MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

Kritik untuk Super Seleb Show Indosiar
Dikirim tanggal: Jumat, 20 Juni 2008

Saya sebagai penonton setia Indosiar, terutama acara superseleb show,ingin memberi opini bagi acara superseleb show ini agar durasinya di persingkat,mungkin dengan dipersingkatnya waktu dapat membuat penonton tidak terlalu jenuh dengan acara itu.

Dan juga dapat menghemat biayaya siaran langsung dalam seharinya. Mungkin hanya itu saja terimakasih.

Adlyn
Jl.Antawangi no.6
Bandung


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 13 komentar


  1. tomi.b | Pesan | Rabu, 25 Juni 2008

    Menurut saya acara semacam itu mendingan dihapus. Sama sekali tidak mendatangkan manfaat, kalopun ada tak sebanding dengan dampak buruk yang diakibatkan. misalnya budaya hura2 dan membuang2 waktu.

    Pada kondisi sebagian bangsa ini kelaparan dan ga mampu hidup layak sepertinya tak pantas jika budaya hura2 tersebut dijadikan acuan.

  2. rocknrio | Pesan | Rabu, 02 Juli 2008

    yupp, saya setuju dg Tomi, icon_wink

    acara ini harus segera dihapusssss... icon_wink

    gak ada nilai-nilai positif yang bisa kita dapatkan dari acara murahan seperti selebshow bla bla lahhh.. icon_razz icon_lol

    acaranya sangat :

    TIDAK MENDIDIK icon_confused

    TIDAK PUNYA RASA SOPAN icon_eek

    TIDAK BERBOBOT icon_lol

    ada apa dengan bangsa ini? icon_confused

  3. P.N Jonathan | Pesan | Rabu, 02 Juli 2008

    Selain itu pembawa acaranya juga norak icon_mad

  4. Thomas | Pesan | Rabu, 02 Juli 2008

    Menggalakan Homo dan meng-homo kan rakyat Indonesia, sudah saatnya banci-banci rombeng di TV kita dikendalikan icon_redface icon_redface icon_redface icon_redface icon_redface

  5. rocknrio | Pesan | Kamis, 03 Juli 2008

    huahuaa..*nglirik komen mas @Thomas

    eke setubu mas icon_razz bcanda,,ini dah bener2 kelewatan,banci kok dijadiin presenter??? icon_eek ini mah gk usah dikendailiin, tapi dikandangin trus di iket, mahluk seperti ini sekali gigit racunnya bisa kemana2 Bahaya!! icon_eek

  6. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 03 Juli 2008

    Tunggu dulu,yang namanya homo sama banci(travestiet)itu lain,homo itu karena jiwanya menyenangi kawan jenisnya,penyebabnya banyak hal salah satunya kelainan jiwa yang lebih cenderung mencintai sesama jenis,ini bukan terjadi pada pria saja tapi juga pada wanita yang mencintai wanita juga.....Sedangkan banci(travestiet)itu mereka belum tentu homo,bisa juga hanya karena menyukai cara berpakaian wanita dan mencari perhatian dengan jalan menjadi perempuan jadi jadian.Yang parah dan sakit jiwa yang keras bila seorang banci tapi dia homo juga...maka jadilah seperti yang anda lihat di Tv indonesia ...orang seperti ini harus menjalani terapi icon_cool

  7. marsuni | Pesan | Kamis, 03 Juli 2008

    Sedangkan banci(travestiet)itu mereka belum tentu homo,bisa juga hanya karena menyukai cara berpakaian wanita dan mencari perhatian dengan jalan menjadi perempuan jadi jadian.Yang parah dan sakit jiwa yang keras bila seorang banci tapi dia homo juga...maka jadilah seperti yang anda lihat di Tv indonesia ...orang seperti ini harus menjalani terapi icon_cool

    kalau saya lihat si I.G lebih ke yang diatas itu kecendrungannya..! 89.9% sama icon_razz

    Tapi anehnya, penonton indonesia banyak yang doyan nonton tuh si I.G. icon_eek icon_eek icon_eek icon_eek icon_eek

  8. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 03 Juli 2008

    kalau hanya melihat seseorang dari televisi saja belum bisa mengatakan "Cenderung seperti itu..89.9%sama"misalnya orang yang pura pura gila karena hanya untuk cari perhatian belum tentu dia gila...semuanya itu memerlukan observatie untuk menentukan dan mendiagnose apakah seseorang ada kelainan pada jiwanya atau tidak.

    Kalau penonton Indonesia banyak yang menyukai acara tersebut,karena acara tersebut ringan,mudah dicerna,gampang diikuti...nah seperti inilah yang dicari oleh produsen TV,karena produsen memerlukan incoming yang besar jadi segala apapun asal pemirsa senang dia bikin dan produsen tdk memikirkan dampaknya apa untuk masyarakat,mau bermanfaat atau tidak mereka tidak memikirkan sejauh itu.....Ada nggak sih dinas sensor di Indonesia?

  9. ika | Pesan | Sabtu, 19 Juli 2008

    acara pembodohan banget.. lama banget..pernah iseng nyalain tv jam setengah 1..eh belum selesai juga.. gila betul.. itu penonton dibayar berapa ya, kok mau-maunya duduk selama itu

  10. ius | Pesan | Minggu, 20 Juli 2008

    @Ika

    setahu saya menurut seorang teman saya, para juri votelock di bayar Rp 100.000 Plus Mkn malam (hokben) + snack

  11. P.N Jonathan | Pesan | Minggu, 20 Juli 2008

    @No7.. susah ya mau ngajarin beo icon_lol icon_lol

  12. The Saint | Pesan | Senin, 29 September 2008

    Komentar #4 terlalu kasar! Terkesan homophobia! Gay dan banci itu beda, bung!!! icon_redface

    Gay adalah pria yg suka sesama pria tapi tetap puas memiliki badan pria dan tetap tampil maskulin. COba deh buka situs gay porn, kamu gak bakal menemukan pria banci di situ. Smeua ganteng2. Semua berotot. Pria hetero saja kalah...

    Banci adalah pria yg merasa SALAH BADAN. Selalu merasa jiwanya adalah wanita yg terperangkap badan pria. Setahuku, semua banci menyukai pria karena mereka menganggap dirinya wanita maka 'wajar' jika mereka mencintai pria. Jarang deh ada banci yg punya pacar cewek. Itu mah 'lesbian' namanya icon_rolleyes

    Sebagai gay, saya merasa tersinggung! icon_redface Apalagi kata 'homo' terkesan KASAR sekali. Setara dengan kata 'Cina' untuk menjelekkan kaum Chinese Indonesia icon_redface

  13. sendy | Pesan | Senin, 20 Oktober 2008

    Dan juga dapat menghemat biayaya siaran langsung dalam seharinya. Mungkin hanya itu saja terimakasih.

    semakin panjang durasinya indosiar semakin untung.. icon_wink tujuan acara ini kn meraup keuntungan sebanyak2nya dri sponsor yg masuk (habis manis sepah dibuang) makanya buru2 digeber sblm penonton bosen.

    kdng2 tayangan yg berkualitas tdk mendatangkan keuntungan, dri sudut pndng saya indosiar hanya ingin nyari duit tanpa mempedulikan dampak thdp pemirsany.

    kasihan indosiar... lebih kasian lg yg nonton...

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya