Saya mau memasang saluran air atau PDAM di Sidoarjo, tepatnya di Jl. Jatisari Indah I/17 Sidoarjo. Rumah tersebut kalau jaman orang sekarang katanya type 54/130 alias luas tanah hanya 130M2 dengan bangunan 1 kamar tidur, dapur dan 1 kamar mandi.
Rumah tersebut di gang buntu alias ngak ada jalan tembusnya alias rumah ujung dan buntu. Ada tetangga kanan dan depan, meraka sudah ada saluran PDAM dan saya pun ingin memasang juga saluran PDAM dirumah saya tersebut karena mau disewakan dan sudah ada penyewanya dengan uang sewa sebesar 5 juta/th.
Sewaktu saya ajukan permohonan PDAM dikatakan biaya pemasangan Rp. 1,1 juta++. ++ disini artinya bila diperlukan tambahan pipa harus bayar sendiri, tunggu disurvei. Setelah mennunggu 3 hari saya dihubungi dan dikenakan biaya Rp. 21.450.000 untuk pemasangan baru, karena PDAM Sidoarjo harus menarik pipa baru dari jalan raya yang jaraknya 165M dan harus memperbaiki lagi jalan yang rusak akibat galian dan biaya lain-lain.
Terus terang saya keberatan. kenapa tidak langsung pakai pipa PDAM yang ada saja (saluran yang mengalir ke tetangga depan atau samping kanan saya?). Saya komplain, diterima Humas PDAM Delta, Bpk. Gatot dan dianjurkan untuk pemasangan kolektif supaya lebih murah.
Kolektif sama siapa? ini rumah jalan buntu, tetangga sudah pada ada saluran PDAM. Ini Humas bodoh sekali, asal bicara.
PDAM Delta sudah melanggar hak warga negara berdasarkan UUD1945 Pasal 33 ayat 3 " Bahwa bumi dan air digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia"
Ini rakyak tidak mampu untuk menggunakan air bersih, jangankan yang di jalan atau gang buntu. Orang Jakarta saja yang termasuk kota besar pasti merasa Rp. 21.450.000 itu mahal sekali untuk pemasangan PDAM. Lain lagi kalau biaya tersebut untuk 1 komplek real estate. Ini perorangan Pak Direktur PDAM, 1 rumah yang terletak di desa, tetangga sudah ada saluran PDAM, bukan rumah di tengah hutan yang perlu biaya pemasangan pipa sampai puluhan juta.
Ivan Chisanto
Jl. Raya Menganti 411 Wiyung
Surabaya
@Pak Ivan..jadi gregetan denger Humas kayak maling begitu..Rp 21.450.000 itu sama dengan Euro 1510,36(kurs 1 Euro=Rp 14.200)jumlah itu di Belanda untuk biaya penyambungan +langganan air selama 1,5 tahun dan mendapatkan air yang langsung bisa diminum dari water kraan tanpa dimasak lagi dan anda mendapatkannya kapan saja dan jam berapa saja nggak digilir seperti di indonesia pada umumnya.Kesimpulannya pak Ivan,anda dipalak sama PDAM,masa sih jauh lebih mahal di Indonesia daripada di UE.
Saya beri advice pak...keluarkan biaya tidak sebanyak itu untuk buat sumur bor,tapi yang dalam(kurang lebih 26 m)terus beli jetpump Sanyo atau Hitachi yang 250 watt,kalau yang murah bisa ambil merk Shimizu...beres pak anda dapat air lebih bersih dari PDAM yang banyak pencurinya itu,ini pengalaman saya bbrp bulan y.l buat sumur bor untuk ibu saya di bandung...semoga sukses dan salam saya dari Amsterdam
Saya aja merinding dengernya..! lain cerita kalau Pak Ivan rumahnya cuma sendirian n ga' ada tetangga dikiri kanan atas bawahnya n jarak terjauh dari pipa terdekat 2000meter baru "mungkin" layaklah...!
Pake' lebih 1.450.000,- segala' seolah-olah memang segitu biayanya..!
wah.. wah... memang budaya maling dan korupsi sudah mengakar bahkan sampai kelevel PDAM.
RUARR BIASA korupnya PDAM ini sampai ga bisa ngitung Rp. 21.450.000,- itu bisa beli rumah disidoarjo.
Daku hanya bisa komentar...daripada beli itu pipa seharga gak jelas dan nanti masi kena tetek bengek lainnya..mending beli aja air dari abang2 penjual aer untuk MCK dan air mineral galon untuk memasak dan minum..emang sih hasilnya akan lebih mahal biayanya...tapi kalo udah digetok 21 juta..gelo aja tuh PDAM!!
Atau cara kedua si pake model opa Jon ajah, gali sumur trus pake pompa aer...paling nanti cuman dipalakin berapa dengan alasan sumur bor itu kena pajak.. :)
Semoga cepet selesai pak Ivan masalahnya...