Online
Saat ini ada 192 pengunjung tamu dan 2 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
Polling
Rekreasi & Belanja/Tempat Wisata - Keluhan
Pengelola Dufan Tidak Peduli
Selasa, 15 Agustus 2006
Bantuan Artikel
Peristiwa tidak mengenakkan justru terjadi ketika memasuki Dufan. Salah seorang keponakan (4 tahun) dengan tinggi badan 1 meter dan 1 inci dilarang melewati pintu masuk oleh petugas dengan alasan sudah melewati batas tinggi badan yang ditoleransi tanpa bayaran.
Akhirnya setelah berdebat panjang dengan petugas yang sangat kaku dan arogan, saya membayar tiket masuk tambahan sebesar Rp 85.000. Hari itu semua pengunjung dikenai tarif masuk yang sama tanpa peduli, apakah orang tua atau anak-anak. Ingin bermain atau hanya menemani. Yang ditolerasnsi hanya anak- anak dengan tinggi badan kurang dari 100 sentimeter dan orang tua berusia 60 tahun ke atas. Dengan demikian, rombongan saya yang jumlahnya delapan orang—tiga dewasa dan lima anak-anak—harus membayar jumlah yang sangat banyak, yaitu Rp 680.000, untuk bisa masuk ke Dufan.
Biaya tersebut belum termasuk tiket masuk Ancol Rp 35.000 per orang. Hari itu memang hari Selasa yang artinya bukan akhir pekan, tetapi boleh dianggap sebagai hari spesial mengingat masih masuk masa liburan sekolah. Dufan buka sampai dengan pukul 20.00 pada hari biasa.
Kejadian tidak mengenakan lainnya terjadi ketika banyak anak yang antre untuk bermain di Wahana Arung Jeram. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB dan petugas yang bertugas dengan seenaknya memotong antrean yang panjang di tengah dan menutup wahana dengan alasan sudah waktunya tutup, padahal masih 30 menit lagi menuju pukul 20.00.
Kontan anak-anak yang terhalang niatnya berteriak-teriak, bahkan ada yang mulai menangis karena merasa sangat kesal sudah antre panjang dan lama, tetapi tidak bisa menikmati permainan yang diinginkan. Beberapa di antara mereka adalah keponakan saya.
Sekali lagi petugas yang sangat kaku dan arogan tanpa memedulikan perasaan anak-anak yang dirugikan bersikukuh bahwa wahana sudah tutup dan melarang mereka bermain. Dengan adanya kejadian itu, pihak Dufan Ancol hanya ingin cari untung yang sangat besar dengan mengeksploitasi ego dan fantasi anak-anak dalam bermain, dan akhirnya mengecewakan mereka setelah memperoleh keuntungan.
Rosalin Harsono
Jelambar Kebon Pala RT 001 RW 007,
Pejagalan, Jakarta
Sumber: Harian Kompas
Akhirnya setelah berdebat panjang dengan petugas yang sangat kaku dan arogan, saya membayar tiket masuk tambahan sebesar Rp 85.000. Hari itu semua pengunjung dikenai tarif masuk yang sama tanpa peduli, apakah orang tua atau anak-anak. Ingin bermain atau hanya menemani. Yang ditolerasnsi hanya anak- anak dengan tinggi badan kurang dari 100 sentimeter dan orang tua berusia 60 tahun ke atas. Dengan demikian, rombongan saya yang jumlahnya delapan orang—tiga dewasa dan lima anak-anak—harus membayar jumlah yang sangat banyak, yaitu Rp 680.000, untuk bisa masuk ke Dufan.
Biaya tersebut belum termasuk tiket masuk Ancol Rp 35.000 per orang. Hari itu memang hari Selasa yang artinya bukan akhir pekan, tetapi boleh dianggap sebagai hari spesial mengingat masih masuk masa liburan sekolah. Dufan buka sampai dengan pukul 20.00 pada hari biasa.
Kejadian tidak mengenakan lainnya terjadi ketika banyak anak yang antre untuk bermain di Wahana Arung Jeram. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB dan petugas yang bertugas dengan seenaknya memotong antrean yang panjang di tengah dan menutup wahana dengan alasan sudah waktunya tutup, padahal masih 30 menit lagi menuju pukul 20.00.
Kontan anak-anak yang terhalang niatnya berteriak-teriak, bahkan ada yang mulai menangis karena merasa sangat kesal sudah antre panjang dan lama, tetapi tidak bisa menikmati permainan yang diinginkan. Beberapa di antara mereka adalah keponakan saya.
Sekali lagi petugas yang sangat kaku dan arogan tanpa memedulikan perasaan anak-anak yang dirugikan bersikukuh bahwa wahana sudah tutup dan melarang mereka bermain. Dengan adanya kejadian itu, pihak Dufan Ancol hanya ingin cari untung yang sangat besar dengan mengeksploitasi ego dan fantasi anak-anak dalam bermain, dan akhirnya mengecewakan mereka setelah memperoleh keuntungan.
Rosalin Harsono
Jelambar Kebon Pala RT 001 RW 007,
Pejagalan, Jakarta
Sumber: Harian Kompas
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 2 komentar
Pencarian lebih lanjut dengan Google..
Surat/Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Halaman Untuk Cetak
Kirim Artikel Ini
Komentar Pembaca
Link Ke Blog Anda
dufan, dah lama gak ke sana, mahal amat yach ampe 85 ribu + 35 ribu, + makan bisa 150 ribu lebih nich, dah gitu buat minuman yang mahal banget jualnya, anak jkt dah malez x yach ke dufan, mending ke mall, lebih adem
Saya dah lama gak ke dufan. Mengetahui harganya segitu mahal, mendingan jalan-jalan ke Bandung deh.
Naik travel pulang balik Rp. 120,000.
Sebagaimana perhitungan Sdr. Chirpy, sisa Rp. 30,000 bisa buat beli brownies. hehehe....