan rumahnya,kalau setiap manusia memiliki pemikiran yang sama pasti kita semua akan sulit bergerak,bayangkan kalau semua orang berfikir lewat jalan tol tidak macet pasti jalan tol akan macet.itulah kekuasaan tuhan kita diciptakan berbeda2 dari fisik tingkah laku, pemikiran dan berbeda dalam segala hal

    yang menjadi parah nya sekarang adalah orang yg perduli dengan lingkungan tidak sebanding dengan orang yang tidak perduli lingkungan. yang membersihkan 1 orang yang mengotori 10 orang,pada akhirnya yang satu orang akan kesal, cape dsb yang akhirnya membuat yang satu orang ini jadi ikut seperti yang 10 orang tadi.satu yang saya harapkan sebagai penduduk asli jakarta tercinta ini semoga kita semua akan menjadi orang yg perduli dengan kebersihan karena kebersihan adalah sebagian dari iman.amin.jakarta....oh....jakarta icon_frown

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya