Online
Saat ini ada 153 pengunjung tamu dan 0 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
Polling
Media Masa/Media Elektronik - Opini
Iklan Politik di TV dan Efeknya
Senin, 07 Juli 2008
Bantuan Artikel
Saya akui saya ini termasuk orang yang tidak begitu mengerti politik, kepercayaan terhadap partai politik dan orang-orang politik sudah berada pada titik nadir bagi saya tidak ada lagi omongan mereka yang dapat saya percaya.
Bila masa pemilihan umum datang, baru partai politik dan orangnya sangat sibuk menggalang Massa, mereka terasa sangat dekat sekali dengan konstituennya (masyarakat). Namun ketika mereka sudah menduduki posisi yang diinginkan sikap mereka berubah 180 derajat, boro-boro memperjuangkan nasib rakyat yang sebelumnya membantu mereka menduduki jabatan dan kursi dewan, mereka cuman kasak-kusuk memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan partai mencari peluang mendapatkan Uang mereka yang dihabiskan semasa Pilkada dan Pemilu.
Melalui obrolan ngalor-ngidul dikantor dan kafe-kafe bersama teman-teman dapat saya mengerti sedikit demi sedikit situasi politik di Indonesia, konon katanya karena sekarang jamannya pemilihan langsung oleh rakyat maka yang menjadi penting bagi seorang tokoh politik bukanlah dengan siapa dia berdiri (partai yang mendukungnya)namun lebih pada image-nya dimata masyarakat, apakah dia seorang figur yang dikenal atau tidak oleh masyarakat pemilihnya. Mungkin karena itu banyak sekali bermunculan iklan-iklan politik yang bukan saja mengiklankan suatu partai politik tapi individunya.
Saya sedikit kaget ketika siaran langsung Euro 2008 berlangsung, tiba-tiba muncul komentator televisi yang langsung menyaksikan Euro di Austria. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Bpk.Soetrisno Bachir salah satu pentolan Partai Amanat Nasional, entah beliau memang pecinta bola sejati seperti saya atau hanya memamfaatkan momen euforia Euro 2008 yang begitu menggema di Indonesia. Namun "manuver" beliau memang sempat membuat saya sedikit tertarik untuk mengetahui lebih jauh siapakah beliau ini.
Seperti kata bijak "politik itu seni, membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin", lewat bombardir iklan di televisi (metro tv juga) saya akhirnya mengetahui iklan Bpk Soetrisno dan kata-katanya yang terkenal "Hidup adalah Perbuatan" . Entah apa maksudnya itu, sampai saat ini saya mencoba meneliti lewat internet,buku-buku dan pendapat orang yang saya anggap ahli bahasa. Namun jawaban dari kata filosofis itu bisa bermacam-macam dan tergantung dari orang yang mengartikannya, tapi menurut saya kalau tujuannya Pak Bachir itu cari popularitas dia sangat berhasil, bahkan dari seorang yang anti-politik seperti saya.
Lewat berita-berita di Internet dan Blog-blog yang bertebaran, saya pun mendapat bilangan yang cukup pasti tentang berapa "harga" yang dibayarkan Bpk.Soetrisno untuk sebuah popularitas. Konon katanya biaya yang dikeluarkan untuk semua manuver dan iklan-iklan televisi itu mencapai 300 milyar lebih, busyet!!!. Ternyata biaya menjadi orang terkenal itu sangat mahal yak?, pantas orang-orang bergelut pengen jadi terkenal dengan mati-matian ikutan talent show di TV.
Reaksi masyarakat beragam, ada yang mencemooh tindakan yang dianggap mubazir ini, ada pula yang sampai mensomasi-nya seperti yang dilayangkan Masyarakat Hukum Indonesia yang menuduh Pak. Bachir tidak sensitif dengan keadaan rakyat Indonesia yang sedang kesusahan. Mereka menyayangkan penghamburan biaya iklan itu bisa digunakan untuk kegiatan sosial yang mempunyai manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia yang memerlukan, saya sendiri menyayangkan tindakan keduanya baik pak Bachir yang menghambur-hamburkan uang dan HMI yang saya anggap bereaksi berlebihan sampai melayangkan somasi. Toh uang yang digunakan adalah uang pribadi, sejauh mana pak Bachir menggunakannya terserah dia.
Yang patut kita khawatirkan apabila memang manuver-manuver politik yang dilakukan tokoh-tokoh ini berhasil menarik simpati rakyat, kala mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan (suara rakyat). Sampai mereka mendapatkan posisi dan jabatan yang mereka idam-idamkan, trus tindakan yang dilakukan setelahnya apakah mereka memenuhi janjinya membela kepentingan rakyat seperti di-iklan atau tidak??.
Keterbatasan pendidikan sebagian besar rakyat Indonesia memang menjadi penghalang, sejauh mana mereka memandang dan memilih calon-calon pemimpin mereka. Iklan televisi menurut saya sangat kuat efeknya bagi masyarakat Indonesia, jangan sampai pilihan didasarkan karena asal "kenal dan tahu saja" tanpa tahu sejauh mana kualitas dan kredibilitas calon pemimpin tersebut. Saya kaget ketika saya menanyakan tentang pilihan pembantu saya ketika Pilkada Jabar beberapa waktu lalu, dia mengaku memilih Dede Yusuf sebagai Gubernur Jabar dia sama sekali tidak tahu bahwa Bang Dede itu cuman dicalonkan sebagai Wakil Gubernur. Yang penting bagi dia bahwa wajah Bang Dede (begitu dia menyebut) sering dilihat di iklan "Bodrex" muda dan ganteng, Busyet!!...
Saya sendiri tetap bersikap apatis, baik pada Pemilu atau Pilkada karena tidak ada satupun partai politik dan tokoh politik yang benar-benar dapat saya percayakan suara saya. Entah sampai kapan saya pertahankan sikap saya ini, kalau melihat "muka badak" DPR, politikus "koplo" dan Pemimpin yang tidak mempunyai wibawa dan ketegasan, saya tetap "Golput" sampai waktu yang belum ditentukan.
Thomas
Tamansari Bukit Bandung X/8
Bandung
Melalui obrolan ngalor-ngidul dikantor dan kafe-kafe bersama teman-teman dapat saya mengerti sedikit demi sedikit situasi politik di Indonesia, konon katanya karena sekarang jamannya pemilihan langsung oleh rakyat maka yang menjadi penting bagi seorang tokoh politik bukanlah dengan siapa dia berdiri (partai yang mendukungnya)namun lebih pada image-nya dimata masyarakat, apakah dia seorang figur yang dikenal atau tidak oleh masyarakat pemilihnya. Mungkin karena itu banyak sekali bermunculan iklan-iklan politik yang bukan saja mengiklankan suatu partai politik tapi individunya.
Saya sedikit kaget ketika siaran langsung Euro 2008 berlangsung, tiba-tiba muncul komentator televisi yang langsung menyaksikan Euro di Austria. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Bpk.Soetrisno Bachir salah satu pentolan Partai Amanat Nasional, entah beliau memang pecinta bola sejati seperti saya atau hanya memamfaatkan momen euforia Euro 2008 yang begitu menggema di Indonesia. Namun "manuver" beliau memang sempat membuat saya sedikit tertarik untuk mengetahui lebih jauh siapakah beliau ini.
Seperti kata bijak "politik itu seni, membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin", lewat bombardir iklan di televisi (metro tv juga) saya akhirnya mengetahui iklan Bpk Soetrisno dan kata-katanya yang terkenal "Hidup adalah Perbuatan" . Entah apa maksudnya itu, sampai saat ini saya mencoba meneliti lewat internet,buku-buku dan pendapat orang yang saya anggap ahli bahasa. Namun jawaban dari kata filosofis itu bisa bermacam-macam dan tergantung dari orang yang mengartikannya, tapi menurut saya kalau tujuannya Pak Bachir itu cari popularitas dia sangat berhasil, bahkan dari seorang yang anti-politik seperti saya.
Lewat berita-berita di Internet dan Blog-blog yang bertebaran, saya pun mendapat bilangan yang cukup pasti tentang berapa "harga" yang dibayarkan Bpk.Soetrisno untuk sebuah popularitas. Konon katanya biaya yang dikeluarkan untuk semua manuver dan iklan-iklan televisi itu mencapai 300 milyar lebih, busyet!!!. Ternyata biaya menjadi orang terkenal itu sangat mahal yak?, pantas orang-orang bergelut pengen jadi terkenal dengan mati-matian ikutan talent show di TV.
Reaksi masyarakat beragam, ada yang mencemooh tindakan yang dianggap mubazir ini, ada pula yang sampai mensomasi-nya seperti yang dilayangkan Masyarakat Hukum Indonesia yang menuduh Pak. Bachir tidak sensitif dengan keadaan rakyat Indonesia yang sedang kesusahan. Mereka menyayangkan penghamburan biaya iklan itu bisa digunakan untuk kegiatan sosial yang mempunyai manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia yang memerlukan, saya sendiri menyayangkan tindakan keduanya baik pak Bachir yang menghambur-hamburkan uang dan HMI yang saya anggap bereaksi berlebihan sampai melayangkan somasi. Toh uang yang digunakan adalah uang pribadi, sejauh mana pak Bachir menggunakannya terserah dia.
Yang patut kita khawatirkan apabila memang manuver-manuver politik yang dilakukan tokoh-tokoh ini berhasil menarik simpati rakyat, kala mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan (suara rakyat). Sampai mereka mendapatkan posisi dan jabatan yang mereka idam-idamkan, trus tindakan yang dilakukan setelahnya apakah mereka memenuhi janjinya membela kepentingan rakyat seperti di-iklan atau tidak??.
Keterbatasan pendidikan sebagian besar rakyat Indonesia memang menjadi penghalang, sejauh mana mereka memandang dan memilih calon-calon pemimpin mereka. Iklan televisi menurut saya sangat kuat efeknya bagi masyarakat Indonesia, jangan sampai pilihan didasarkan karena asal "kenal dan tahu saja" tanpa tahu sejauh mana kualitas dan kredibilitas calon pemimpin tersebut. Saya kaget ketika saya menanyakan tentang pilihan pembantu saya ketika Pilkada Jabar beberapa waktu lalu, dia mengaku memilih Dede Yusuf sebagai Gubernur Jabar dia sama sekali tidak tahu bahwa Bang Dede itu cuman dicalonkan sebagai Wakil Gubernur. Yang penting bagi dia bahwa wajah Bang Dede (begitu dia menyebut) sering dilihat di iklan "Bodrex" muda dan ganteng, Busyet!!...
Saya sendiri tetap bersikap apatis, baik pada Pemilu atau Pilkada karena tidak ada satupun partai politik dan tokoh politik yang benar-benar dapat saya percayakan suara saya. Entah sampai kapan saya pertahankan sikap saya ini, kalau melihat "muka badak" DPR, politikus "koplo" dan Pemimpin yang tidak mempunyai wibawa dan ketegasan, saya tetap "Golput" sampai waktu yang belum ditentukan.
Thomas
Tamansari Bukit Bandung X/8
Bandung
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 11 komentar
Pencarian lebih lanjut dengan Google..
Surat/Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Halaman Untuk Cetak
Kirim Artikel Ini
Komentar Pembaca
Link Ke Blog Anda
Saya juga golput
Nggak ada satupun yang bisa dipercaya, smuanya cuman bisa ngumbar janji doang. Kalo udah duduk manis di atas udah deh .... langsung lupa daratan & lautan!!
Buat apa milih ... toh kalopun kita milih blum tentu ngitungnya bener. Khan jaman skarang ni di Indonesia kalo ada pemilu & pilkada, orang2 yang udah matipun bisa mreka hidupkan untuk nambah suara
Jadi yaaa.... capek deeeehhh ....
Contohnya Abdul gafur,Akbar tanjung,Cosmas batubara...waktu mahasiswa mereka paling giat demo menentang kebijakan pemerintah..begitu pemerintah memberikan jabatan menteri,cuuuus diem seperti batu bara disiram air
Sekarang ini saya rasa masyarakat sudah tidak peduli siapa atau dari golongan mana pemimpin tersebut. Yang penting dapat mudah mencari makan. Sebagai contoh apa, siapa dan bagaimana cara memimpin pak Harto itu tidak menjadi persoalan bagi orang kecil karena waktu pemerintahannya mencari penghasilan dan makan itu mudah.
Jadi ya silahkan saja mau membuang buang uang untuk mempopulerkan dirinya, masyarakat tidak akan peduli kecuali dia turun dan betul betul membantu masyarakat.
Salam.
anggota dpr kita ngak ada malunya...
kerja ngak becus, pemerintah naekin bbm, anggota dpr kita ngak setuju tp di naekin juga, dpr cuman cuap cuap protes aja tanpa hasil,
rapat ini lah rapat itu lah, sekedar formalitas, kalo emang ngak setuju terus peraturan itu naek, dimana muka dpr ????
ngak setuju tp kok terjadi ?
ibarat kata, dpr itu hanya ala kadarnya saja..
bagai macan tanpa gigi dan kuku
Masyarakat disini masih sampai pada tahap 'itu org baik banget soalnya kmrn gue dikasih sumbangan'.. jadi yah momen itu yg dimanfaatkan..
jadi golput tidak usah 'disiarkan',bisa dituduh menghasut lho?!kalo rakyat yang pikirannya waras pasti udah tau kalo mereka hanyalah sapi perah dan komoditi 'pemerasan' oleh partai2 maupun politikus,mereka dimanfaatkan menjelang pemilu,pilkada(sebenarnya 'pilkadal'/takut mereka disebut para 'kadal'),setelah itu rakyat dijadikan bulan-bulanan,jadi penonton saja dari ulah para wakil rakyat,pejabat/menteri,pemerintahan yang telah dipilihnya yang jadi 'buas' berebutan memenuhi kantong pribadi masing2,mafia2an,sikut2an tanpa memikirkan rakyat pemilih mereka,naudzubillahi min dzalik!!siapa yang tak akan sewot,lihat kelakuan lembaga kehakiman kita?ternyata mereka lebih bejat dari para terdakwa yang mereka adili,ayin 5 tahun hukuman,adelin lis si maling hutan indonesia,bebas lalu kabur,belum masalah lain yang janggal&tdk masuk akal,apa dan siapa yang bakal kita percayai??sebelum menjabat disumpah 'Kitab Suci' setelahnya malah jadi 'setan',pantas disebut negara para 'setan'....
paling kesel liat iklannya Soetrisno basir, lha kog sport bola aja sampai dicampur adukkan dengan bumbu politik.
semua balik lagi ke pemerintah,
andaikan pemerinta kita seperti pemerintah cina, sekali ketahuan korupsi dengan bukti yang bener2 jelas, langsung tembak mati, ga usa di sidang sidang segala, lah wong da jelas salah masih mau membela di persidangan dan jangan bawa masalah HAM karena alesan hak orang untuk hidup, apakah mereka korupsi tidak melanggar HAM orang lain (hak untuk mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum)
ketauan korupsi seperti yang heboh beberapa saat dengan bukti yang uda pasti akurat (pembicaraan telp antara ke 2 pihak) dan di akuin oleh semuanya bahwa pembicaraan telp tsb adalah asli,
tapi sampai sekarang masih saja sidang sidang dan terus sidang, padhal barang bukti dan segalanya sudah jelas..
kalo kelamaan sidang, bisa bebas nanti...
inget gak kasus dulu ada yg korupsi atau apa gt..
yang tersangkanya orang jaman orde baru..
dia jadi tersangka utama dan ada 2 tersangka lainnya...
melewati proses sidang sidang dan sidang, tersangka utama bebas dan 2 tersangka lain di penjara..
nah loh ???? bingung kan dengan hukum di indo ? kebanyakan sidangnya dan terlalu pake HAM sih..
liat aja, tersangka utama bisa bebas, sedangkan tersangka lain mala di tangkap..
aneh ? kalo di indonesia ngak
its fact !!!!
@IUS...hukuman 20 tahun asal bener bener dijalanin itu udah cukup berat,sekali lagi bener bener dilakukan.Hukuman mati? itu si Amrozi yg udah jelas jelas buang bom di bali...nggak juga dilaksanakan,masalahnya hakim,jaksa di Indonesia gampang bener di beli..itu aja persoalannya.Kamu kira yang korupsi dihukum penjara di Indonesia bener bener dilaksanakan? Ik twijfel daarover(saya ragukan semuanya)...salam
Soal gini, terus terang saya berpikir kayanya mending golput, tp gimana ya,,, penasaran juga he3
ya! beginilah keadaan politik kita saat ini. hanyalah janji2 doang.
cobalah kita bayangkan sejenak. berapa ya uang yang mereka keluarkan hanya untuk membuat iklan?
saya adalah seorang yang sudah jenuh dan bosan dengan perpolitikan di indonesia.karena dari waktu ke waktu saya meliha tidak ada perubahan yang berarti.
contoh:seperti masalah kemacetan jalan,banjir,perambahan hutan sampai masalah yang menyangkut kehidupan masyarakat itu sendiri. seperti SEMBAKO.
golput. menurut saya ada baiknya dan ada tidak baik nya. kalau kita golput kemungkinan suara kita akan di pakai oleh calon2 yang lain alias jual suara. akan tetapi kalau kita ikut. kita mirip sapi perah.
jadi kita tidak tahu harus memilih yang mana.
karena apa? karena carut marutnya system perpolitikan kita.
akan tetapi semuanya saya kembalikan kepada teman2 di mk. mau menaggapinya seperti apa. dan terserah teman2 mau golput atau tidak. karena itu adalah hak dari setiap warga negara.