MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

BBM Naik, Lalu Apa?
Dikirim tanggal: Sabtu, 17 Mei 2008

Wacana seru kenaikan harga BBM sebenarnya sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, bahkan sudah sejak menjelang kejatuhan Suharto di tahun 1998 lalu. Kini pemerintah SBY-JK mengumumkan akan menaikkan harga BBM pada bulan Juni 2008. Gonjang-ganjing kenaikan harga BBM atau dikuranginya subsidi BBM oleh pemerintah barangkali menggambarkan carut-marutnya pengelolaan negeri ini, meskipun katanya negeri ini sudah direformasi.

Contoh pahit akibat dari kenaikan BBM sudah kita alami pada akhir jaman Suharto dulu. Kenaikan BBM menjadi salah satu faktor yang menentukan dan mempengaruhi faktor lainnya dalam kekacauan yang mengiringi jatuhnya Suharto. Begitu juga ketika pemerintahan Gus Dur menaikkan BBM pada tahun 2001. Kenaikan BBM sering disederhanakan menjadi soal populer atau tidak populer sebuah pemerintahan sehingga sering digunakan oleh mereka yang mendukung kekuasaan sebagai justifikasi. Padahal kenaikan BBM seharusnya bisa dilihat penguasa sebagai kesempatan untuk menunjukkan tanggungjawab mereka pada negeri ini sekarang dan di masa depan.

Meski sudah lebih dari 10 tahun wacana seru kenaikan BBM berlangsung, tetapi rencana menaikkan BBM saat ini masih tetap menimbulkan gonjang-ganjing, kebingungan, kepanikan, keputusasaan, kemarahan, di semua lapisan masyarakat dan yang mungkin akan bermuara pada kekacauan lagi.

Di berbagai media, sudah banyak macam-macam ahli atau ekonom yang menyatakan pendapatnya mengenai kenaikan BBM. Nampaknya lebih banyak ekonom yang menyatakan BBM harus naik. Sekedar mengambil contoh, Faisal Basri adalah seorang yang setuju BBM harus naik. Sementara itu Rizal Ramli malah tidak setuju, meski di tahun 2001 lalu ketika ia menjadi menko perekonomian di pemerintahan Gus Dur, ia menaikkan BBM. Pendapat manakah yang benar? Bagaimanakan mengukur mana yang lebih sahih, sehingga layak dijadikan patokan? Saya tidak tahu, begitu juga masyarakat, karena bukan ahli atau ekonom. Apalagi sering juga wacana-wacana seperti itu ditunggangi kepentingan politik. Saya hanya tukang potret situasi saja. Tetapi saya mengira, dua-duanya memang benar, sehingga istilah yang dulu populer dikenakan pada Suharto ketika menaikkan BBM, yaitu “maju kena, mundur kena” juga cocok dikenakan pada SBY-JK yang meski di tahun 2005 lalu juga sudah menaikkan BBM, tetapi dapat selamat dari gonjang-ganjing.

Rakyat kurang mampu untuk mengukur kebijakan mana yang mana yang lebih sahih untuk diambil. Namun rakyat bisa merasakan di tiap keputusan yang diambil, apakah pemerintah peduli pada rakyat. Adakah strategi pro rakyat yang mengiringi ketika kebijakan menaikkan BBM ini diambil?

Beberapa argumen dari Rizal Ramli yang menolak kenaikan BBM sesungguhnya bisa digunakan SBY-JK untuk menjadi sebuah strategi yang mengiringi kebijakan kenaikan BBM supaya bisa menjadi kebijakan pro rakyat (http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=876). Tanpa strategi ini, pemerintah SBY-JK akan terkesan tidak mau bekerja keras dan tentu saja tidak pro rakyat sebagaimana sudah dituduhkan sejak ingkar janji kampanye pemilu pada tahun 2005 untuk tidak akan menaikkan BBM.

Pemerintah harus serius menunjukkan pada rakyat langkah-langkah yang pro rakyat, seperti memberantas korupsi. Jangan lagi mengeluarkan pernyataan kontra-produktif seperti yang baru-baru ini SBY lontarkan terhadap cara kerja KPK yang baru saja menangkap basah seorang tersangka yang anggota DPR, Al-Amin Nasution dengan uang suap di tangannya. SBY mengkritik cara yang dilakukan KPK agar jangan menjebak katanya. Kritik ini sungguh kontra-produktif dengan gerakan pemberantasan korupsi yang cukup gencar dilakukan. Kritik ini membingungkan semua orang, mengapa menjebak seorang koruptor dinilai salah oleh SBY. Seorang yang bersih, tentu tidak dapat dijebak. Hanya koruptor yang bisa dijebak. Lagipula apakah Al-Amin dijebak? Tentu bukan, karena Al-Amin dikuntit berbulan-bulan lamanya. Sehingga muncul pertanyaan, apakah SBY tidak serius memberantas korupsi? Padahal pemberantasan korupsi hampir mencapai sarang koruptor di masa ini, yaitu gedung DPR. Barangkali dengan diobrak-abriknya sarang koruptor di Senayan ini upaya pengembalian dana BLBI yang Ratusan Trilyun Rupiah bisa lebih lancar. Bahkan definisi korupsi mungkin perlu diperluas menjadi termasuk tidak kompeten dalam bekerja, sehingga pengelola kota-kota besar seperti gubernur Jakarta perlu dijerat hukuman ketika tidak becus mengelola infrastruktur jalan yang selalu rusak atau tidak becus menyediakan transportasi umum di ibukota negara. Harusnya mereka tahu, kondisi jalan yang hancur dan tidak tersedianya transportasi umum yang layak di kota-kota besar bisa mengakibatkan kemacetan lalu-lintas yang memboroskan BBM yang amat besar sehingga milyaran rupiah terbuang percuma setiap harinya di seantero Jabodetabek.

Langkah-langkah pro rakyat lainnya adalah mereformasi tata niaga migas dan menghapuskan mafia impor migas. Juga mengumumkan kepada rakyat secara terbuka tentang data produksi Pertamina yang selama ini simpang siur alias misterius.

Jika subsidi BBM dikurangi, maka seharusnya pemerintah juga mengurangi subsidi untuk bank rekapitalisasi sebesar Rp.30 Trilyun, bagaimana pun caranya. Karena rekapitalisasi hanya dinikmati oleh orang-orang yang super kaya. Pemerintah juga harus berusaha untuk melakukan restrukturisasi utang luar negeri agar tidak menjadi beban terbesar APBN.

Juga harus melakukan efisiensi di semua sektor kegiatan, bahkan membuat protokol hemat energi. Lakukan efisiensi anggaran kementerian atau lembaga negara, serta BUMN seperti PLN hingga sekian puluh persen. Jangan lagi ada cara berpakaian para pejabat penyelenggara negara yang ditempeli benda-benda amat tidak penting seperti lencana mengkilat keemasan atau atribut-atribut mirip kepangkatan seperti di militer. Entah siapa yang memiliki ide konyol ***** seperti itu untuk mendandani para pejabat penyelenggara negara hingga seperti badut itu. Penghematan ini mungkin bisa menutup defisit APBN hingga puluhan Trilyun Rupiah.

Pemerintah juga harus aktif mengupayakan sumber-sumber energi alternatif. Bukan hanya NATO, no action talk only. Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) harus menjadi program utama bukan iseng-iseng. Jangan cuma menghambur-hamburkan uang untuk sebuah konferensi perubahan iklim di Bali pada akhir tahun 2007 lalu. Seharusnya konferensi itu bisa menginspirasikan kita untuk membuat protokol sendiri untuk bangsa ini dalam melakukan penghematan energi dan dan mencegah global warming. Sayangnya setelah konferensi itu pemerintah hanya tidur. Tidak ada program yang nyata untuk konversi BBM ke BBG, padahal BBG kita melimpah dibanding BBM. Ada tersedia BBG untuk 40 tahun dibanding BBM yang cuma 10 tahun menurut John S. Karamoy, Direktur Indonesian Petroleum Association, Indonesian Gas Association dan president director PT. Medco Energy International (http://www.indomedia.com/bpost/092000/24/serba/serba.htm). Bahkan hingga menjelang subsidi BBM akan dicabut pun penggunaan BBG untuk kendaraan tetap tidak digalakkan. Konferensi itu nyaris tidak berbeda dengan kumpul-kumpul selebritis supaya mendapat coverage dari media cetak dan elektronik. Tidak lebih. Padahal seorang teknisi mesin industri di kota Bekasi baru-baru ini telah berhasil merubah mesin sepeda motornya yang semula mengkonsumsi bahar bakan bensin menjadi mengkonsumsi gas elpiji dengan menggunakan tabung kecil yang biasa digunakan di rumah tangga.

Pemerintah juga harus menjelaskan rencananya tentang dana subsidi BBM yang dicabut itu akan dialokasikan kemana. Apakah dana subsidi BBM yang menjadi sebesar 200 Trilyun Rupiah itu (karena kenaikkan harga minyak dunia) akan digunakan untuk membangun lapangan kerja? Untuk pendidikan? Untuk kesehatan? Untuk infrastruktur yang selalu hancur? Atau sebagian akan menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin, meskipun pelaksanaannya amburadul di tahun-tahun yang lalu? Memangnya berapa juta masyarakat miskin di Indonesia? Tidak jelas! Karena datanya belum lagi diperbaharui. Soal-soal seperti ini tidak akan jelas atau kabur dan membingungkan di masyarakat, kecuali pemerintah memang sungguh-sungguh mau membuat masyarakat menjadi jelas.

Sayangnya, meski tinggal hitungan minggu atau hari lagi menuju kenaikan BBM, pemerintah hingga saat ini belum mengumumkan kepada rakyat mengenai strategi mereka yang jelas dan gamblang atau meyakinkan dalam mengurangi atau bahkan mengatasi dampak dari kenaikan BBM ini. Memang pemerintah sudah mengumumkan secara singkat saja pada 14 Mei lalu (http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/05/14/3062.html), tentang upaya pemerintah sejauh ini untuk mengatasi dampak kenaikan harga minyak dunia. Banyak yang bisa diperdebatkan dari argumen-argumen yang digunakan pemerintah dalam pengumuman itu. Bahkan Sejauh ini pemerintah hanya mengatakan bahwa hal-hal normatif semacam ini: “kenaikan BBM tidak terhindarkan lagi untuk menyelamatkan APBN dan negeri ini”. Padahal tentu rakyat tidak mengerti tentang berapa dan bagaimana hitungan APBN, apalagi mengapa APBN harus diselamatkan. Rakyat tentu tidak mengerti, bahwa sebenarnya ada pengeluaran negara yang lebih besar dan lebih mencekik rakyat di negeri ini selain untuk pengeluraran untuk subsidi BBM yaitu utang luar negeri yang disebabkan oleh dirampoknya dana BLBI oleh konglomerat hitam. Pembayaran hutang negara ini hampir separuh dari APBN.

Rakyat hanya bisa mengerti hal-hal sederhana yang mereka hadapi sehari-hari. Misalnya bagaimana mereka membeli sembako setelah kenaikan BBM? Bagaimana membayar listrik? Bagaimana membayar biaya transportasi? Apakah perusahaan tempat mereka bekerja sekarang akan dapat bertahan dan menaikkan gaji mereka? Atau apakah usaha jasa atau dagang yang sedang mereka jalan bisa terus hidup? Bagaimana membiayai kesehatan? Juga bagaimana membiayai pendidikan bagi anak-anak. Bukankah biaya sekolah bukan hanya yang dibayar setiap bulan tetapi juga termasuk buku, alat tulis, biaya dan alat-alat praktek, biaya wisata belajar, hingga ongkos transportasi ke sekolah dan pulang, atau makan dan minum yang menyehatkan, bahkan juga biaya bersosialisasi dengan teman-teman sekolah. Biaya-biaya ini diperlukan seorang siswa sekolah dari SD hingga SMA sekedar agar berjalan normal ketika BBM dinaikkan. Apakah itu masih akan berjalan seperti biasa? Atau akan mencekik mereka?

Mari kita lihat dalam hitungan hari-hari mendatang, apakah kita telah memilih manusia yang berakal budi atau hanya memilih baboon dalam pemilu 2004 lalu.

Jojo Rahardjo
*Pengamat masalah sosial


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 16 komentar


  1. Halim | Pesan | Sabtu, 17 Mei 2008

    Lalu apa lagi? PEMILU lho 2009 icon_lol icon_lol

    Kalau menurut saya Presiden dan Wakil Presiden mendatang juga bakal menghadapi hal yg sama, krn mendpt warisan masalah dari pemimpin terdahulu. Pemimpin yang sekarang juga begitu icon_biggrin icon_biggrin

    Mslh negara itu bknnya sgt gampang spt membalikkan telapak tangan. Tapi perlu tindakan ekstrim dan tegas dr Pemerintah, khususnya DPR dan MPR utk membuat UU yg lbh ekstrim dan kontroversial kepada semua pelaku KKN.

    Hukuman mati dan sita harta buat pelaku Korupsi, ini efek yg saya rasa bakal membuat mereka sgt jera.

    HAM seorg koruptor itu tdk sebanding dgn HAM semua Rakyat Indonesia. Jika mrk tdk memikirkan HAM semua rakyat Indonesia, ngapain pula kita mikirin HAM seorg koruptor itu?? icon_evil icon_evil

  2. P.N Jonathan | Pesan | Minggu, 18 Mei 2008

    BBM naik...ya lumrah aja lah,di Vietnam per liter bensin Rp 8000,- yang nota bene negara yang lebih parah dari Indonesia...di UE mau tahu kalau dirupiahkan? Rp22.000,-.....kalau bensin menjadi Rp 6000,- kan lumrah aja...soalnya kalau nggak harus berapa pemerintah mensubsidi bahan bakar...kan lebih baik mensubsidi yang lain,lagian sapa tahu dengan naiknya BBM jadi kendaraan pribadi berkurang dijalan raya icon_cool

  3. Halim | Pesan | Minggu, 18 Mei 2008

    Aduh2 bentar2, saya keluarin kalkulator dolo.

    BBM, pemberlakuan tarif listrik subsidi dan non subsidi. Kalkulator mode on: bagi, kali, tambah, kurang, pangkat, kuadrat.....

    Hasilnya berantakan.... dgn perberlakuan tarif listrik dan non subsidi, jelas anggaran msg2 departemen akan bertambah/berkurang... itu bagaiman cara pemerintah membatasinya? menambah anggaran departemen msg2 atau anggarannya tetap sama? Kalau di tambah... ya berarti duit utk subsidi minyak menjadi uang subsidi departemen2 pemerintah utk byr uang listrik lha ya? icon_lol icon_lol

  4. Johnny Antonius | Pesan | Minggu, 18 Mei 2008

    saya sih gak tll pusing soal bbm naik jadi 6rb,yg saya pusing kl dibatasi pemakaiannya dgn alasan memperkecil subsidi..apa gak lbh baik lgsg tidak usah disubsidi aja semua,jadi biarn bisa bareng naik semua drpd tanggung2...

    bayangin aja kl kudu 1hr 5lt doang sisanya kudu pertamax yg notabene kl bbm naik 6rb pertamax jg minimal 10rb kale...

    pemerintahnya pengecut sih...kl berani lgsg aja gak usah kasi subsidi lg termasuk minyak tanah biar semua bisa balance,dan tidak ada lg perbedaan antara industri dan perumahan...paling kudu nunggu beberapa bulan utk menyeimbangkan neraca perekonomian...kl yg anti/pro sekarang2 ini gak perlu tll di dengar krn memang kebanyakan bermuatan politik semua...

    kl sampai SBY-JK brani menaikan harga bbm berarti memang mereka sdh siap utk tidak terpilih lg di pemilu 2009...pilih politi atau negara????

    tanya kenapa????? icon_lol icon_lol icon_lol

  5. Tommie Draven | Pesan | Minggu, 18 Mei 2008

    Saya sich tidak bermasalah dg bbm u saat ini, krn macan si gua ilang minggu kemaren hiks ....

    tp terlepas dr itu, yg saya sesalkan adalah:

    BBM tuh banyak di hambur2kan gak jelas, duitnya pun banyak nguap. Kl korupsi besar2 an sich dah gak aneh. Tp ya kok korupsi yg kecil2an n jelas di depan mata kok di biarin. contoh : Mobil pemerintah mo sipil kek, mo militer kek, kan bensinnya di bayar pemerintah, lha kok sering keliatan di mall di pake belanja or nganter anak sekolah ya ?? itu kan bensinnya pake duit rakyat.

    Kemaren di koran Anggota DPRD gak jd ikut rapat krn mobil dinas nya ditarik rental coz belon bayar. Lha, emang sekelas Anggota DPRD gak punya mobil sendiri ?? gak mampu bayar taksi?? Apa anda pikir anggota rapat yg lain dtg pake mobil dinas? gak pk ongkos sendiri?

    Mungkin nanti syarat2 untuk menjadi anggota DPRD yg pertama adalah:

    Harus mempunya kendaraan sendiri min motor dan sim

    jd kayak lamaran buat sales icon_lol icon_lol icon_lol

  6. rahasia | Pesan | Senin, 19 Mei 2008

    BBM harus naik ikut harga internasional agar masyarakat bisa hemat pemakaian BBM juga tidak ada penyelundupan. Pemakia terbesar BBM adalah kendaraan pribadi, di mana pemerintah men-subsidi orang kaya (di SPBU biasa kita liat mobil yg harganya ratusan juta isinya premium, apa nggak takut rusak ??)

    Untuk kendaraan umum pelat kuning) baru diberi subsidi, yang berarti tarif angkutan rakyat tidak naik.

    mungkin untuk truk juga diberi subsidi agar biaya angkut barng tidak naik yang pada akhirnya harga barang tidak naik juga..

    untuk pengawasan kendaraan umum dan truk bisa lebih efisien karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak... icon_biggrin

  7. Ndey | Pesan | Senin, 19 Mei 2008

    sah2 saja BBM naik.... setuju dgn bung Johnny, paling perlu beberapa bln untuk menstabilkan neraca. icon_cool

  8. Alvin Tobing | Pesan | Senin, 19 Mei 2008

    yang pasti, harus ada langkah konkrit dulu dari pemerintah, jangan cuman asal2an aja naikin harga BBM ato kasih subsidi tapi salah sasaran.

    Komentar lengkap dah saya kasih, tapi lom di muat oleh moderator. hiks hiks..

  9. P.N Jonathan | Pesan | Jumat, 23 Mei 2008

    @Bung Tommie...anggauta DPR bisanya berkelahi lalu ditayangin di Televisi atau bikin blue f*** diem diem atau study banding pura puranya ,atau yang lagi in..punya bini lebih dari satu dengan biaya uang rakyat...btw beneran nih macan antiknya ilang...turut sedih deh icon_smile

  10. marsuni | Pesan | Sabtu, 24 Mei 2008

    Anggap aj si Jojo Raharjo si pengamat lucu..!

    apapun yg dilakukan SBY, Itulah yg terbaik..!

    saya juga senang jika bbm ga' naik, namun jika dengan menaikkan bbm keadaan keuangan negara bisa lebih baik..!

    (ingat apbn cuma bisa menanggung 95 dolar/barel, dan sekarang 135 dolar/barel) selisihnya 40 dolar, atau hampir sekitar 42%..

    semoga pengamat kita diatas bukan pengamat yg berpikir dgn memakai otak babon..! karena salah mengamati..! di vietnam yg keadaan ekonominya d bawah kita harga premiumnya hampir 1 dolar/liter..!

  11. ius | Pesan | Sabtu, 24 Mei 2008

    naek sepeda aja, sehat murah, tp keringetan icon_lol

  12. Hagus | Pesan | Senin, 26 Mei 2008

    Waah,akhirnya jadi naik juga tuh BBM.Kenaikan dan penyesuaian harga sah2 saja,masalahnya dinegara kita ini tidak ada yang transparan,jelas sejelas2nya.Lha wong mendata penduduk aja masih salah melulu,gimana bisa ngitung yang njlimet dan akurat.Harus proporsional,kalau masalahnya subsidi,yaah subsidinya dihapus saja ganti dgn yg lain.Sebetulnya caranya gampang kok,yg penting dilandasi kemauan keras,kepedualian pada rakyat,pokoknya benar2 pro rakyat.

    1.Revisi tuh kontrak2 pertambangan,agar bagi hasilnya masuk akal dan menguntungkan kita,kan udah cukup lama bumi kita dikeruk minyaknya.Gak usah takut di musuhion asing atau dikenaiin sangsi,yg penting itu betul2 pro rakyat,pasti kita dibantu dan dibela rakyat seluruhnya lho.Kita gak usah ngurusin negara2 lain,mis Palestina,Myanmar,dll,yg penting urusin dulu negar sendiri.Kalau kit dah makmur dan dah mikirin kehidupan rakyat sendiri,barulah kita mulai ngurusin tetangga,teman dll diluar negeri.

    2.Batasi penjualan dan penggunaan mobil,galakkan transportasi rakyat,negara benar2 menyediaakan fasilitas transpor massal yang nyaman dan bersih.Sopir2nya dibayar negar,jadi keamanan terjamin ,gak ngebut cari setoran.Pendapatan sopir juga jelas,keluarga sopir terjamin.Berkurangnya mobil,jelas BBM berkurang,artinya subsidi otomatis hilang,kan sedikit kendaraan pribadi.Sedikitnya BBM dan kendaraan pribadi,polusi berkurang,artinya udara Indonesia jadi segar dan sehat.Rakyat sehat,tinggkat kematian berkurang,penyakit berkurang,dokter2 lebih manusiawi,gak cari setoran buat bayar biaya kuliah dan gelarnya.Rakyat sehat,otomatis,cara berpikirnya lebih realistis dan tentunya smart.Berpikir pintar akhinya menjadi kebiasaan,semua rakyat akan pintar,kesadaran akan pendidikan tinggi.Nah jelas kalau pendidikan sudah merata,jelas segala sesuatu bisa kita kerjakan sendiri,gak perlu pake tenaga asing.Negara2 Eropa kenapa jarang pake tenaga asing,karena itu pendidikan mereka tinggi2 dan peduli akan kesehatan,makanan,linggkungan.Jadi kita udah gak perlu ngurusin perut lagi.Kalau udah pintar,kesadaran ada,kepedulian,kesehatan terjamin,pasti akan mengelola sumber daya alamnya lebih maju lagi,mis meningkatkan pangan,juga kebersihan air.Rasanya semua itu gampang terwujud,bila kita benar2 jujur dan mau maju bersama2,punya rasa malu pada diri sendiri,masa sih kita yg dikarunia sumber daya alam segitu banyaknya,minyak,air,tanah yg subur melimpah,dan banyak juga ahli2 lulusan asing,kalau pemerintah berniat benar2 memajukan dan memakmurkan rakyatnya,contoh aja sistemnya seperti Spore.Gak perlu beralasan ini itu kan beda ini itu dll,semua dibutuhkan waktu.Dgn berlalunya waktu pasti akan sadar semua,kalau benar2 yg dilakukan pemerintah memang demi rakyatnya.Memang pasti industri kendaraan kolaps,ada penganguran akibat kebijakan ini,dan pasti pro kontra,tetapi bandingkan dengan kepentingan lebih besar ,mana yg pneting rakyat yg ratusan juta atau pengusaha yg puluhan.Nah disinilah dibutuhkan seorang negarawan benar2 yg realistis.

    3.Rekanan2 pemerintah baik swasta,dll harus benar2 yg profesional,kredible,berintegritas,gak mudah disogok,gak mudah ganti spek,kalau bikin jalan harus dipikirkan bertahan misalnya 10 th,jgn kayak sekarang tambal sulam.Harus menyatu sistemnya,PLN,Telkom,Galian2 harus saling kordinasi,jgn masing2 gali,tutup,gali lagi,tutup lagi,pemborosan anggaran.Planningnya harus lengkap dan sempurna.Kalau mau bikin gorong2,sekalian,galian kabel telkom dan PLN disatukan sehingga antar dpartemen ada kordinasi baik,atau digabung saja mis PLN,Telkom dan Cipta Karya.Perekrutan PNS benar2 yg pinter dan melayani jgn yg cari obyekan.

    4.Koruptor diberantas habis sampai keakar2nya.Jangan hanya ditahan,yang paling penting,sita hartanya,bikin suatu UU Anti Korupsi yg kuat bisa surut dan kedepan,jadi gak ada yg berkelit lagi.Gaji dan tingkat kehidupan pegawai pemerintah distandarkan,mis S1 min 50 juta,D3 20 jt,SMA 5 jt dll.Ada sukses fee.Gak ada lasan pejabat berkata sulit begini sulit begitu,kalau gak bisa yaah berhenti aja,jangan pakai alasan.

    5.Hukum harus kuat.Negara jgn terlalu turut campur kehidupan pribadi warganya,misalanya soal agama,gak usah diatur,beri saja aturan bakunya begini begitu,misalnya,perusakan tempat ibadah,pidana 10 th,siapapun pelakunya.Jangan diskriminasi,harus terbuka ,demi kepntingan rakyat,bukan retorika demi kepentingan rakyat tapi kepentingan pribadi nyatanya.Hilangkan sekat2 dan kotak2,suku,agama,ras,terapkan equal before the law,siapapun pelakunya.Hukum tetap hukum.Benar yah benar,salah yah salah.

    6.Sadarkan masayarakat untuk peduli akan hal2 yg negatif.Bila melihat kejahatan atau indikasi akan ada kejahatan,segera lapor,tetapi aparatnya harus tanggap ,jangan malah sipelapor direpotkan.Gunakan sistem pembuktian terbalik dalam hal kekayaan.

    Saya yakin,semua bisa diatasi dng baik,kuncinya transparan,saling menghargai,saling mendukung.Siapaun pemimpinnya,kalau sekarang lagi memimpin dukung kebijakannya kalau benar,sebaliknmya tolak kalau salah.

    7.Proporsional,profesional,jujur dan bertanggung jawab akan tugasnya dan kewenangannya.Hakim jadilah hakim yang adil memberikan keputusan benar2 adil sesuai fakta,Polisi menegakan hukum,tegakkanlah secara lurus,siapaun yg salah tangkap,periksa,bawa pengadilan.Jaksa ,jadilah jaksa penuntut yg pintar dan kuat tuntutannya sehingga tersangka tidak lolos dari jeratnya.Tentara,jadilah tentara pembela negara yang mengamankan negara dari serangan asing.Eksekutif ,jadilah eksekutif yg menjalankan pemeerintahan sesuai garis dan UU.Legislatif buatlah UU yg benar2 demi kepntingan negara dan rakyatnya.Masing2 punya kapasitas dan tugasnya masing2,tetapi harus ada kesadaran bahwa semuanya itu menjaga misi dan visi satu negara yaitu negara Indonesia.Jangan dicampur adukan.Kordinasi dan konfirmasi bukan untuk main mata,tapi memudahkan penyelesaiaan.

    Mudah2an berguna pikiran 2 saya ini,sayangnya apakah bisa diterapkan semuanya.hati nurani kita lah yg menjawab secara jujur.

    Salam,Hagus.

  13. P.N Jonathan | Pesan | Senin, 26 Mei 2008

    @Mas Hagus...jalan yang seperti itu yang terbaik...masalahnya mental penjabat pemerintahnya yang harus dirubah total danperlu dibuat UU baru supaya mereka jera korupsi

  14. Advena Vee | Pesan | Senin, 26 Mei 2008

    Perusahaan Motor kyknya bakal laku ni,,

    Btw ada Mentri yg punya usaha motor gak?

    Andai Indonesia bisa mengolah minyak-nya sendiri mungkin kita gak tergantung dengan harga minyak dunia,, Yang diawali kata "andai" memang selalu terdengar indah,, icon_lol

  15. Advena Vee | Pesan | Senin, 26 Mei 2008

    Kalo mow meng-hemat BBM pake cara yang sama menyiksanya,,mobil2 pribadi yang boros bensin dinon-aktifkan aja,,

    Semua mobil pribadi diatas 2000cc tidak boleh diproduksi lagi di Indonesia,,

    Kejam c bagi yg cuma punya mobil ber-engine besar,,tapi seenggaknya gak bikin rugi rakyat kecil,,

    They also deserve a better life,, icon_frown

  16. prasetyo adhi | Pesan | Rabu, 28 Mei 2008

    icon_biggrin BBM Naik Lalu Lieur...?

    Lalu Lieur... icon_eek

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya