Online
Saat ini ada 151 pengunjung tamu dan 1 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
Polling
Masih Ada Kah Rp.50?
Minggu, 13 Juli 2008
Bantuan Artikel
Kejadian Pertama:
Saya membeli makanan dan minuman di Alfamart Pasirkaliki Bandung. Harga yang tertera tertera mengandung Rp.50 dan tidak ada kembalian Rp.50. Hasilnya pembulatan ke atas.
Kejadian Kedua:
Saya membeli lomie di Mie 61 di daerah belakang Cibadak Bandung. Harga di nota pembayaran mengandung Rp.50 dan saya mendapatkan kembalian Rp.50. Hasilnya tidak ada pembulatan ke atas.
Dengan 2 kejadian di atas. Saya berpikir, apakah uang Rp.50 itu tidak ada artinya sehingga harus dibulatkan ke atas? Sedangkan BI masih menganggap Rp.50 adalah alat pembayaran yang sah!
Adakah yang salah dengan uang Rp.50?
Thomas Aquino
Yogyakarta
Saya membeli lomie di Mie 61 di daerah belakang Cibadak Bandung. Harga di nota pembayaran mengandung Rp.50 dan saya mendapatkan kembalian Rp.50. Hasilnya tidak ada pembulatan ke atas.
Dengan 2 kejadian di atas. Saya berpikir, apakah uang Rp.50 itu tidak ada artinya sehingga harus dibulatkan ke atas? Sedangkan BI masih menganggap Rp.50 adalah alat pembayaran yang sah!
Adakah yang salah dengan uang Rp.50?
Thomas Aquino
Yogyakarta
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 7 komentar
Pencarian lebih lanjut dengan Google..
Surat/Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Halaman Untuk Cetak
Kirim Artikel Ini
Komentar Pembaca
Link Ke Blog Anda
Saya juga pernah blanja di Gramedia Botani Square Bogor (kira2 2 minggu yang lalu) dengan total blanja sekian puluh ribu 800 rupiah (saya lupa persisnya berapa), yang 800 itu saya bayar dengan uang logam Rp 500, Rp 200, dan 2 buah uang Rp 50.
Lalu kasirnya bilang "uangnya yang 100-an aja" (sambil ngembalikan yang 50-an tadi)...
Lalu saya tanya, "emangnya 50-an nggak laku mbak?" ..
Mbak kasirnya bilang "kami nggak mengembalikan uang 50-an"
Ya udah, karna saya males membahas saya kasih aja dia ribuan karna saya nggak punya lagi duit receh.
Di bis kota Jakarta lebih aneh lagi, kalo kita bayar ongkos, misalnya ongkosnya 2500, kita bayarnya 2000+200+200+50+50 pasti yang 50-an itu ntar dibuang sama abang2 keneknya keluar bis. Saya sampe berpikir, ini orang baru jadi kenek aja udah kayak gitu sombongnya buang2 duit
Padahal duit biarpun cuman 50 perak kalo dikumpulin kan banyak juga, bisa dituker di bank.
Apalagi toko yang menolak uang recehan Rp. 50. - sedangkan peminta minta diperempatan itu kadang kadang kalau diberi Rp. 50,-- terus dibuang.
Salam.
saya masih dikembalikan Rp 50, masih bayar dengan Rp 50. Malah di Hero waktu saya bayar kaya tarantula, kasirnya bilang kalo saya punya banyak, bawa aja ke situ, karena mereka sering butuh
Saya juga sering kagum sama orang yang pake buang Rp 50 keluar bus, ato pengemis ato tukang parkir buang-buang duit yang dikasi orang ke dia. Tapi ga masalah, karena yang akhirnya menadahkan tangan itu mereka, bukan kita.
Setiap pulang saya naruh uang receh dari mana-mana di suatu tempat, nanti kira-kira sebulan dihitung kan dapat 18 ribu, 20 ribu.. Hargai aja biarpun keliatan kecil
@Mas Thomas...jalan jalan sampai di bandung....uang Rp 50 seperti mas Brio bilang,minta minta aja kalau dikasih uang Rp 50 kita ini yang memberi dipisuhi(dimaki)makanya hidup mereka ya begitu aja nggak ada berkatnya..di Eu biar kembaliannya 6 cent,anda diberi uang 5 cent dan 1 cent,disini orang menghargai uang walau sekecil apapun karena prinsip kita disini "Kalau tidak bisa menghargai uang kecil bagaimana mau menhargai uang besar"...Btw,mas Thomas,kalau makan lomie yg enak di Bqandung adanya di Jl Pasirkaliki bawah(nomornya saya lupa,tapi semua org udah tahu)
Saya pernah tuh beli roti di Holland Bakery, trus uang 50 perak saya dikembalikan, ktnya mrk gak mengenal pecahan 50 perak, saya sih lgs tanya 'emangnya uang ini udah gak laku di BI?', krn saya terus2an tanya, akhirnya mrk terima juga
yang hebat bin ajaib di terminal leuwipanjang Bandung...
Jika anda parkir mobil di sana, petugas memberikan karcis senilai Rp.800 dan dia sudah siap dengan kembalian baik pecahan Rp.100 atau Rp.200 ~ di tengah kelaziman parkir minimal Rp.1000 atau malah Rp.2000 tarif tanggung ini terasa aneh. Yg lebih "aneh" lagi petugasnya kok mau memberikan uang kembalian, koq tidak dibulatkan saja?
Nah rupanya nanti pas masuk terminal lagi2 ada keanehan... tarif peron berharga Rp.200 dan lagi-lagi mereka siap dengan uang kembalian. Untuk yg tarif peron Rp.200 saja saya sudah aneh, maklum sekarang kerupuk aci saja minimal Rp.500
Jadi di Indonesia yg sudah terbiasa dengan "pembulatan" atau nominalisasi permen... praktek orang2 jujur di terminal leuwipanjang jadi terasa "aneh"
Soal kondektur buang duit seperti dibilang Tarantula, itu namanya SMS= Sudah Miskin Sombong!!
Saya pernah belanja di alfamart ,belanjaan saya mengandung angka 50..dan saya mendapat kembalian yang ada pecahan 50an..tapi saya malah bertanya ..emangnya uang 50an masih laku...karena diwarung2 sudah tidak laku...Iya di alfamart masih laku ..Hanya saja pecahan 50an emang sudah langka,yang saya temui di tempat perbelanjaan memang seringkali diganti dengan permen..mungkin kalo pecahan 50an diperbanyak...tidak ada kejadian seprti ini lagi