MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

Pelayanan Yang Buruk Dari Marketing Premier Mansion - Pluit
Dikirim tanggal: Senin, 03 Maret 2008

Hari ini saya dan keluarga mengunjungi rumah contoh Premier Mansion bertempat di Pluit. Sesampainya disana, kami dianjurkan untuk menunggu staff marketing sebelum dapat melihat rumah contoh. Staff marketing yang bernama Mery yang ditunjuk untuk menjadi guide kami. Berhubung staff tersebut sedang memberikan penjelasan mengenai produk rumah kepada tamu, kami harus menunggu.

Saat giliran kami tiba, kami langsung diantar ke rumah contoh yang dimaksud. Namun, ketika di dalam, kami diburu2 untuk melihat dengan cepat, staff tersebut tidak menjelaskan apapun di dalam rumah. Belum selesai kami melihat, kami ditinggalkan dan disuruh kembali ke marketing office. Sekembalinya ke marketing office, staff tersebut langsung melayani tamu lain tanpa menghiraukan kami. Kami diberikan brosur dan diberitahu apabila ada pertanyaan harap menghubungi lewat telepon saja.

Kami diperlakukan seperti itu mungkin karena kami hanya berpakaian casual kesana, tidak seperti tamu lain yang menggunakan barang-barang branded dan semacamnya. Terus terang, saya sangat tersinggung dengan perlakuan staff yg bernama Mery itu, apalagi saya bukannya tidak mampu untuk membeli produk mereka.

Untuk Premier Mansion Indonesia, please re-assess the qualification of your marketing staffs.

Lydia
Taman Palem Lestari, Cengkareng
Jakarta


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 5 komentar


  1. Brio | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Ya kalau sejak awal sudah dikecewakan mestinya lebih baik dibatalkan saja keinginan untuk membeli disitu.Biasanya staff marketing akan memberikan janji janji yang muluk muluk (lebih hebat dp. kenyataanya),kalau staff marketing sudah mengecewakan terus kenyataanya ya mestinya jauh lebih mengecewakan lagi dong. icon_lol icon_lol icon_lol

  2. Nani | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    memang sih kadang2 ya gitu deh, org lihat dr penampilannya gt..

    kalo sy sih memang kadang sengaja, waktu cari2 rumah, benar2 pake yg casual banget (malahan pernah pake sandal jepit), biar yg ngelayanin itu benar2 yg baik, jadinya rela keluarin duit he he

  3. Panca Handaka | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Memang pelayanan sangat penting disaat kita ingin membeli apapun. Jangan sampai terjebak dengan kata-kata yang indah dan muluk-muluk. Masih banyak perumahan lain yang kita bisa lihat bahkan kita beli. Saya juga pernah dikecewakan sama Villa mutiara Bogor 2, yang sampai saat ini tidak pernah tanggapi komplain saya. jadikanlah ini semua pengalaman.

  4. P.N Jonathan | Pesan | Selasa, 04 Maret 2008

    Mbak Lydia,itu sdh kebiasaan di Indonesia,mereka selalu melihat anda ..wah...kalau anda menggunakan barang barang branded dan kalau anda pake yang casual dilihat juga nggak.Masalahnya berjuta orang seperti Mery itu mereka mempunyai perasaan "minderwardig complex" atau rasa rendah dirimenghadapi manusia,sehingga tidak bisa menempatkan dirinya dimuka orang(dalam hal ini ditempatnya dia kerja).Nomor 2 kebanyakan perusahaan menerima pegawai di Indonesia tidak melihat skill dari orang tersebut tapi dari connection dan lebih parahnya pegawai yang diterima karena connection biasanya tidak ditraining dengan baik cuma diarahkan saja bagaimana harus menjual produk,lebih dari itu sama sekali nggak icon_biggrin

  5. Hendri Setiono | Pesan | Rabu, 09 April 2008

    dari pengalaman saya sebagai mantan marketing perumahan, saya akui memang banyak marketing yang melakukan penilaian dari penampilan. tapi perlu diketahui dengan begitu anda bisa tau bahwa marketing tersebut belum berpengalaman/tidak qualified. saya seringkali mendapatkan pembeli (yang baik) justru dari orang2 yang penampilannya biasa2 saja. marketing yang seperti itu biasanya tidak punya after sales service. jadi ya, setelah bayar DP, bye bye. padahal seringkali masalah perumahan masih banyak. jadi, Ibu Lydia, bersyukurlah bisa "membaca" marketing yang buruk. icon_wink

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya