Online
Saat ini ada 81 pengunjung tamu dan 1 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
Polling
Kesehatan/Praktek Dokter - Opini
Dokter Praktek & Bisnis Farmasinya
Jumat, 01 Juni 2007
Bantuan Artikel
Apakah anda pernah berobat ke beberapa dokter yang berbeda dengan keluhan sakit yang sama?? Kalau anda pernah berarti kita mempunyai pengalaman yang sama.
Sebulan yang lalu saya atas saran dokter umum( teman saya)untuk pergi memeriksakan darah di laboratoruim dan setelah hasil laboratoriumnya ada saya kembali untuk membawakannya ke dokter umum dan selanjutnya di sarankan untuk konsultasi ke dokter specialis ke kota.
Dengan hasil laboratorum yang sama saya konsultasikan ke 3 dokter specialis (sebut saja dokter A) dengan memberikan 3 Jenis resep nama Obat. selanjutnya saya konsultasi lagi ke dokter specialis B dengan memberikan 2 Jenis resep obat yang namanya berbeda dengan 3 nama resep obat dokter specialis A. selanjutnya saya coba lagi untuk membawa hasil laboraorium ke dokter specialis yang ketiga dengan harapan agar semoga resepnya ada yang sama dengan salah satu dari 2 dokter sebelumnya agar saya tidak ragu untuk memulai mengkonsumsi obat yang di berikan, tapi hasilnya di luar dugaan saya, ternyata dokter specialis yang ke 3 memberikan resep 3 nama obat yang tidak sama dengan resep obat-obat dokter specialis sebelumnya.Dan yang lebih parahnya lagi obat-obat yang di resepkan harganya semua mahal.
Karena bingung saya kembali ke daerah untuk konsultasi dengan dokter teman saya, setelah saya ceritakan masalah saya dia malah ketawa terpingkal-pingkal, lalu saya coba untuk menanyakan alasannya ketawa, ternyata menurut dia bahwa kandungan yang ada di semua resep tersebut HAMPIR sama yang beda adalah nama perusahaan pembuat obatnya.
Tapi dapat saya simpulkan bahwa tenyata hampir semua dokter /specialis di kota mempunyai kontrak/bisnis dengan perusahaan obat, sehingga jangan heran bila anda sebenarnya tidak HARUS mengkonsumsi obat tetapi dokter tetap memberikan obat itu artinya kemungkinan ada unsur lain di balik itu,selain unsur yang berhubungan dengan penyakit anda.
Lalu bagaimana kita yang miskin harus menghindari jeratan bisnis dokter dan perusahaan obat/farmasi yang saat ini obat-obatnnya semakin menggila harganya...?
Menurut saya yang pertama yang harus di ingat adalah : OBAT MAHAL TIDAK SELAMANYA COCOK DAN SEBALIKNYA,untuk itu agar tidak terjerat obat mahal sebaiknya selain menceritakan tentang penyakit anda sama dokter ceritakan juga kemampuan ekonomi anda agar dokter bisa mempertimbangkan obat yang cocok dengan kemampuan kita selain itu tidak terjerat di bisnisnya, kalau bisa pikirkan untuk ikut Asuransi kesehatan, di Indonesia sudah cukup banyak asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan.
Semoga bermanfaat.
Angkus-Papua
Dengan hasil laboratorum yang sama saya konsultasikan ke 3 dokter specialis (sebut saja dokter A) dengan memberikan 3 Jenis resep nama Obat. selanjutnya saya konsultasi lagi ke dokter specialis B dengan memberikan 2 Jenis resep obat yang namanya berbeda dengan 3 nama resep obat dokter specialis A. selanjutnya saya coba lagi untuk membawa hasil laboraorium ke dokter specialis yang ketiga dengan harapan agar semoga resepnya ada yang sama dengan salah satu dari 2 dokter sebelumnya agar saya tidak ragu untuk memulai mengkonsumsi obat yang di berikan, tapi hasilnya di luar dugaan saya, ternyata dokter specialis yang ke 3 memberikan resep 3 nama obat yang tidak sama dengan resep obat-obat dokter specialis sebelumnya.Dan yang lebih parahnya lagi obat-obat yang di resepkan harganya semua mahal.
Karena bingung saya kembali ke daerah untuk konsultasi dengan dokter teman saya, setelah saya ceritakan masalah saya dia malah ketawa terpingkal-pingkal, lalu saya coba untuk menanyakan alasannya ketawa, ternyata menurut dia bahwa kandungan yang ada di semua resep tersebut HAMPIR sama yang beda adalah nama perusahaan pembuat obatnya.
Tapi dapat saya simpulkan bahwa tenyata hampir semua dokter /specialis di kota mempunyai kontrak/bisnis dengan perusahaan obat, sehingga jangan heran bila anda sebenarnya tidak HARUS mengkonsumsi obat tetapi dokter tetap memberikan obat itu artinya kemungkinan ada unsur lain di balik itu,selain unsur yang berhubungan dengan penyakit anda.
Lalu bagaimana kita yang miskin harus menghindari jeratan bisnis dokter dan perusahaan obat/farmasi yang saat ini obat-obatnnya semakin menggila harganya...?
Menurut saya yang pertama yang harus di ingat adalah : OBAT MAHAL TIDAK SELAMANYA COCOK DAN SEBALIKNYA,untuk itu agar tidak terjerat obat mahal sebaiknya selain menceritakan tentang penyakit anda sama dokter ceritakan juga kemampuan ekonomi anda agar dokter bisa mempertimbangkan obat yang cocok dengan kemampuan kita selain itu tidak terjerat di bisnisnya, kalau bisa pikirkan untuk ikut Asuransi kesehatan, di Indonesia sudah cukup banyak asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan.
Semoga bermanfaat.
Angkus-Papua
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 20 komentar
Pencarian lebih lanjut dengan Google..
Surat/Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Halaman Untuk Cetak
Kirim Artikel Ini
Komentar Pembaca
Link Ke Blog Anda
Dokter di Indonesia mah..Emang sudah dari sononya Bang Angkus..soalnya kalau tidak begitu kapan mobil..he...he..
Setuju sarannya..makanya tinggal aja di Papua jangan kekota...
Dokter itu kan salesman farmasi. Atau agen farmasi yg menyamar jadi dokter. Bingung??
Ditengah kapitalisme global, apa yg dilakukan syah2 aja toh! Jangankan dokter, dukun saja sudah komersil.
Makanya, mari kita biasakan hidup sehat. Makan banyak sayur, mengakses informasi yg sehat, cukup olah raga. Insya'allah, seandainya ajal menjemputpun, kita tak akan banyak keluar uang untuk membayar 'para pembaca do'a'. Peace bro.
Pak Angkus kok pak Angkus selalu aja dapat persoalan dengan obat dan dokter,barangkali kebetulan saja pak Angkus mempunyai pengalaman tidak enak tersebut.
Pengalaman saya lain pak Angkus,setiap tahun saya cuti ke Bandung dan kadang saya membawa teman teman dari belanda,pengalaman saya selalu saja salah satu dari teman saya tsb juga kadang istri saya kena sakit,dan saya langsung bawa kedokter yang biasa saya datangi(dokter umum) dan setelah beberapa hari mereka pada sembuh semua,dan saya sendiri pernah mencoba general chekup melalui dokter tersebut(Iseng aja) hasilnya saya bawa ke belanda dan saya lakukan general chekup ulang ternyata hasilnya sama saja pada waktu saya general chekup di Bandung
Mengenai obat? ternyata dokter tersebut memberikan obat yang manjur dan tidak mahal bila salah seorang dari group kami sakit padahal dia tahu yang sakit itu orang asing karena setiap kedokter saya harus menterjemahkan pada dokter tersebut.Jadi saya kira pak Angkus saja yang sial selalu dapat dokter yang ngawur,tidak semua dikter di Indonesia seperti yang bapak Angkus bilang,dan jangan salah pak Angkus dokter yang berpengalaman di Amsterdam kebanyakan mereka dari Indonesia.Jadi pindah saja pak Angkus dari Papua
Pak P.N Jonathan, sepertinya anda kurang simpati dengan semua apa yang saya tulis, tidak apa2 itu hak anda.tapi coba cermati baik2 apa inti dari sebuah tulisan. jika pikiran negatif mendahului pikiran positif maka hasilnya seperti komentar anda..
GBU
Angkus-Papua
Pemerhati masalah sosial.
Pak di Amsterdam, Apa yang di sarankan dan dibilang Pak Angkus betul..saat ini tidak ada dokter yang bebas kontrak dengan perusahaan obat..saya pernah bekerja di perusahaan farmasi..emang tugas kami begitu membuat janji dengan dokter,yah tau sama taulah dan untung sama untung dengan dokter..jadi kami sebagai karywan harus mengikuti kebijakn perusahan..
Ateng
Pak Angkus betul,aku pernah berobat dan rawat inap di RS kelas 2 kebetulan saya sekamar dengan pasien yang sakitnya sama dengan saya dan di tangani oleh dokter yang sama, tapi saya heran selain obatnya beda yang dikasih dokter..juga ketika pasiennya minta rawat jalan dokter tidak keberatan sedangkan saya tidak di ijinkan ketika saya tanya dokternya bilang kan bukan bapak yang bayar santai saja di rumah sakit..maksudnya apa..?
Yth. Pak Angkus,
Sekadar berbagi pengalaman. Hal yang sama sering terjadi, baik tehadap saya sendiri, keluarga, maupun teman-teman. Nah menjawab pertanyaan:
"Lalu bagaimana kita yang miskin harus menghindari jeratan bisnis dokter dan perusahaan obat/farmasi yang saat ini obat-obatnnya semakin menggila harganya...?"
Mudah saja.
Pertama: Sadari bahwa dokter DILARANG menuliskan MERK obat di dalam resep, ada peraturan dan kode etik untuk ini. Yang wajib diresepkan dokter adalah nama generik obat (misal: untuk keluhan sakit kepala diresepkan Paracetamol, nah salah satu merk paracetamol adalah Panadol). Tegur bila dokter melakukan ini, perhatikan raut mukanya. hehe..
Kedua: Bila atas alasan supaya gampang dokter tetap menuliskan MERK obat di resep, tanyakan padanya apa nama generik obat tersebut.
Ketiga: Saat menebus obat ke apotik, tanyakan ke apoteker apakah ada merk lain untuk paracetamol tersebut, selain panadol. (satu lagi masalah: apoteker jarang ada di tempat kerjanya, ini juga melanggar peraturan).
Benar kata teman anda, harusnya anda bisa mengetahui bahwa obat2 tersebut merk-nya saja yang beda, komposisinya sama: ingat nama generik.
Keempat: Yang perlu juga diingat, Dokter DILARANG berjualan obat. Ada yang nekat menjual. Ada yang cukup pintar untuk meresepkan saja.
Jadi bila kita cukup mengetahui situasi lapangan, jangan khawatir dengan kerjasama dokter-perusahaan.
Bagi saya, ada lagi masalah krusial yang sudah lama dan selama ini terselubung: obat palsu. bahkan khabarnya pengedar narkoba udah alih profesi jadi pemalsu obat. Hehe.. semua sama, yg penting untung.
~awie
Pak Angkus saya bukan negatif terhadap tulisan bapak cuma hal hal yang positif di dokter Indonesia juga banyak pak,artinya segala sesuatu itu ceritakan juga positifnya karena tidak semua dokter di indonesia seperti yang bapak tulis,dan tidak semua obat juga seperti apa yang pernah bapak tulis
By the way...GBU too
Pengalaman yang bp. angkus rasakan memang sebuah realita dari hubungan antara dokter dengan perusahaan farmasi di Indonesia.
Saya menyebutnya 'Persekongkolan di balik tangan'
. Mengapa demikian? karena memang perjanjian yang mereka buat (dokter dan farmasi) tidak dalam bentuk "hitam di atas putih". keduanya bersekongkol hanya lewat omongan doang. dokter minta jatah "sekian" dan farmasi langsung transfer duit "sekian" itu ke rekening pribadi dokter. nah, selanjutnya pihak farmasi tinggal mengontrol resep dokter tersebut lewat daftar resep di apotik atau distributor. Jika memang dokter tersebut tidak meresepkan produk obat dari farmasi tsb, maka untuk selanjutnya dokter tsb akan masuk ke "black list" dokter oleh perusahaan farmasi.
Mencengangkan bukan? yah memang praktek ini dibuat sedemikian "rapihnya" sehingga saling menguntungkan ke dua belah pihak.
selanjutnya, bagaimana solusinya???
pemerintah tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap masalah ini. kalo memang peraturannya bahwa dokter dilarang menerima suap dari farmasi. ya mohon di tindak, dokter-dokter dan farmasi yang masih melakukan praktek persekongkolan tsb. bisa dengan cabut izin, denda, atau apapun yang bisa menimbulkan efek jera.
Dugaan saya, kenapa obat merek di indonesia mahal, pasti karena biaya promosi ke dokternya yang tinggi, selain bahan bakunya yang masih di impor.
inilah realita problem industri farmasi di negeri tercinta kita..
To Pak Jonathan
Sepertinya semua anda yang paling tahu sehingga anda perlu mengomentarinya.....
Gak apa apa sih tapi lama lama risi juga karena komentar anda tidak bermutu (tidak memberikan solusi atau jalan keluarnya dari permasalahan yang ada)
Mahal enggaknya obat sih kayaknya nga gitu masalah.....asalkan diagnosanya efektif............Emang kesehatan ada harganya????? soal dokter kolusi dengan Farmasi sih urusan pemerintah tuh yg musti ngatur......urusan nama baik dokter Indonesia nih yg jadi pertannyaan besar........soalnya masih banyak tuh orang Indo yg sakit lumayan parah tidak mau berobat di Indo dan pergi minimal ke negeri tetangga........kenapa bisa begitu ya?????? Dokter di Indo tidak hanya harus berbenah masalah kolusi tetapi juga masalah keterampilan yg rendah dan kepercayaan masyarakat yg bahkan bisa dikatakan tidak percaya untuk penyakit yg berat(menyangkut operasi besar)................Gimana nih IDI h........
Pak Iskandar memberi komentar itu bebas bagaimana dan harus bagaimana tergantung yg baca nya mengerti atau nggak akan suatu komentar,ternyata anda seorang yang tergolong terakhir yg saya sebutkan..so silly
Pak Jonathan
Apa gak kebalik nih siapa yang keminter,dan sok tahu semua masalah coba ngaca Pak??????
ISKANDAR
je ben zo dom dat iedereen begrijp niet wat je wil
Jawabanya : Pak Jonathan. he..he je ben zo dom dat iedereen begrijp niet wat je wil...??????
Idiiih kalian nih apa apaan sih,To pak Iskandar jangan ikut campur deh,itu urusannya pak Angkus dan Pak Jonathan,lagian bapak ngga malu mancing mancing kemarahan orang????to Pak Jonathan bapak juga aneh aneh sih meladeni segala komentar lagian bapak juga ngga usah meladeni dng bahasa belanda,aku juga ngerti banget lo pak..het is niet verstandig in nederlands beantwoorden.....To Pak Adri ngga usah ikut ikutan ini bukan urusan bapak dengan mereka dan cara membeo seperti itu menunjukkan anda bukan orang dewasa dan anda berkomentar lebih keluar dari fokusnya
Untuk semua Pak Iskandar Pak Jonathan Pak Angkus dan terutama pak Adri damai dibumi,peace in the world en vrede op aarde
To Baby's salam dari saya
Setuju bu mira dan baby...
Pasti belum berdoa sebelum menulis komentar tuh bu...
jangan lupa y
to pk jonathan,..
kalo pk angkus sharing about hal2 tdk enak yg dialaminya, memang disini tempatnya, agar pembaca tau ada amsalah apa saja yg terjadi di negeri kita tercinta ini, kalo hal2 baik tentang dokter kayaknya tidak perlu diceritakan, karena memang dokter "dilahirkan" untuk menolong sesama.
dan Anda nampaknya terlalu membanggakan amsterdam dan memandang sebelah mata papua....
"...Jadi pindah saja pak Angkus dari Papua..",
bagaimana mungkin anda lebih tau tentang Indonesia, kalo hanya sekali2 pulang kampung...
dr di amsterdam baik bukan semata2 karena karakternya tapi regulasi di amsterdam lebih baik dan lebih adil kepada konsumen,
..beberapa kali baca comment anda menanggapi pk angkus, kasian sekali nda kelihatan sombongnya,..apalagi dgn bahasa belanda,...pake english aja pak lebih fresh, bhs belanda yg pake almarhum kakek nenekku waktu jadi kepala district di jaman dulu itu....
Masih untung Pak dikasih obat mahal dari pada beli obatnya murah tapi palsu nah loh