Kira-kira bulan Oktober 2007 saya membeli ponsel Nokia 6300 dengan garansi resmi dari Nokia. Tidak ada masalah dengan ponsel sampai pertengahan Februari saya pergi ke India. Di sana saya mencoba mengirim file dengan menggunakan bluetooth (belum pernah digunakan sejak pembelian). Namun ternyata perangkat tidak bisa digunakan dan dari situlah semua bencana itu berawal.
1. Sepulang dari India, awal Maret, saya membawa ponsel yang bluetooth-nya mati itu ke Nokia Care di Roxy Mas, lantai dasar. Namun pihak di sana berkata bahwa ponsel harus dibawa ke pusat, jadi saya membawanya ke Kuningan. Dijanjikan akan selesai dalam waktu 1 bulan. Setelah 1 bulan lebih, akhirnya selesai. Pihak Nokia berkata dilakukan swapped mesin.
2. Satu hari setelah ponsel selesai diperbaiki dan diganti mesinnya, tahu-tahu LCD-nya menyala terus dan tidak mau mati, batere saya sampai boros sekali dan keypad juga hang (tidak bisa diutak-atik). Akhirnya saya bawa lagi ke Nokia Care di Roxy.
3. Seminggu kemudian, prosesnya selesai. Waktu diambil, katanya software dan memory kena virus serta harus diformat, padahal saat di-scan tidak ada virus apa-apa. Besoknya, keypad kembali bermasalah dan tidak bisa diapa-apakan.
4. Saya bawa lagi ke Nokia dan diberitahu bahwa ponsel harus dibawa lagi ke pusat dan butuh waktu 1 bulan lagi.
Jujur saya sangat kecewa, sudah lama saya percaya dengan produk Nokia, setiap membeli ponsel baru pasti saya membeli produk ini. Jika dihitung-hitung ponsel tersebut berada di tangan Nokia selama 2,5 bulan, padahal garansi yang saya punya hanya 1 tahun. Masakan seperempat masa garansi habis hanya untuk masalah seperti itu? Servisnya juga mengecewakan, selama masa perbaikan 2,5 bulan tersebut, apakah Nokia memikirkan ponsel apa yang harus saya pakai? Saya sudah membeli dengan garansi resmi, namun ternyata layanannya tidak sebanding. Saya berharap masukan ini bukan hanya berguna bagi konsumen lain tapi juga bagi produsen Nokia sendiri agar lebih memperhatikan nasib konsumen.
Taufik Barlian
Jl. Industri Raya No. 10A
Gunung Sahari - Jakarta Pusat 10270
Tak ada gading yang tak retak (maksudnya tidak ada satu merekpun yang sempurna produknya)..! namun,..! jika perbandingan penjualan ponsen nokia 50% dan sonyericsson 30% namun untuk kerusakan sepertinya 60 nokia banding 20 soner. jadi saya pikir produk nokia itu banyak yang cacat n ga berkualitas...! ga seperti jamannya 8250, 3315, jadul tapi tahan banting..!
kalau saya lihat, sepertinya masyarakat indonesia lebih memilih hanset karena NOKIAnya, bukan karena nokia itu awet. jadi kebanyakan yang beli lebih banyak bingung (banyak fitur yang ga' kepake') khususnya symbian....!
walaupun saya ngerti symbian, tapi saya ga belagu pake nokia, Saya pake soner (W series) yang suaranya ga ada satu hanset nokiapun yang mampu menandingi kedashyatan suaranya...! saya telah membaca majalah& tabloid 90% mengatakan kalau soner itu mampunyai suara yang berkualitas, jernih, mendentum, dan bukan sekedar nyaring namun juga beniiiiiinnnnnngg suaranya.
maksud saya 50/30 itu untuk indonesia dan sekedar perbandingan dan bukan real, tapi sekedar perbandingan..!
Oia, nokia katanya menanam Chip di handphone nya supaya suara menjadi jernih. percuma saja jika headsetnya (hansfree) ga' berkualitas...! saya akui juga nokia itu suaranya "lumaya" nyaring.. namun ga ada beningnya sama sekali. NOKIA ibarat Speaker TOA yang dugunakan penjual obat keliling,
dan SONER ibarat KONSER Band kelas atas..!
Nokia pake hansfree SENHEISER (di nokia n71)aj suaranya ga bagus-bagus amat....!
NOKIYEM
ogah ah....!
Cape' de'''