Wajah seorang sahabat, yang berprofesi sebagai seorang penjual gorengan dan biasa mangkal di depan kompleks di mana saya tinggal siang itu tampak sayu dan kusut. Tangannya yang lincah yang serta wajah hitam yang selalu dihiasi dengan tebaran senyum khasnya pun tampak begitu malu dan terpaksa. Setelah usut punya usut, ternyata ia tengah dihadapkan pada pilihan sulit antara harus menaikkan harga gorengannya atau tidak, pasalnya minyak goreng harganya selangit.
Di sebelahnya tampak seorang sahabat penjual es buah berbicara pada pembeli kalau kesulitan nyari buah yang biasanya ada dan kalau toh ada selain buahnya sudah tampak tak segar harganya pun sudah mahal.
Tak jauh dari tempat itu, tampak sekerumunan orang yang berdiri dengan menenteng dirigen kinyak tanah di tangannya. Tampak di wajah mereka aura kelelahan dan kejengkelan. Pasalnya ini sudah hari kesekian mereka mengantri. Bukannya dapat se-dirigen minyak tanah melainkan kekesalan yang didapat. Ya, sudah pagi-pagi berburu minyak tanah dan mengantri panjang seharian, barang yang diantri pun “habis” dan harus menunggu lagi di tengah ketakpastian kapan minyak tanah akan tiba.
Tiba di kantor, saya menyaksikan di layar televisi sekelompok kaum intelektual (mahasiswa) di medan yang begitu beringas dalam kemarahan (yang menurut saya tak seharusnya dilakukan oleh seorang terpelajar) merusak konsulat jendral Belanda serta membakar bendera bangsa ”Londo” yang notabene pernah menjajah negeri ini dalam masa yang begitu lama. Pasalnya, mereka marah karena adanya film “fitna” besutan pilitikus Belanda yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia. Miris dalam hati saya ngeliat aksi itu, ya bagaimana tidak sekumpulan orang yang “terpelajar” koq bias tersulut oleh film picisan yang digarap secara picisan pula. Kenapa “picisan”, yak arena di mata saya ini hanyalah sebuah kolase dari beberapa peristiwa yang kebenaran dan fakta di balik itu semua masih harus di pertanyakan. Belum lagi jika ditilik dari motivasi dibalik pembuatan film ini. Si pembuat (Wilder) adalah seorang politikus. Tentu popularitas dan sensasi yang menjadi dorongan utama dibuatnya kolase (tempelan-tempelan) yang kemudian diedarkan secara digital online ini. Lebih dari itu, masih menurut saya secara pribadi (yang tentu asums ini bisa ditentang oleh siapapun), motivasi dibalik pembuatan film kacangan si Wilder ini tak lain hanya untuk memuaskan pribadinya dalam upaya mencari jawaban dan pembenaran atas pertanyaan / persepsinya terhadap Islam. Ironisnya, di Indonesia sekelompok kaum “terpelajar” (mahasiswa) terpancing dan masuk dalam jebaan Wilder yang secara tak langsung (entah para mahasiswa ini sadar atau tidak) telah “mengiyakan” persepsi wilder ini melalui aksi anarkis mereka yang melakukan perusakan dan pembakaran yang secara logika awam saja aksi sekelompok mahasiswa ini justru mengamini bahwa Islam = Anarkis atau lebih ekstrim Islam = Kekerasan.
Tak lama dari peristiwa itu, semalam saya menyaksikan berita di televise dan sekali lagi saya harus menghela nafas karena kepanjangan dari isu ini pemerintah juga akan memblokir beberapa blog, salah satunya blog yang selama ini saya juga menggunakannya untuk keperluan ekspresi, networking dan bisnis, Multiply. Lagi, lagi dan lagi dari gonjang-ganjing yang diakibatkan oleh beragam isu ini korbannya adalah “konsumen”. Konsumen di negeri ini tampaknya tak punya kekuatan dan pilihan apapun selain harus mematuhi kebijakan-kebijakan sporadis yang diambil pemerintahnya. Hukum yang menaungi hak-hak konsumen pun tampaknya hanya jadi penghias saja dan tak memiliki fungsi melindungi konsumen untukdapat lega bernafas atau sedikit tenang menjalani pilihan serta hidup kesehariannya.
Dan di tengah gonjang-ganjing akibat dari kebijakan (baik langsung atau tidak) ini selalu saja menampilkan atau menghasilkan tokoh-tokoh kesiangan yang bukannya memberi pencerahan justru menambah keruwetan. Dan jika demikian konsumen (rakyat) lagi-lagi harus menerima dan menerima. Seperti ketika kita ingin mendapatkan sebuah tontonan yang edukatif di jam-jam premium kita. Apa yang kita dapatkan justru ”pemaksaan” selera dari industri film sinetron-lah yang mau tak mau kita mengkonsumsinya. Kenapa, ya karena semua stasiun televisi di jam itu memutar sinetron. Dan setiap kali mereka juga selalu mengatas namakan publik (konsumen) sebagai objek, seperti alasan ”permintaan pasar (penonton)”, rating, dan lainnya. Lagi-lagi di sini penonton (konsumen) dianggap bodoh dan memiliki selera yang sama seperti pemikiran kaum pembuatnya. Konsumen selalu dihadapkan pada pilihan yang tak bisa dielakkan, dijejali dengan smpitnya ruang gerak sehingga hari-kehari penjajahan pemikiran dan kebebasan dalam memilihlah yang terjadi.
Apa yang bisa diambil dari serangkaian fakta dalam opini ini adalah, sempitnya ruang gerak konsumen dalam mendapatkan yang terbaik dari para produser (baik itu produser di bidang produk, hiburan, bahkan pemerintah/pembuat kebijakan). Dan lembaga-lembaga penampung aspirasi konsumen pun tampaknya menghadapi dilema yang sama seperti yang dihadapi konsumen itu sendiri. Dan media yang memberi wadah buat aspirasi, uneg-uneg dan diskusi buat konsumen sepertinya hanya dijadikan sebagai statistik oleh para ”produser” namun tak kunjung ada aksi dari mereka.
Namun demikian melalui media seperti Media Konsumen ini, paling tidak konsumen bisa berbagi informasi sedini mungkin sehingga kita para konsumen bisa secara bijak menghadapi keterjepitannya ditengah pilihan-pilihan yang sebenarnya tak lebih dari sekedar fatamorgana dan efuria saja. Salam.
Tarsih Ekaputra
* Redaktur F (Film) Magazine (www.majalahfilm.com)