MediaKonsumen
Media Komunikasi & Informasi Konsumen Indonesia

Perumahan Liar Mulai Tumbuh di depan Rumah Saya! Harus Lapor Kemana??
Dikirim tanggal: Selasa, 27 November 2007

Mungkin ada yang bisa bantu? Sesuai judul tulisan, perumahan liar mulai berjamuran di depan rumah saya! Setelah saya selidiki ternyata ada backingan polisi setempat..TOLONG! Saya harus lapor ke mana?

Kalau polisi sudah dipegang, RT dan RW tidak dapat berbuat apa apa...perumahan liarnya sangat menganggu, sudah mulai bikin sumur, malah ada yang buka wartel...aduh saya tau ini Jakarta (mgkn sebagian orang akan respon saya harus terima bahwa ini di Jakarta dan keadaannya begini dan harus terima apa adanya). Tapi saya tidak mau terima keadaan ini, saya taat membayar pajak selama ini dan saya merasa berhak atas hak-hak saya untuk tinggal nyaman di rumah saya karena yang saya bayar pajak bangunan, pajak bulanan etc sedangkan perumahan2 liar itu hidup dengan listrik+telp+air entah dari mana

Saya harus lapor kemana? Apakah ada organisasi/badan swasta yang bisa menjadi wadah solusi? karena semua pihak tampaknya diam-diam saja karena disumpel dengan uang. Mudah-mudahan respon yang saya dapat yang dapat positif dan membantu saya, bukan respon iseng. Mohon bantuannya ya teman-teman...

Sari
Jakarta Selatan


Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 11 komentar


  1. sari | Pesan | Rabu, 05 Desember 2007

    Musibah terjadi tadi pagi tepatnya jam 1pagi karena perumahan liar yang tumbuh tanpa pendataan yang jelas.Salah satu orang yang tinggal diperumahan liar tersebut masuk rumah saya dan berusaha meniduri pembantu saya, tapi usahanya gagal. Untung saja orang itu tidak membawa senjata akhirnya pembantu saya cukup berani dan berhasil untuk lari. Ada 3 anak balita dirumah, ini sangat membahayakan keamanan kami, juga seluruh penduduk yang ada di jalan ini. Akhirnya kami laporkan ke polisi, tapi apakah polisi akan menindak lanjuti tanpa bayaran extra? Saya tidak yakin, kita lihat saja.

    Sudah pernah melapor mengenai keamanan ini ke rt&kelurahan berbulan-bulan yang lalu (saat perumahan liar baru 1,2 rumah) tapi tidak ada tindakan. Apalagi yang kurang jelas kalau memang perumahan liar yang tumbuh dimana-mana itu sangat berbahaya bagi penduduk yang mempunyai izin tinggal yang sah??? Perlu bukti apa lagi??

    Saya sangat kesal dengan keadaan ini dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kalau saya lapor kemana-mana pun aparat pemerintah tidak akan ada yang mau membantu tanpa uang, bisa-bisa malah saya yang diperas. Kalau saya bertindak sendiri, mereka (orang2 di perumahan liar) malah mungkin akan marah balik dan meneror saya. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di jalan rumah anda! Berhati hatilah!

  2. sari | Pesan | Rabu, 05 Desember 2007

    Saya lupa menambahkan, salah satu perumahan liar ini berjualan minuman keras. Sebelumnya sudah banyak penduduk daerah ini yang protes dan sempat beramai-ramai mendatangi tempat itu. TOh mereka tidak takut karena mereka bilang sudah izin dengan aparat setempat. Kami melapor mengenai miras ke aparat pun tidak di tindaklanjuti. Perlu diketahui, sebelum polisi datang, kami sempat mencari orang yang masuk kerumah kami. Dia ada diwarung2 itu, pembantu saya menunjuk orangnya dan dia mengaku tidak pernah masuk kerumah, sementara teman-temannya yang sedang diwarung itu sedang mabuk-mabukan...baru akhirnya kami memanggil polisi. Perumahan liar dan warung yang berjualan miras!

    Apakah harus menunggu ada pembunuhan dulu baru orang2 seperti ini akan ditindak? .....

  3. ius | Pesan | Kamis, 06 Desember 2007

    mbak sari, alamat mbak saja tidak jelas, gimana pihak terkait bisa bantu ??

    hanya menuliskan jakarta selatan saja, memang jakarta selatan semuanya tempat tinggal mbak ? icon_biggrin

    nih coba mbak lapor ke salah satu

    1. lantas.metro.polri.go.id (ini sih pihak lalin, tapi respon nya cepat sekali, hari ini email, beberapa jam sudah ada tanggapan. msk ke forum "konsultasi"

    2. ato ga polri.go.id ( tapi beberapa hari ini down..)

    ato bisa mbak mau melapor sampe ke presiden pun juga bisa, mbak masuk ke web no 1, di situ ada link ke web beberapa departemen negara, tar mbak tinggal email saja.

    semoga berhasil mbak, dan jangan lupa konfirmasi disini bila ada tanggapan,

    semoga sukses

  4. sari | Pesan | Senin, 10 Desember 2007

    terima kasih atas bantuannya mbak Ius, saya sudah coba website yang mbak anjurkan, kita lihat saja apakah ada respon.

    mengenai alamat, sejujurnya saya masih tidak nyaman mencantumkan nomor telp/alamat di internet walaupun mgkn dapat mempermudah kalau ada yang mau bantu. then again, masalah saya berhubungan dengan keamanan dan pihak aparat, bukan pihak swasta, jadi saya tidak yakin akan ada tanggapannya... icon_frown

    Daerah saya di TEBET, dekat dengan SMP 115. Kalau anda tau SMP115, akan tau benar kenapa menurut saya daerah ini jadi tidak aman. Daerah perumahan jadi komersil, semua mungkin disumpel dengan uang biar bisnis jalan (dari mulai kecil hingga besar, warteg, cuci mobil pinggir jalan sampai dengan cafe-cafe pinggir jalan yang harusnya perumahan). Buat orang2 yang suka makan dekat sini,mgkn merasa saya aneh, harusnya enak dekat dengan daerah restaurant&daerah ramai. Tapi coba bayangkan setiap keluar rumah macet, jalan 2 jalur jadi 1 jalur karena mobil parkir seenaknya dipinggir jalan sepanjang hari.Banyak pemulung jalanan,preman parkir (yang tiba2 merasa ini adalah jalanan mereka??),preman penggangguran,anak2 sekolah yang nongkrong dari siang sampai malam(saya jg ga ngerti ngapain, apa tidak dicari orangtuanya?), orang2 pendatang yang buka warung dipinggir jalan sampai dengan pemilik2 cafe yang sama sekali tidak memikirkan yang punya rumah didaerah tebet ini dan tidak bertanggung jawab karena tidak punya lahan parkir yang memadai. Mungkin mereka sendiri bukan tinggal di tebet, atau setidaknya tidak dekat dengan daerah cafe yang mereka buka, jadi mereka ngga merasakan apa-apa. Jalanan macet mgkn menurut mereka,cafe mereka sukses. Ramai menjadi berbahaya dan tidak terkontrol, sampai saya harus mengalami ada orang masuk rumah dan ingin 'tidur' bersama pembantu saya. Alangkah menderitanya kami yang tinggal di daerah sini.

    Kalau ada pihak-pihak yang dapat membantu bisa menghubungi email saya. Terima kasih..

  5. lia.. | Pesan | Rabu, 12 Desember 2007

    Buat mbak Sari, saya juga punya masalah yang sama dng mbak walaupun tidak sampai se-ekstrim itu. Complain ke keamanan malah lebih galak pernghuni liarnya.Akhirnya lebih baik pindah ke daerah perumahan yang ada sistem clusternya. Lebih tertutup memang tapi setidaknya saya merasa lebih aman.

  6. ius | Pesan | Rabu, 12 Desember 2007

    aduhhhh kok sebut mbak.. saya ini co tulen nih hehe nama nya Lius, biasa di panggil Ius gitu... heheheheh

    Mbak sari, mbak yang juga melapor ke lantas.polri itu yah ? heheheh saya juga lapor di situ mbak, cuma di situ doank yang tanggap..

    di daerah green ville juga sama kondisinya begitu, padahal di komplek bagian depan green ville , sudah ada ruko, tapi kaga di maksimalkan, malahan rumah dijadikan tempat usaha.... yang tadinya jalan itu bisa muat untuk 5 mobil, dijadikan 2 mobil dan MACET !! bahkan kalo hari sabtu minggu bisa 1 mobil saja jalurnya, lewat bergantian...

    emang susah tinggal di jakarta, hukum masyarakat di jakarta hampir sama dengan hukum rimba yang bunyinya "siapa kuat di menang" tapi kalo buat manusia di jakarta bunyinya "siapa kaya dia menang"

    keamanan intern sih pasti ga akan mau ngatasin ini, soalnya ( menurut pengalaman ) pasti para usaha itu sudah menutup mulut nya pake duit..

    paling enak emang tinggal yang ada management estate nya... semoga saran dan keluhan kita di tanggapi yah mbak !! icon_biggrin

  7. mulyono | Pesan | Selasa, 18 Desember 2007

    Mbak ini Indonesia.ngomong sampe bodol tdk ada solusi kalau tdk kuat uangnya,siapa yang mau menggusur dan hrs brantem dgn penduduk liar, kita lapor justru diadu sama penduduk liar tersebut.kalau anda yang punya masalah melawan hukum justru aparat rajin dan langsung tanggap mengujungi anda dgn membacakan KUHP anda dibawa untuk dinterogasi, uang keluar banyak,mana mau mereka berhadapan dgn orang jalanan istilahnya diinjak yg keluar justru kotoran bukan duit (tdk sebanding)Orang yg hidup mentaatti aturan justru stres cuman HAK yg dituntut.tuntutan anda saya yakin 100% gigit jari.yang kelihatan aja kolong jalan tol, presiden,menteri,gubernur semua pejabat negara tau tdk boleh ada bangunan apa yg terjadi?. lapor DPR dia takut pamor hilang dia kan pembela rakyat miskin, orang yg cukup duit bukan rakyat tapi mau duitnya mereka terima gaji.jadi kesimpulan kalau disebelah rumah anda ada rumah pejabat keinginan anda terlaksana/anda punya uang banyak panggil aja FBR juga beres.andakan cuma rakyat biasa, bisa bisa rumah anda hancur akibat laporan anda icon_lol icon_lol icon_evil ini Indonesia bung

  8. mulyono | Pesan | Selasa, 18 Desember 2007

    ini Indonesia mbak.ikuti aturan Hukum dan memenuhi kewajiban payar pajak hanya itu yg didapat untuk mbak, haknya sakit hati.saya brani 100% anda akan diadukan oleh aparat yang anda lapori justru pada penduduk liar tersebut,bukan diadukan dengan hukum pidana yg dijatuhkan kepada penduduk liar tapi delik aduan,aneh ya tapi nyata.coba gmn perkembangannya kami tunggu

  9. P.N Jonathan | Pesan | Selasa, 18 Desember 2007

    Mbak Sari semoga anda berhasil mengadukan hal ini ke aparat,saya yakin anda tidak akan menang (seperti apa yang Bp.Mulyono bilang)karena kalau nggak pakai duit banyak di Indonesia apa yang salah bisa dibuat benar,juga sebaliknya,

    Apalagi Jakarta seperti Di Rio Janeiro namanya saja metropolitan isinya perkeliruan doang. icon_biggrin

  10. ius | Pesan | Selasa, 18 Desember 2007

    tul banget... hukum rimba manusia berbicara...

    perumahan di gree ville juga di sulap jadi "gading Boulevard"

    siapa kaya dia menang....

  11. sari | Pesan | Rabu, 26 Desember 2007

    thx atas komentarnya..sebenarnya kalau mau bayar juga saya mau, tapi apakah bener akan tuntas? bukannya malah saya yang jadi sasaran pemerasan & kekerasan penghuni liar sekitar?..sedihnya tinggal di jakarta, yang bayar pajak malah tidak punya hak... icon_frown

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !



Tulisan ini tampil di situs www.MediaKonsumen.com

Pengutipan di tempat lain mohon mencantumkan Media Konsumen sebagai sumbernya