LIHAT SEKITARMU! Gara-gara tidak mau membayar uang pelicin saat mendatangkan mesin, seorang investor dari luar negeri batal mendirikan pabrik pengolahan karet. Padahal ia sudah membeli gedung untuk pabrik, sudah merekrut tenaga kerja, dan sudah mendapatkan pesanan dari Timur Tengah. Alhasil, gedungnya sekarang mangkrak seperti rumah hantu, SDM yang sudah direkrut menjadi pengangguran lagi, dan pesanan tidak bisa dipenuhi. Investor yang bernama Erick itu pun bertekad untuk tidak lagi coba-coba menanam duit di Indonesia!
Uang pelicin, uang rokok, atau apa pun namanya, mereka tergolong dalam kategori grease money. Di Indonesia biasa disebut pungutan liar (Pungli). Kegiatan yang satu ini mengakibatkan rentetan permasalahan yang ujung-ujungnya mempersulit hidup orang banyak. Pungli bisa dimasukkan dalam biaya oleh para pengusaha, akibatnya harga barang menjadi mahal. Kalau harga barang mahal, kita juga yang susah. Belum lagi jika ngomongin hal yang lebih luas: Pungli bisa bikin perekoniman kita mandek!
JANGAN HANYA DIAM: LAWAN PUNGLI SEKARANG JUGA!
Buat orang-orang kreatif seperti Anda, gunakan kreatifitas untuk mengampanyekan anti pungli. Bikin iklan layanan masyarakat versi cetak tentang pungli sekreatif mungkin lalu kirimkan ke Harian Bisnis Indonesia. Peserta wajib membaca creative brief terlebih dulu di http://web.bisnis.com/GagasAwards
Karya Anda akan diseleksi oleh The Imago School of Modern Advertising untuk kemudian dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Ahmad Djauhar (Pemred Bisnis Indonesia), Budiman Hakim (Executive Creative Director MACS909), Gunawan Alif (Akademisi/Praktisi Periklanan), Narga S Habib (Executive Creative Director Caberawit), dan Noorca M Massardi (Pengamat sosial budaya/Novelis).
Lomba ini terbuka untuk umum dan mahasiswa. Tiga karya terbaik dari masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah uang tunai dan GAGAS AWARD. Khusus untuk kategori Mahasiswa, tersedia 2 (dua) beasiswa di The Imago School of Modern Advertising. Menurut rencana, seratus karya terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku.
So, jangan tunda lagi. Segera unduh creative brief dan informasi selengkapnya di http://web.bisnis.com/GagasAwards atau cukup kirim email kosong dengan subject INFO GAGAS AWARD ke gagas.award@bisnis.co.id
Gagas Award dipersembahkan oleh harian Bisnis Indonesia, dan didukung oleh IMAGO school of modern advertising dan www.bisnis.com
Thrio Haryanto
Bisnis Indonesia
gimana mau ngeberantas pungli kalau nga ada tekad sih???? pungli sudah berakar kemana mana......dan selain tekad untuk menghilangkan pungli juga harus ada kesadaran dan perubahan pola pikir dimana selama ini pola pikirnya asal aku senang (egois)........selama tidak ada rasa empati dan pola pikir yg hanya memikirkan diri sendiri inilah yg harus dirubah.......entah kapan hal ini bisa direalisasikan......semoga dengan adanya himbauan untuk memerangi pungli dengan melibatkan masyarakat luas, pungli benar benar bisa diminimalisir........yg jelas pemerintah dan masyarakat harus sadar bahwa uang yg didapat secara paksa (pungli/aji mumpung) tidak memberi manfaat untuk masyarakat banyak dan hanya menguntungkan pribadi (oknum pejabat) untuk jangka pendek saja..... Dengan tekad memerangi pungli dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan juga nantinya masyarakat akan termotivasi untuk bekerja keras dan tidak mengharapkan uang gampangan dari hasil paksaan/meminta minta (mental penjahat/pengemis)......marilah kita bekerja keras untuk kemajuan masyarakat dan bangsa.......semoga saja dimasa depan ada perubahan keadaan dan situasi dari masyarakat yg sakit (banyak pungli) menjadi masyarakat yg sehat (pungli minimal dan masyarakat yg bekerja keras)......semoga saja
bayak orang yang tidak tahu (termasuk oknum pemungut pungli), tindakan mereka dapat mengakibatkan rentetan permasalahan yang ujung-ujungnya mempersulit hidup orang banyak. untuk itu perlu sosialisasi dari dampak pungli itu sendiri, dan buat lembaga yang menampung aspirasi atau pengaduan ini, serta tindakannya.
saya optimis dengan sosialisasi dan tindakan terhadap oknum akan memperkecil ruang lingkup dan menjadikan kesadaran kita semua.
dan bagi kita semua jangan memasyarakatkan pungki yaitu dengan cara jangan memberi uang dan kita jangan ambil jalan pintas untuk mengurus segala sesuatu.
karna percuma kita gembor2kan anti korupsi, anti pungli atau yang lainnya, tetapi kita tidak berusaha untuk merubahnya.
Selayaknya kita mulai dari dalam diri kita sendiri dulu. Jangan sampai kita berkoar-koar brantas pungli... ; tapi begitu kita mau bikin KTP/SIM/surat2 penting lainnya, kita gak mau repot2 alias main jalan cepet aja, bayar sekian... beres. Gak bener itu.
So... mari kita bertekad melawan pungli dan mulailah dari diri kita sendiri. Setelah kita mampu mengendalikan diri sendiri, mari teruskan perjuangan melawan pungli ini ketingkat yang lebih jauh lagi.
pada bulan 25/ 05/ 2007 saat saya bikin SIM di Sragen, banyak sekali tawawaran uang pelicin supaya SIM saya jadi satu hari, padahal kartu asuransi saya: 305/ c/ V/ 07 sudah jadi. PUNGLI terjadi mulai saat periksa kesehatan ( kir doter ), sidik jari. biaya pembuatan SIM Rp. 75. 000,- tapi untuk paket jadi Rp. 230. 000,-. Saya sudah dua kali ikut tes SIM ( ketangkasan menaiki kendaraan bermotor ) bukan ketangkasan/ kepatuhan terhadap peraturan rambu-rambu Lantas dalam berkendara. Disini dapat kita lihat bahwa sebenarnya sistem yang di bangun oleh Pemerintah dan sosialisasinya saya kira sudah tepat TAPI sekali lagi OKNUM APARATUR NEGARA yang menyimpangkan sistem itu sendiri dan ironisnya masyarakat* (*yang gak mau ribet) ikut secara tidak langsung meng- IYA kan sistem ganda tersebut. Kita sebagai warga Negara yang baik n kreatif, mari kita kampanyekan STOP PUNGLI sekarang juga... say NO to PUNGLI !!!
Pungli itu... akronim dari "mumpung ngga liat". Jadi kunci utamanya adalah pengawasan juga ketegasan sang pengawas (dalam hal ini pemerintah). Kalau pemerintahnya hanya "basa-basi" yah sudah pasti hasilnya juga 'basa-basi". Kalau aparatnya "basa-basi" yah pasti pelakunya makin berani. Kalau perbaikan "moral" saya rasa terlalu lama ! Jadi kuncinya ya, itu .... pengawasan yang ketat termasuk masyarakatnya serta ketegasan pemerintah untuk memberantasnya ....
memang pungli secara tidak langsung merugikan orang lain,
tapi Indonesia gitu lhoo, mau mikirin diri sendiri aja susah, mana ada waktu mikirin orang lain, boro-boro mikirin negaranya maju, nanti dulu la yaw..
Nah inilah uniknya Indonesia....mau beres...bayar,mau cepat...bayar...
gimana mau ilangin pungli di indonesia kalo cuma pake poster ?? heheheheehheheh
musti nya di buat lomba sistem ANTI PUNGLI
Menghapus pungli seperti mengurai benang kusut. Misalnya saya gajinya Rp. 5. juta (ini merupakan gaji PNS golongan tinggi lho), anak 5 orang mau masuk SMP, SMU, Perg.Tinggi dan ada yang kuliah .Untuk mendaftar anak sekolah ini perlu beaya yang tidak kecil lho. Padahal jabatan saya "basah" ya untuk menutup beaya saya cari tambahan dari memberi "fasilitas" . Akhirnya keenakan semakin keterusan sehingga saya PNS yang gajinya Rp. 5.- juta dapat menyekolahkan seluruh anak saya ke Luar negeri tanpa bea siswa (maklum anak anak hanya setengah pinter !!) . Hebat yaaaaaaa
Selamat anda tinggal di negri indah, sejahtera gemah ripah, masyarakatnya ramah dan murah senyum yang bernama INDONESIA
Ya saya berani melawan pungli namun saya takut digebukin preman parkir liar dan saya gak ada waktu menunggu satu hari dan beberapa hari ke depan untuk mengulang tes praktek yang luar biasa sulit untuk membuat SIM(anak saya mau makan apa?).