Online
Saat ini ada 102 pengunjung tamu dan 2 pengunjung terdaftar online.

Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login




 


 Tidak bisa login?
 Mau daftar? KLIK DI SINI!
Polling

Menurut Anda, Media Konsumen itu...

[ Hasil | Polling ]

Votes: 2009

Transportasi/Kereta Api - Kritik & Saran

PT. Kereta Api Indonesia = Markas Tikus Korupsi

Kamis, 04 September 2008

Bantuan Artikel
Sudah jadi rahasia umum, pelayanan PT. KAI (baca Perusahaan Negara Kereta Api) BOBROK dan PENUH BOROK!! Dari pintu gerbang stasiun yang bertuliskan "Laporkan bila ada praktek per-Calo-an", lebih baik diganti "Selamat Datang di Markas Calo". Coba saja, saat beli ticket (biasanya kelas ekonomi & bisnis) pada saat awal-awal buka loket dipastikan adanya pajangan "Tempat Duduk Habis". Namun 2 langkah setelah karcis terbeli, seorang yang berseragam Dishub akan menawari nomor kursi dengan kompensasi senilai harga tiket itu sendiri.

Demikian pula saat menginjakkan kaki di kereta, bahkan kursi Kereta Makan-pun ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi dari harga tiket resmi.
Setelah kereta berjalan kondekturpun memeriksa karcis, disini selalu terjadi praktek transaksi dengan para penumpang gelap (tanpa karcis), per pemeriksaan, kondektur memungut (baca memalak) Rp. 5.000,- s/d 25.000,- per penumpang gelap (tergantung baju yang dikenakan penumpang gelap tersebut, kalau TNI pasti lebih murah).

Selama perjalanan, penumpang diganggu oleh teriakan dan mondar-mandirnya pedagang asongan yang menawarkan aneka dagangan dengan harga selangit, para kru KA-pun berbuat hal sama, bedanya mereka berseragam resmi. Lho,.. tugas mereka sebenarnya apa sih?! pertanyaan seperti itu pasti terlintas di benak para penumpang. Bukankah mereka itu yang seharusnya memastikan terjaganya kebersihan dan tersedianya air di toilet, atau tanggap mengatasi bila ada trouble pada lampu dan fan, dll. dll.

PRIHATIN, hanya itu yang dirasakan oleh para pengguna jasa Kereta Api Indonesia. Di lain sisi para karyawan KAI setiap saat mendulang emas untuk kepentingan pribadinya, di sisi lainnya PT. KAI selalu melaporkan DEVISIT/RUGI pada setiap Laporan Tahunannya, dan selanjutnya berkilah tidak mampu untuk melakukan maintenance dan perbaikan layanan jasa.

WAJAR apabila angka kecelakaan KA tidak dapat ditekan, kerusakan fasilitas KA juga tidak sempat diperbaiki dan lagi-lagi para pengguna jasa tidak akan pernah mendapatkan haknya yaitu pelayanan yang aman dan nyaman(semurah apapun ongkos/harga karcisnya).

MALU dan memalukan, bila di sekitar para penumpang terdapat orang asing, carut marut wajah pelayanan publik negara ini dipertontonkan (bahkan dengan suatu kebanggaan dan dipelihara untuk tidak berubah).

Sudah saatnya KPK "membuka cabang" di lingkungan ini. Kalau perlu, pecat saja para tikus KA yang berpraktek seperti ini, karena sebenarnya merekalah yang mensabotase kepentingan negara, kepentingan rakyat banyak, dan merekalah yang sebenarnya penyebab terbunuhnya ribuan korban kecelakaan KA.

Dick Prass
Perum. Griya Alam Sentosa A7 - 41
Bogor


Artikel lain dalam kategori Transportasi/Kereta Api :

Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 4 komentar


  1. Bams | Pesan | Kamis, 04 September 2008

    Yg buat saya gak msk akal, yg pernah saya liat di tv wkt menelusur modus calo tiket KA, si calo tuh nawarin ke calon penumpang kan msh di area stasiun jg, ktnya di stasiun jg byk disebar petugas keamanan, trus ngapain aja tuh petugas keamanannya? jgn2 diksh upeti ama si calo jd pura2 gak liat transaksi si calo ya icon_razz sptnya tll lamban & korup tuh KAI, hrs sgr diaudit kualitas layanannya! Saya usul smua karyawan KAI mulai dr yg plg bawah sampai top managementnya hrs diminta bikin key performance indicator (KPI) kaitkan hslnya dgn kenaikan gajinya, jd hanya mrklah yg prestasinya baik yg akan dpt kenaikan gaji tinggi, yg dpt nilai rendah berulangkali didemosi aja, maju terus Indonesiaku icon_biggrin

  2. Panca Handaka | Pesan | Jumat, 05 September 2008

    SETUJU. Harus ada pihak yang memantau keuangan, operasional, dll seperti KPK. Semakin hari pelayanan kereta api semakin tidak bagus. Kalau pak Dick prass menulis tanggal 5 September, pasti tulisannya akan berbeda. Pak Dick prass naik kereta tidak kalau kerja? Hari Jumat tanggal 5 September terjadi bencana yang luar biasa yang terjadi di KRL jurusan Bogor-Jakarta. Ribuan orang terlantar akibat ada gangguan antara stasiun UI dan Pasar minggu. Seluruh kereta ekonomi-Express semua tertahan antara stasiun pasar minggu sampai stasiun kota. Saya sendiri dari stasiun kota jam 17.30 sampai stasiun Bojong gedhe jam 22.30. Bayangkan berapa jam saya dan banyak orang harus meunggu ketidakpastian kereta yang mengalami gangguan. Yang lebih ironis lagi, setiap kita berhenti di stasiun, tidak ada pengumuman resmi dari stasiun kenapa kereta bisa mogok seperti itu, apalagi permohonan maaf. Saya tidak tahu isi dari stasiun dan jajaran PT KAI itu orang-oranya seperti apa? sungguh memalukan.....

  3. Fathur R | Pesan | Sabtu, 06 September 2008

    icon_lol icon_lol icon_lol

    Memang puluhan tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan akan berangkat ke Yogya saya udah kapok mendapat layanan kinerja para karyawan/ti PJKA. Dicembrutin sama petugas loket (perempuan) karena gak mau beli tiket ama calo yang berdiri dan nyamperin kita saat antrean tiket di stasiun Gambir. Diperas kantong kita dengan harga makanan/minuman yang mencekik leher (5 kali lipat harga biasa) oleh petugas pantri atau restoran PJKA. Pernah ditipu ama calo tiket stasiun Kota (berseragam PJKA), beli tiket jurusan Yogya, diberikan tiket icon_evil jurusan Semarang.

    Makanya kapok deh naik kereta api bila bepergian kecuali keadaan terpaksa. Mental aparatnya dari atas sampai bawah umumnya mental KORRUP'S....!

    icon_evil icon_evil icon_evil

  4. daudi miliv | Pesan | Selasa, 09 September 2008

    Yah...biasalah, dengan berbagai alasan tentunya mereka para karyawan PT KAI ini membela...Bagusnya semua status karyawan PT KAI di buat status kontrak selamanya, jadi kalo ada yg gak becus kerja tinggal di stop perpanjangan kontraknya. Kalo begini saya yakin mereka pada sungguh2 bekerja....

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !


 Pencarian lebih lanjut dengan Google..

Google
 
Web www.mediakonsumen.com



Surat/Artikel Terbaru



Komentar Terbaru