MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

BPOM Tindak Lanjuti Temuan Tim IPB
Dikirim tanggal: Kamis, 28 Februari 2008

JAKARTA, (PR).- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat akan menindaklanjuti temuan tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan melakukan pengujian terhadap sampel susu formula dan makanan bayi yang diduga mengandung bakteri Enterobacter sakazakii. Pengujian ini untuk meneliti asal permasalahannya.

"Kita harus melakukan pengujian sendiri, mengambil sampel di pasar. Pengujian akan dilakukan di laboratorium kita, untuk meneliti apakah problemnya di bahan baku, proses produksi, atau di pasar," ujar Direktur Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan BPOM Azizah Nuraini Prabowo kepada "PR" di Jakarta, Senin (25/2) malam.

Terkait penelitian tim IPB tentang kandungan bakteri itu, Azizah mengungkapkan, standarnya belum ada. Misalnya, menyangkut jumlah kandungan bakteri. Dia mengingatkan, susu formula itu bisa jadi bukan merupakan produk steril. "Mungkin saja susu formula yang terkontaminasi karena tidak memenuhi syarat, misalnya di ruangan tak ber-AC, sehingga ada kontaminasi di situ," katanya.

Azizah mengatakan, dalam pertemuan akhir pekan lalu di Jakarta, disepakati Departemen Pertanian akan mengecek ke jalur bahan baku susu, misalnya sapi. Sementara Departemen Kesehatan dari sisi konsumennya.

Sebagaimana diwartakan, tim peneliti IPB menemukan adanya susu formula anak-anak dan makanan bayi yang mengandung Enterobacter sakazakii. Dalam penelitian ditemukan, 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006, telah terkontaminasi.

Belum beraksi

Sementara itu, BPOM Bandung belum mengeluarkan daftar produk susu formula dan bubur bayi yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii. Untuk itu, belum dilakukan penarikan produk-produk yang disinyalir mengandung bakteri yang dapat menyebabkan radang selaput otak itu.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Konsumen Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung Siti Nuraniah di kantornya Jln. Dr. Djundjunan Bandung, Senin (25/2).

Sampai saat ini, menurut Siti, pihaknya belum menerima public warning dari BPOM pusat. Untuk itu, pihaknya meminta IPB segera mengeluarkan daftar produk yang dinyatakan mengandung bakteri Enterobacter sakazakii. "Hal itu demi memberi kejelasan kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan dan malah tidak mengonsumsi susu. Padahal, susu menjadi salah satu sumber protein yang penting, terutama untuk tumbuh kembang anak," ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Agus Gustiar mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak terkait. "Jika terbukti ada produk susu yang mengandung bakteri tersebut, kami akan segera menariknya dari pasaran," kata Agus.

Menurut ahli mikrobiologi Unpad Yanti Mulyana, M.S., keberadaan bakteri Enterobacter sakazakii dalam susu berpotensi mengakibatkan berbagai macam penyakit. "Pertumbuhan bakteri Enterobacter sakazakii baru bisa terjadi dalam medium cair. Tetapi, air kita kan tidak steril, apalagi peluang tangan kotor ketika membuat susu sangat besar, bisa jadi bakteri tumbuh subur di sana," katanya.

Tunggu edaran

Berdasarkan pemantauan "PR" di beberapa toko dan apotek di Kota Bandung, para penjual belum mengetahui mengenai susu formula dan bubur bayi yang dicurigai mengandung bakteri berbahaya tersebut. "Saya belum mengetahui mengenai berita tersebut karena belum ada pemberitahuan secara resmi. Biasanya, jika ada pemberitahuan dari BBPOM, kantor pusat langsung mengontak ke seluruh kantor cabang," ucap Deden, Manajer Divisi Giant Hypermart.

Wawan, Merchandiser Hero-Giant Area Jabar menambahkan, belum ada konfirmasi dari BBPOM. "Mekanismenya, BBPOM akan langsung mengirimkan pemberitahuan kepada setiap supermarket," katanya.

Hal yang sama dikemukakan Dedi, pengelola apotek Cipta Farma di Jln. Gatot Subroto Bandung, yang mengaku tidak mengetahui sama sekali mengenai isu tersebut. "Kami menunggu tindak lanjut dari BBPOM. Kalau ada penarikan produk, mereka langsung datang untuk menarik barang," ungkapnya.

Sementara itu, sejumlah warga di Kel. Kebonjayanti, Kec. Kiaracondong Bandung, mendapat surat edaran daftar minuman berbahaya yang dikeluarkan RSAL Ramelan Surabaya. Sedikitnya, tercantum 42 jenis minuman yang disebutkan mengandung siklamat yang berdampak pada gangguan otak, penyakit lupus, dan merusak antibodi manusia.

Menurut Siti Nurainah dari BPOM Bandung, surat edaran tersebut tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. "RS tersebut telah mengeluarkan surat klarifikasi dan tidak pernah melakukan penelitian terhadap minuman dan makanan yang berbahaya. Masyarakat jangan mudah terpancing pada edaran yang tidak benar itu," katanya. (A-94/A-158/CA-172/CA-175/CA-169/CA-167)***

Sumber: Harian Pikiran Rakyat


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 8 komentar


  1. Brio | Pesan | Rabu, 27 Pebruari 2008

    Yang penting Menkes jangan seperti kebakaran jenggot (memangnya bu Menteri kan tidak berjenggot ya icon_lol )

    Teliti bersama sama antara IPB,BPOM dan instansi yang lain sehingga ada kata sepakat,kalau memang berbahaya ya dilarang kalau tidak ya tetap diedarkan.

    Kalau lambat akan banyak komentar dari yang mempunyai "kepentingan",yang justru makin membingungkan masyarakat yang sudah cukup bingung ini. icon_evil

    Salam.

  2. ius | Pesan | Kamis, 28 Pebruari 2008

    TIM PENELITI IPB kalo emang bener ada bakterinya, mohon di sebut donk ke masyarakat, jangan cuma buat berita doank, cari sensasi !!!!!

    tujuan anda meneliti selama ini untuk apa kalo hanya mengumbar ke masyarakat "ada bakteri beracun di dalam kandungan susu" tp ngak di sebut nama produknya..

    mau meras produsen susu tersebut ??

    terus terang aja nih, saya kaget bukan maen waktu pertama kali liat berita ini di situs berita online jg,

    kesel sekaligus kesian...

    sekarang kalo seperti ini, siapa yah yang di salahkan ?

    depkes atau BPOM ???

    saya pengen liat nanti, apakah TIM PENELITI IPB atau BPOM ada DEPKES berani sebut nama produknya atau ngak...

  3. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 28 Pebruari 2008

    Team peniliti IPB tentu aja nggak berani bilang produk apa,soalnya di Indonesia kan saling mengancam kalau ada kesalahan.... icon_mad icon_mad bukannya dibetulin salahnya

  4. sukma amalia | Pesan | Kamis, 28 Pebruari 2008

    Tul....jangan hanya bikin sensasi ajaahh anakku penggemar susu formula smua niii icon_evil

  5. rusto | Pesan | Minggu, 02 Maret 2008

    Gemana nich, kok daftar merk susu yang terkontaminasi ngga ada??

  6. carlien garidina | Pesan | Kamis, 10 April 2008

    untuk ibu2/bpk2 yang di bpom tolong lebih teliti lagi dalam pengujiannya mengenai susu formula ini karena kasihan khan kalo anak2 terutama bayi jika terkontaminasi ama bakteri atau virus2.

    selamat bekerja icon_biggrin

  7. Tommie Draven | Pesan | Kamis, 10 April 2008

    Ibu2/bpk2, merek susu nya gak akan di publikasikan karena berhubungan dengan goyahnya penjualan, jadi biarkan untuk menjaga kelangsungan penjualan dan pendapatan keuntungan maka tidak akan di publikasikan.

    Toh mereka pasti cuek aja, lha wong gak pernah punya anak, lagian mereka gak pernah bayi, di jaman serba instant mereka cukup di kocek campur air ... langsung jadi dech para pemegang keputusan icon_lol icon_lol icon_lol

  8. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 10 April 2008

    @kalau takut susu tercemar bacteri yang menakutkan itu...minum aja soya milk/susu sari kedele....lebih sehat dan tidak ada lemak...BTW kalau dapet ancaman sapa lagi yang berani mempublikasikan.

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya