Online
Saat ini ada 44 pengunjung tamu dan 0 pengunjung terdaftar online.

Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login




 


 Tidak bisa login?
 Mau daftar? KLIK DI SINI!
Polling

Menurut Anda, Media Konsumen itu...

[ Hasil | Polling ]

Votes: 1998

Sketsa - Opini

BBM dan Ideologi Kekerasan Di Negeri Morat-Marit

Senin, 09 Juni 2008

Bantuan Artikel
Apa yang terjadi setelah BBM dinaikkan? Yang paling gampang terlihat, karena sering menjadi berita di berbagai media, adalah mengeluhnya pengemudi kendaraan umum dan penumpangnya. Salah satu keluhan para pengemudi angkutan umum itu adalah dilema dalam menaikkan tarifnya, karena kuatir penumpang berkurang. Jika tidak mereka naikkan, maka penghasilan mereka yang sebelum BBM dinaikkan sudah kurang dari layak akan semakin berkurang.

Misalnya di salah satu TV swasta, seorang pengemudi taxi mengungkapkan, sekarang ia hanya bisa pulang ke rumah dengan mengantongi uang maksimal RP20.000,- setiap harinya, padahal sebelumnya bisa mencapai RP50.000,-. Dengan uang RP50.000 sehari saja, saya sulit membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka bersama keluarganya untuk bisa hidup layak, sehat dan apalagi untuk membangun masadepan keluarga mereka yang kompetitif. Saya sulit membayangkan bagaimana membiayai anak-anak mereka supaya tetap sehat dan bagaimana membiayai pendidikan yang cukup supaya bisa bersaing di masa depan nanti.
Itu sebabnya para pengemudi ini memiliki alasan yang tidak terhindari untuk saling serobot, melanggar rambu lalu-lintas, tidak perlu santun, dan lain-lain perilaku buruk di jalan. Demo sudah mereka lakukan sejak hari pertama BBM dinaikkan. Beberapa demo mereka sangat emosional. Tetapi akhirnya mereka menyadari demo tidak bisa mereka teruskan karena mereka bukan pada posisi untuk dapat berdemo, karena ketika mereka berdemo, mereka tidak menghasilkan uang, padahal tabungan pun tidak punya juga. Betapa takdir hidup mereka di tangan pemerintah, bukan di tangan Tuhan….

Apa pun yang terjadi, tarif angkutan umum akhirnya dinaikkan secara resmi oleh pemerintah. Namun berapa pun kenaikan tarif angkutan umum itu, apakah kenaikannya bisa mengatasi kesulitan hidup para pengemudi itu? Tentu tidak, karena daya beli mereka sudah berkurang karena kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Jadi kesulitan hidup mereka tentu bertambah, sehingga yang paling gampang mereka lakukan adalah tetap menjadi setan jalanan, bahkan dengan tingkat yang lebih parah lagi agar uang yang mereka bawa pulang bertambah. Polisi pun tetap berada dalam situasi yang gamang, antara menertibkan dengan menegakkan hukum dan memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan sepihak. Situasi jalanan yang tanpa hukum ini, tentu juga berpengaruh pada pengemudi kendaraan pribadi yang akhirnya juga ikut-ikutan menjadi biadab. Maka, akhirnya jalan raya kota-kota besar di Indonesia akan terus menjadi potret morat-maritnya sebuah negeri. Siapa pun yang datang ke Indonesia akan langsung menyaksikan kebiadaban para pengemudi kendaraan, baik yang umum maupun pribadi. Sebuah situasi yang konyol dan memalukan.

Kritik saya di atas bukan tanpa tawaran solusi atau saran. Menurut saya, sudah saatnya pemerintah memberikan tunjangan kepada para pengemudi angkutan umum ini. Meski pun langkah ini sesaat dan menyerderhanakan persoalan, tetapi itu lebih baik dibanding tidak melakukan apa pun untuk mengurangi dampak kenaikan BBM pada sektor transportasi umum di perkotaan. Tunjangan itu terutama diberikan untuk pendidikan dan kesehatan. Mengapa? Supaya kesempatan mereka untuk berubah nasib menjadi lebih besar. Jika orangtuanya hanya pengemudi angkutan umum, maka berilah kesempatan pada anak-anaknya untuk menjadi lebih baik dari itu, dengan memberikan mereka kesehatan yang baik dan pendidikan yang cukup. Selebihnya orang tua tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Kemudian jika mau lebih jauh lagi menangani angkutan umum di kota-kota besar, tentu harus juga memikirkan konsep yang lebih terpadu. Misalnya di dalam konsep yang lebih terpadu itu diperhitungkan penggunaan BBM secara efisien. Misalnya, jenis kendaraan yang digunakan dalam transportasi umum. Jika menggunakan kendaraan tipe kecil dengan kapasitas 10 atau 12 orang (seperti angkot atau mikrolet) tentu harus dipertimbangkan karena lebih boros BBM dibandingkan kendaraan dengan kapasitas lebih besar (seperti type Isuzu Elf). Dengan kendaraan yang kapasitasnya lebih besar ini tentu juga bisa sekaligus mengurangi jumlah kendaraan umum yang berada di jalanan, sehingga jumlah kendaraan umum yang harus berlomba-lomba mendapatkan penumpang pun berkurang. Berkurangnya jumlah kendaraan umum ini bisa mengurangi kesemrawutan lalu-lintas dan tentu mengurangi penyebab gangguan jiwa atau gangguan prilaku bagi rakyat, bahkan mungkin juga bisa mendorong rakyat di lapis bawah untuk tidak mudah tertarik pada ideologi kekerasan.

Apa yang saya tulis di atas hanya contoh saja dari berbagai persoalan hidup di tingkat bawah yang tidak kunjung dicarikan jalan keluarnya sejak dulu hingga sekarang. Padahal persoalan hidup yang meracuni nurani ini bisa menjerumuskan orang untuk mengidap ideologi kekerasan.

Perasaan tidak diperlakukan dengan adil tidak hanya dirasakan oleh pengemudi angkutan umum, tetapi di berbagai sektor. Misalnya pekerja di sektor industri juga paling rentan terhadap ideologi kekerasan. Terutama karena pengusaha sekarang diberi “kehormatan” dan “kemuliaan” yang amat tinggi untuk memberangus masa depan para pekerja Indonesia agar tetap menjadi “kuli kontrak” sejak tahun pertama bekerja hingga tua-renta karena memikul hidup yang berat. Mereka adalah orang-orang yang kurang memiliki kesempatan untuk menambah skill kerjanya dan pendidikannya, namun sayang pemerintah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Mereka telah diberi “takdir” untuk selama-lamanya menjadi “budak” yang angka penghasilannya hanya ditentukan oleh pemerintah dan pengusaha melalui apa yang disebut “upah minimum” setiap beberapa tahun sekali saja.

Belum lagi persoalan-persoalan masyarakat miskin kota yang salah satu pembelanya adalah Wardah Hafidz. Persoalan mereka misalnya, ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja atau berpenghasilan, mereka menciptakan usaha kaki-lima untuk memiliki penghasilan. Tapi sayang usaha kaki-lima ini begitu mudah dipandang oleh pemerintah sebagai musuh negara yang pantas diburu dan dimusnahkan dari pemandangan kota-kota besar. Mereka yang bukan karena pilihan bebasnya telah menjadi pengusaha kaki-lima itu tidak diberikan pilihan lain atau solusi jika mereka tidak boleh menjadi pengusaha kaki-lima. Barangkali pemerintah memang bermaksud untuk menjebak mereka untuk menjadi pencoleng atau penjahat. Atau menjerumuskan mereka ke dalam kelompok yang menyebarkan atau menanam ideologi kekerasan.

Jika persoalan-persoalan kelas bawah seperti itu bisa diminimalkan, tentu kita bisa lebih giat berdoa atau berharap, agar masyarakat bawah tidak mudah tertarik pada para penyebar ideologi kekerasan yang ditawarkan individu, kelompok, organisasi, atau aliran agama apa pun. Meniti kehidupan yang lebih baik atau membangun masa depan yang lebih baik tentu lebih menarik dibandingkan masuk ke dalam kumpulan orang-orang yang di dalamnya diajarkan kebenaran mutlak hanya miliknya sendiri. Sayangnya kelompok seperti ini sering berlatarbelakang agama.

Kepercayaan kepada Tuhan atau agama sebelum datangnya para nabi yang “samawi” menurut ilmu psikologi dan sosiologi tumbuh karena ketidakmampuan manusia memecahkan misteri kehidupan ini atau misteri munculnya kehidupan ini dan kemana kehidupan ini berakhir. Pemahaman tentang Tuhan dan agama kemudian terus berkembang lebih jauh menjadi jawaban bagi persoalan bertahan hidup hingga menjadi arah perkembangan peradaban manusia. Agama, bahkan menurut sains, amat dibutuhkan umat manusia. Betapa banyak sekali arah peradaban manusia terinspirasi dari agama. Begitu juga banyak aturan hidup sehari-hari atau aturan hidup bernegara yang berasal atau terinspirasi dari ajaran agama, termasuk larangan untuk melakukan pemaksaan kehendak dengan kekerasan. Bahkan secara individual, kepercayaan kepada Tuhan memberi kepuasan bathin tiada terkira bagi para pencari kebenaran tentang hidup.

Sayangnya sebagian dari kita telah menjadikan pemahaman terhadap agamanya atau keyakinannya sebagai kebenaran mutlak. Dunia ini dianggap hanya bisa menjadi lebih baik jika semua orang memiliki keyakinan atau agama yang sama. Orang-orang yang tidak mengikuti mereka atau menghalangi akan dianggap kafir atau musuh yang pantas dilenyapkan. Persoalan berkeyakinan seperti ini sudah muncul sejak ribuan tahun lalu, sejak pertama kali manusia mulai mempercayai adanya pencipta, penguasa, dan pengatur kehidupan manusia atau alam semesta. Persoalan ini juga dialami oleh pengikut agama apa pun, di Eropa, Arab, Afrika, Asia atau di mana saja. Tanpa bermaksud menjadi pesimistis terhadap perkembangan peradaban manusia, sejarah umat manusia sebenarnya di berbagai tempat di permukaan Bumi penuh dengan pertumpahan darah beratasnama agama.

Ada pertanyaan besar yang sudah sejak lama ditanyakan banyak orang, yaitu (jika begitu) apakah agama mengajarkan kekerasan? Tentu saya tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena memancing diskusi panjang dan sekaligus memprovokasi adanya kekerasan terhadap diskusi itu. Tulisan ini hanya mencoba mengindentifikasi atau menggambarkan apa-apa yang di luar agama tetapi bisa memicu kekerasan di sekitar kita dengan beratasnama agama.

Namun tulisan ini, akhirnya terpaksa menyinggung sebuah persoalan yang sedang menjadi “hantu perpecahan” di Indonesia akhir-akhir ini dan persoalan ini muncul karena situasi morat-marit yang saya gambarkan di atas. Front Pembela Islam (FPI) disebut telah melakukan kekerasan sepanjang keberadaannya selama 10 tahun terakhir ini dan terutama kekerasan di Monas.

Apakah FPI harus dibubarkan? Begitulah wacana ini menjejali seluruh media akhir-akhir ini. Tentu pembubaran FPI tidak menyelesaikan akar persoalan sebenarnya sebagaimana sudah saya gambarkan di atas. Akar persoalan tentu saja bukan Ahmadiyah, sebagaimana dijadikan pembenaran pada kekerasan yang dilakukan FPI di Monas. Ahmadiyah hanya menjadi picu bagi FPI yang terlanjur sering merasa pemerintah tidak mengakomodasikan aspirasi mereka tentang negeri yang saleh tanpa maksiat, tanpa kebobrokan moral, tanpa pertunjukan aurat atau pornography, atau tanpa penodaan agama.

Persoalan Ahmadiyah yang dianggap sesat, menyimpang dan menodai Islam sebaiknya diselesaikan dengan memberi cap bahwa Ahmadiyah sesat. menyimpang dan menodai. Pembubaran Ahmadiyah nampaknya bukan penyelesaian yang baik jika mengambil contoh sikap Nabi Muhammad SAW sendiri yang tidak pernah menggunakan kekerasan ketika menghadapi kelompok lain yang berbeda keyakinan. Saya tidak ingin lebih jauh berargumen mengenai apakah Ahmadiyah sesat atau tidak sesat, karena itu bukan porsi saya. Tetapi saya yakin porsi saya adalah untuk mengatakan, bahwa memaksa orang lain dengan kekerasan untuk melakukan apa pun termasuk untuk berkeyakinan adalah menyalahi aturan apa pun. Itu berlaku juga untuk orang-orang yang mendorong atau menginspirasikan orang lain, terutama orang-orang yang menjadi pengikutnya untuk melakukan kekerasan.

Kesalahan pemerintah SBY yang utama adalah bukan karena tidak membubarkan Ahmadiyah, tetapi karena tidak mampu mengurus negeri morat-marit ini. Jadi mari bantu mereka yang menjadi korban kebijakan kenaikan tarif BBM. Mereka adalah misalnya para pengemudi angkutan umum, pekerja yang terus-menerus dikontrak, pengusaha kaki-lima yang diburu seperti musuh negara, atau masyarakat miskin di kota-kota besar yang hidupnya terombang-ambing para gubernur yang terus menerus ingin “membasmi” mereka. Jadi jangan membuang-buang waktu untuk bertengkar satu sama lain dengan menggunakan omong-kosong soal agama.

Jojo Rahardjo
*Pengamat Masalah Sosial
http://jojor.blogspot.com



Artikel lain dalam kategori Sketsa :

Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 42 komentar


  1. Tommie Draven | Pesan | Minggu, 08 Juni 2008

    Setubuuhhhh .... untuk kasus FPI hehehehe

    tp saya jadi mikir ya Om Jo, Ahmadiyah di cap menyimpang dr ajaran Islam (gue gak tau yg mana nyimpangnya, gak pernah ikut sich Om hehe) makanya di anggap sesat, trus Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukan kekerasan ketika menghadapi kelompok lain yg berbeda keyakinan (bahkan yg saya pelajari, beliau melarang pengikutnya menggangu orang kafir mekah yg jelas2 kafir yg tinggal bersama mereka) ... nah kl FPI pake kekerasan, dah nyimpang juga dunk ... jd yg sesat yg mana ?? ... bingung ... icon_lol icon_lol

  2. Wuryanto | Pesan | Minggu, 08 Juni 2008

    Mas Jojo Yth

    Aku angkat topi dech dengan artikel anda ini .Karena disamping mengkritik juga memberi saran solusi yang jelas. Aku hanya memberi sedikit koment tentang carut marutnya transportasi di negeri ini . Aku juga usul departemen atau dinas yang mengurusi transportasi ini sudah saatnya di reformasi menyeluruh agar menjadi lebih baik karena semakin hari performa transportasi tidak menjadi lebih baik tetapi malah amburadul. Tolong Mas Jojo kalo sempat komunikasi dengan bapak bapak pengemudi/sopir mohon disarankan untuk selalu bersabar dan tawakal kepada ALLAH SWT bahwa kehidupan tidak selamanya ada dibawah ibarat roda yang berputar. Asal ada kemauan pasti ada jalan , kesulitan pasti ada jalan keluarnya.Ini saya tulis karena saya sendiri sbg anak seorang sopir yg hidupnya juga pas pas an. Tetapi Alhamdulillah atas ridho dan pertolongan ALLAH SWT saya bisa belajar di dalam dan manca negara tanpa biaya.

  3. Thomas | Pesan | Minggu, 08 Juni 2008

    Percuma BBM dinaikan berapapun sama Pemerintah, jalanan tetap macet malah makin parah. Dijalan kendaraan bukannya berkurang malah semakin bertambah, terutama sepeda motor. Alasannya ketika ditanya kenapa beli motor atau mobil jawabannya karena naiknya ongkos angkutan umum (tapi bisa beli Motor atau mobil yak icon_confused )

    Solusi dari pemerintah cukup dengan memperbanyak Sarana Angkutan Masal, setuju dengan tulisan Mas Jojo diatas. Hapuskan angkot banyakin Bus, angkot dan mikrolet hanya menambah keruwetan jalan raya saja icon_mad

  4. P.N Jonathan | Pesan | Senin, 09 Juni 2008

    Mas Jojo...solusi anda benar lebih baik kendaraan umum dipegang pemerintah terus disubsidi...cuma masalahnya pemerintahnya nggak mau bukannya nggak bisa.Di negara saya bbm kalau dirupiahkan sekarang ini Rp23.000/liter karena nggak disubsidi...jalan keluarnya aku naik kendaraan umum gratis...0,0 nggak bayar...maka berkuranglah kemacetan di jalanan icon_cool icon_cool

  5. P.N Jonathan | Pesan | Senin, 09 Juni 2008

    Satu komentar lagi nih pak Jojo...menurut saya nngak usahlah di Indonesia ada organisasi masa,apalagi yang dengan dalih agama..coba lihat jaman pak Harto organsasi masa dilarang...aman kan negara kita... icon_cool icon_cool

  6. Jojo Rahardjo | Pesan | Senin, 09 Juni 2008

    Om Tommie Draven, meski pun saya sudah cukup membaca soal Ahmadiyah, tetapi saat ini saya lagi nggak ingin terlalu melebar ngomongin Ahmadiyah sesat dan tidak sesat sebagaimana tulisan saya di atas. Tapi soal FPI saya tidak akan mendukung pelaku kekerasan. Saya cuma menggambarkan FPI merasa tidak diakomodasi aspirasinya.

  7. Bambang EkoC | Pesan | Senin, 09 Juni 2008

    Negara ini indah banget lho pak. Bukankah ini pembelajaran dari dinamika suatu negara. Negara lainpun kelabakan minyak dunia naik.

    Ini usul saya:

    1. B2W (Bike to Work, solusi hemat BBM)

    2. Beralih dari Desktop ke Laptop (cuba butuh 12 watt aja, kalo semua instansi pmrnth dan swasta nglakuin, woooww!!! hemat berap tuh duit)

    3. Kewajiban tanam pohon setiap pembelian AC baru, spd motor baru, mobil baru. Juga setiap perpanjangan STNK, Mutasi kendaraan dll. Kalo di berlakukan, setiap tahun berap pohon baru tumbuh di Indonesia? (Wooowww, 2 juta pohon lebih. Cttn: 1 bibit jati= Rp 45.000)

    4. Yang paliiing pentiiing: TUMBUHKAN SEMANGAT WIRA USAHA dan KEMANDIRIAN di setiap dada manusia Indonesia. Ini yang tidak adaaaaaa...

    5. Sinergikan kekuatan media, untuk membentuk budaya wira usaha dan kemandirian.

    Salam WUIH icon_smile

    Wira Usaha Indonesia Hebat!!

  8. marsuni | Pesan | Selasa, 10 Juni 2008

    Yap, untuk kasus FPI saya bukannya membela tp juga sepenuhnya menganggap FPI benar.

    FPI itukan biasanya bertindak setelah pemerintah (baik presiden, bupati, polisi, walikota, dll)terkesan pengecut...! karena dalam membuat keputusan pasti ragu-ragu apakah akan ditindak atau bagaimana.

    seperti jika ada tempat billiard yang menyalahi aturan secara nyata, pemerintah selalu lamban dalam menindak.

    dan tempat tempat permainan adu ketangkasan dan segala jenis yang berbentuk judi pemerintah selalu lamban. sehingga "mungkin menurut saya" FPI itu geregetan dengan hal tersebut yang berlarut-larut.

    Untuk kasus di monas/Ahmadiyah, kita harus tahu mana "maaf" kafir dan mana Sesat

    Bagi Orang islam kafir adalah kaum yang benar-benar berbeda ajaran dan tauhid serta kitabnya dengan ISLAM'

    sedangkan sesat "bagi orang ISLAM" adalah orang Islam yang mengubah sesuatu yang melenceng dari ajaran pokok Islam.

    @Tommie Draven

    Pemikiran Anda "maaf" terlalu dangkal dengan mengatakan ga' tahu mana yang sesat dan mana yang tidak.

    ya jelas-jelas AHMADIYAH lah yang sesat.

    Bagi saya, andaikan AHMADIYAH itu ga' mengatasnamakan diri atas ISLAM, ga jadi masalah, mau dia Tuhannya pohon, binatang, asalkan dia itu tersendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan ISLAM, mau di indonesia itu ada 100 agama juga "bagi saya" tidak ada masalah.

    Namun jika ada Orang/kaum/Umat yang mengaku ISLAM namun mengubah rukun atau hal lain dalam Islam, itu bagi kami adalah hal yang harus ditentang......!

    Negara Arab Saudi saja menolak AHMADIYAH untuk naik haji kenegaranya, jadi apalagi..!

    Saya akan selalu berteman dengan orang yang non ISLAM (malah punya teman akrab yang beragama kristen seorang polisi yang kenal sejak tahun 1996, namun tak akan serteman dengan Orang Islam yang sesat dan menyesatkan.

  9. marsuni | Pesan | Selasa, 10 Juni 2008

    Ralat, Untuk baris pertama di koment saya no 8 (kurang katik) ialah tidak sepenuhnya menganggap FPI benar..!

    Tks.. icon_wink

  10. Tommie Draven | Pesan | Selasa, 10 Juni 2008

    Wah pak marsuni benar ..... memang pikiran saya terlalu dangkal, krn emang saya agak2 males mikir dalem2, takut gak bisa keluar lagi.. icon_biggrin

    Saya juga gak terlalu ngerti, apa krn pemerintah lamban atau aparatnya pengecut, mungkin benar mereka gregetan.

    tapi ingat beberapa waktu lalu (sekarang juga masih) ada kemaksiatan yg jelas ada dimana aparat gak bisa apa2, yaitu kasus geng motor, mereka berbuat lebih jauh dr kemaksiatan, tp kok FPI diem ya ?? apa takut ?? icon_biggrin

    Saya cuma melihat kasus monas, mereka kelompok aliansi kaga pake nama islam, dan pas ngelihat di TV kok perlakuan FPI brutal gitu ya ?? sampai gak pandang umur n jenis kelamin nya maen embat aja, mirip genk motor, emang Islam mengajarkan brutalisme? saya yakin gak.

    Maaf Pak Marsuni, itu memang hanya sekedar pemikiran saya yg dangkal. Peace

  11. marco | Pesan | Selasa, 10 Juni 2008

    Mustinya FPI sebelum bertindak dipakai dulu pikiran dan hati nurani. Kalau emang FPI mau mengambil simpati rakyat, contohlah para bhiksu di Myanmar yang mengambil inisiatif untuk membantu korban topan Nargis yang ditelantarkan oleh pemerintah Myanmar. Bukan dengan cara tindakan anarkis kepada pihak yang berseberangan.

    Jangan karena menang jumlah terus seolah-olah apa yang dikerjakan selalu benar. Jangan agama dijadikan pembenaran untuk bertindak.

  12. P.N Jonathan | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    @Bung Marco,saya setuju dengan pendapat anda,karena inisiatif dan kegiatan positif dari FPI sama sekali tidak ada...kalau cuma menghancurkan bar dan tempat tempat hiburan yang mereka tidak setuju dengan cara yang anarkis seperti itu semua organisasi juga bisa kalau mau.

    @Mas Tommie...didalam pikiran yang dangkal tumbuhlah sekuntum bunga yang indah icon_smile icon_smile masalahnya di Indonesia itu seperti yang Bung Marsuni bilang...pemerintahnya termasuk presidennya(maaf ya pak Presiden)terlalu lembek dan tidak ada ketegasan..sehingga masyarakat merasa kehidupannya seperti disamakan dengan dagelan...kita lihat jaman Orba yg dipimpin oleh pak Soeharto,beliau tegas dan mempunyai strategi yang kuat dalam mengatur negara Indonesia(Yang lain lainnya jangan dikaitkan )....negara Indonesia saat itu keamanannya terjamin,organisasi masa dilarang,sehingga anarkispun hampir tidak ada,sd inpres,puskesmas,beras yang surplus,pembangunan,banyaknya turis mancanegara(ingat kan visit Indonesia yahun 1994 yang sukses)...itu jasa dari Pak Soeharto semua(sekali lagi yang lainnya jangan dikaitkan disini)...salam dan damai icon_cool

  13. marsuni | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    @P.N Jonathan

    mungkin mmg kita semua tidak tahu apakah semua presiden atau beberapa setelah SOEHARTO adalah presiden yg lebih baik/tegas.

    saya saja geregetan sama pemerintah yg plin-plan seolah-olah ga punya plan yg konsisten dalam pemerintahannya..!

    U/ masalah FPI, saya seperti yg saya katakan di atas tidak menganggap sepenuhnya benar.

    namun begini, yang diperbuat FPI itu salah, tapi wajar.!

    contoh, jika seseorang memukul kita, menyakiti kita, lalu kita membalas. itukan hal yg salah namun wajar.

    sebaiknyakan kita lapor ke pihak yg berwenang, namun wajar jika membalas.

    dalam kasus FPI, mereka telah lelah dan bosan menunggu SKB dari pemerintah yg telat mengeluarkan SKB, eh malah ad lg yg demo mendukung mereka (AHMADIYAH).

    jadi dalam hati mereka timbul emosi yg meledak-ledak.

    untuk kegiatan FPI, saya rasa "mungkin" lbh byk fositifnya ko'.

    karena mereka BERTINDAK SETELAH TIDAK AD KEPASTIAN DARI APARAT/POLISI YG PEMERINTAHNYA "maaf juga" LEMBEK.

    saya "mungkin" tidak akan pernah bergabung ke FPI krn belum siap. tapi saya mendukung dengan keberadaan mereka.!

    tuk semuanya, peace.!

    ini sekedar pendapat saya, n bisa berbeda pada tiap orang..!

  14. Advena Vee | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    Saya bener2 gak suka kelakuan FPI dan entah organisasi masa lain yang selalu mengucapkan "Allah Maha Besar" sebelum melakukan tindakan anarkis yang mereka anggap benar,,

    Seolah-olah mereka mengatasnamakan Allah atas segala perbuatan yang mereka lakukan (kalo baik sih gak apa2,,tp klo yg anarkis emosional gitu ya mbok nggak usah nyebut nama TYME),,

    Apa TYME pernah memperbolehkan kekerasan untuk alasan apapun? Saya rasa tidak,,

    Apa TYME ingin umat2nya bersikap brutal dalam membela Islam? Saya rasa tidak,,

    Jadi tidak ada alasan untuk menyebut nama Allah dalam setiap perbuatan brutal dan emosional,,

    *Kalau dibikin perumpamaannya*

    Seorang Ibu akan sangat sakit hati kalau ada anak saya yang menyebut nama Ibunya sebelum membunuh dan mengatakan, "Saya membunuh kamu demi Ibu saya."

    Ini saya mengambil perumpamaan yang ektrim,,tp ini cukup menggambarkan tindakan Amrozi dkk pada Peristiwa Bom Bali,,

    Saya nggak ngerti doktrin macam apa yang mereka terima sampai mereka selalu menggunakan emosi yg berlebihan, cenderung bersikap barbarian, dan tidak pernah merasa bersalah atas segala tindakan mereka yang anarkhis dan cenderung destruktif,,

  15. Advena Vee | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    Sori,,di baris ke-7 seharusnya ditulis anaknya,,bukan anak saya he5x,,

    Mohon maaf,, icon_razz

  16. yoky26 | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    "Hidup adalah perbuatan" kata di TV. benar kah??? Perbuatan yang mana dulu?? berbuat SALAH ATAU BENAR???

    Coba Fikir.. Jika seseorang ato sekelompok orang berbuat dengan membantai ato mukulin sesama manusia (misalnya spt FPI di monas) adalah "Makna" dari "hidup" yang harus berbuat ato bertindak. Jadi gak mungkin orang MATI bisa protes atau membenarkan adanya ajaran Ahmadiyah yg "menyimpang" menurut mereka (FPI). Tapi sebagian dari mereka yg brutal ini ketika pulang dari Monas ato malam hari dirumahnya masing-masing merenung dan mengingat-ingat si A dan si B yang pada berdarah-darah,/bocor kepalanya karena dia pentungi sama bambu, akhirnya baru menyadari "saya SALAH dalam berbuat membela KEBENARAN". Ini bukan cara Nabi (dalam hati mereka bergumam...).

    Saya mau tanya sama semua yach...;

    Setujukah kira-kira bila Soetrisno Bachir seharusnya memilih menyumbang ke fakir miskin atau yg membutuhkan)dari pada membayar iklan TV ratusan milyar untuk mempromosikan diri dengan kalimat HIDUP ADALAH PERBUATAN??? denger-2 sich sampe 200miliar lebih utk bikin iklan itu dan bayar jam tayangnya di teve-2 swasta. Ataukah itu yg disebut "Perbuatan Sia-sia" entahlah.... icon_frown icon_frown icon_confused icon_confused

  17. Advena Vee | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    @ Yoky

    Kok tau c? Anda ikut mukulin orang di Monas ya? he5x becanda,,

    Yaah,,klo semua tindakan anarkhis diikuti dengan penyesalan itu dibenarkan,,tindakan anarkhis tidak akan berhenti karena penyesalan akan memaklumi segalanya,,

    Dengan berdoa kita belajar untuk berkonsentrasi dan mengendalikan emosi,,karena kita mencoba untuk tetap hening dan fokus berkomunikasi dengan Tuhan,,

    Seharusnya mereka (FPI dkk) mencoba untuk berdoa dulu sebelum melakukan kegiatan,,supaya tidak brutal dan kemudian menyesal pada akhirnya,,

    Mungkin Soetrisno Bachir akan menjawab seperti ini (imajinasi saya):

    Kalau saya nyumbang ke fakir miskin,,saya keluar uang dobel dong,,buat nyumbang sama buat bayar stasiun TV untuk memuat saya yg lagi nyumbang fakir miskin,,wah bisa tekor saya,,

    Bung Yoky harus memikirkan juga dong saya bikin iklan ini kan untuk mempromosikan diri saya,,ini namanya self marketing Bung,,

    *hehehhehehe icon_razz *

  18. yoky26 | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    @ Vee

    Benar, saya pernah mukulin orang di Monas, waktu itu ada yang meludah mengenai wajah saya tapi gak minta ma'af...

    Saya tau koq dia (S. Bachir) orangnya tampak bersih dan dermawan. Artinya dia biasa nyumbang fakir-miskin. Mungkin pas sedang bosen nyumbang fak-mis, akhirnya dia menyumbang teve swasta sekalian promo (biar jadi Presiden kali). Semoga beliau jadi presiden beneran (asal amanah ya pak?!) jangan sampe korupsi agar bea iklan tevenya balik modal, tul gak??? icon_razz icon_razz icon_razz icon_razz

  19. marco | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    Untuk masalah FPI saya merasa tidak ada alasan untuk dijadikan pembenaran maupun kewajaran. Saya sangat ingat salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh FPI, yaitu merusak warung yang beroperasi waktu bulan Puasa. icon_eek

    Jelas-jelas terlihat dalam tayangan televisi bahwa meski beroperasi, warung tersebut tetap menutup warung dengan spanduk/kain. Apakah itu belum termasuk menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa? Apakah mereka pernah memikirkan seandainya warung tersebut tidak beroperasi, darimana sumber pendapatan untuk pemilik warung tersebut? Bagaimana dengan jumlah kerugian yang diderita oleh pemilik tersebut setelah warung dihancurkan?

    Marilah kita menilai dari hati nurani kita, keegoan kita mungkin akan membohongi penilaian kita, tetapi hati nurani kita tidak akan berbohong. icon_smile

    Sedikit melenceng dari pokok pembahasan, saya heran darimana FPI membiayai operasional mereka? Jangan-jangan benar dari informasi dari salah satu forum sebelah kalo dana FPI didapat dari hasil memalak tempat hiburan, DLL. Benar ngak? icon_rolleyes

  20. sarah | Pesan | Rabu, 11 Juni 2008

    Dari Pak Jon "...negara Indonesia saat itu keamanannya terjamin,organisasi masa dilarang,sehingga anarkispun hampir tidak ada,sd inpres,puskesmas,beras yang surplus,pembangunan,banyaknya turis mancanegara(ingat kan visit Indonesia yahun 1994 yang sukses)...itu jasa dari Pak Soeharto semua(sekali lagi yang lainnya jangan dikaitkan disini)..."

    Apa memang bisa kita pilah-pilah seperti ini? Atau sebetulnya semua hal saling terkait dan harus dilihat 'the big picture'nya?

    maksud saya, betul di permukaan banyak hal terlihat mentereng pada zaman suharto, saya pun kalo mengingat saat itu dolar masih 2300-an, masih mampu ke luar negeri yang jauhan dikit, juga suka mikir 'mending zaman suharto deh...'

    tapi berhubung ga ada yang abadi di dunia ini - begitu pun suharto ga akan selamanya berkuasa kalo pun saat itu ga dilengserkan - lambat laun kita akan

    sampai juga di situasi yang kita hadapi saat ini, karena pada umumnya, itulah dasar yang diletakkan suharto untuk kita dengan korupsi, kolusi dan nepotismenya

    Itu yang diletakkan suharto selama 32 tahun, dan sampai kini kita semua harus menanggungnya. Dan entah akan sampe generasi ke berapa. Bagaimana ini cara bangkitnya ya?? Luar biasa betapa seorang otoriter bisa menimpakan kerusakan sebegitu besarnya ke suatu masyarakat

    Kita seakan ga tau lagi gimana caranya hidup. Yang punya kekuasaan terbiasa dimanja di zaman suharto, sampe uda ga tau lagi gimana cara mengatur kinerja, memanfaatkan sumber daya. Rakyat kecil pun uda terbiasa manut, ke mana pun negara ini mau dibawa, yang biasanya ga jelas apa programnya dan kontrol mungkin sebetulnya kecil saja karena wakil rakyat.. ya seperti itulah...

    Sementara kita ga perlu memandang negara lain yang jauh-jauh, kan katanya thailand bisa bangkit setelah ekonominya terpuruk, mereka mampu mengencangkan ikat pinggang di saat krisis, seperti para pejabat mereka ganti mobil mewah ke yang biasa aja. Kelihatannya itu bukan move yang luar biasa, tapi kita kok ga bisa? Hemat saya sebagiannya ya karena budaya kkn itulah yang disuburkan di zaman suharto. Budaya bertindak untuk jangka panjang bagi kesejahteraan semua itu tidak biasa, yang kental adalah budaya bertindak jangka pendek untuk kesejahteraan sendiri. Ada duit sedikit, langsung ditilep. Dan 32 tahun itu waktu yang amat panjang untuk membuat budaya seperti itu mengakar sampai ke dalam dan ga tau lah gimana cara mencabutnya lagi

    Kita ini betul-betul bangsa yang kehilangan muka. Di masa pemilihan orang selalu berjibaku mengerahkan tenaga untuk terpilih, apa niat sebenarnya, ya? Mestinya kalo orang normal uda lari jauh-jauh dari panggung kekuasaan indonesia. KECUALI yang yakin punya modal cukup untuk bikin perbedaan, bolehlah coba bergabung. Kalo cuma manjang-manjangin daftar penguasa gagal aja sih mending selamatkan muka sendiri aja kali yaaa

    Saya rasa semua kekacauan yang ada saat ini, banyak andil suharto di situ. saya bukan pengamat politik, baca berita pun jarang (kebanyakan yang menyesakkan dada soalnya). Saya cuma agak tergelitik mengenai pendapat Pak Jon tsb. Peace :)

  21. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 12 Juni 2008

    @Sara icon_cool icon_cool saya udah tulis diatas strategi dan systemnya yang boleh diikuti(Yang lain lain jangan dikaitkan),karena pendapat saya KKN itu bukan system atau strategi...KKN itu datangnya dari masyarakat sendiri yang sdh tidak takut hukum bahkan tidak menghormati hukum dan mau gampangnya saja...contoh kecil saja...mengurus KTP di RT/RW selalu masyarakat dipalak(dari jaman Indonesia baru merdeka sampai sekarang)system koneksi juga sudah ada dari dulu (dari jaman Soekarno)kalau nggak ada duit ya kita tidak bisa sekolah disekolah pilihan kecuali kalau punya KONEKSI didalam(itu saya alami sendiri)..oleh karena itu KKN hanya bisa terwujud karena mental masyarakat yang sudah terbiasa dengan jalan singkat tanpa respect terhadap hukum maupun perasaan orang lain...karena kalau menurut anda jaman Pak Soeharto membudayakan KKN,jaman Soekarno pun sudah ada kok..mungkin mbak Sara tidak mengalami jaman Soekarno..jaman Soekarno lebih parah lagi..ingat nggak(kalau mbak mengalami jaman ini)beliau pernah membentuk kabinet 100 menteri(yang manfaatnyadiragukan)sampai sampai kepala copet pasar senen( namanya Pak Syafei,mungkin skrng sdh almarhum)itu dia diangkat sebagai menteri keamanan(dagelan kan)Jadi gambaran saya KKN bukan suatu system atau strategi ataupun yang seperti istilah mbak Sara "Budaya"...tapi itu suatu kebiasaan yang turun temurun dari suatu masyarakat yang tidak mempunyai hormat akan seseorang dan hukum...itu sekedar pendapat saya aja lho mbak...Anyway salam saya dari the Netherlands icon_smile

  22. P.N Jonathan | Pesan | Kamis, 12 Juni 2008

    @Bung Marco :-..informasi itu benar adanya icon_mad icon_mad

  23. marco | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    Waduh kalo gitu apa bedanya antara FPI dengan Preman? icon_redface

    Mungkin bedanya, FPI masih ada yang dukung yah icon_lol

    Meskipun saya bukan siapa-siapa, tapi saya mendukung wacana untuk membubarkan FPI.

  24. Reza | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    Saya sependapat dengan tulisan bung Marsuni..

    siapa sih orangnya yang tidak akan marah jika agama dia diacak-acak orang lain, begitu juga dengan FPI.

    Agama lainpun kalau ajarannya diajak-ajak pasti orang yang fanatik dengan agamanya pasti marahlah, saya pernah berdiskusi dengan teman-teman saya yang Nasrani, meraka juga akan marah jika agamanya ada yang acak-acak.

    Bung Marco...jika anda Islam, pasti anda tahu bahwa tidak akan ada nabi lagi selain nabi Muhammad SAW, semua umat Islam tahu itu. jadi jika Ahmadiyah dia mengaku Islam terus bilang ada nabi lagi setelah nabi Muhammad SAW, artinya apa ...?

    artinya dia mengacak-acak agama Islam, kita tidak akan marah begitu juga dengan FPI saya kira, kalau ahmadiyah berterus terang kalau dia itu bukan Islam. pasti kita semua akan menerimanya.

    Contoh saja ...ada Partai anggota pemilu, terus dia punya cabang tapi membuat AD/ART yang berbeda dengan AD/ART partai aslinya pasti, pasti dibubarkanlah cabang tersebut.

    Untuk Aksi FPI saya ada mendukung dan ada tidaknya, karena menurut saya dia bisa jadi benteng terdepat untuk umat Islam dari segalah sesuatu yang mengobok-obok Islam, terus terang saya sendiri belum bisa menyumbang banyak untuk agama Islam, jadi saya masih mengharapkan FPI.

    dan untuk bung marco sebelum anda memfitnah, sebaiknya cari bukti-bukti, udah banyak isu-isu dinegara ini yang bikin kacau, kalau ditanya dari mana isunya dibilang dari orang, ujung-ujungnya kalau ditelusuri tidak ada pangkalnya. seperti dulu SMS santet dan kolor Ijo. Jadi saya mohon anda kalau membuat isu dicari dulu sumber aslinya.

    karena rakyat kita banyak yang bodoh, yang mau disetir oleh negara lain. coba kalau anda cermat, perhatikan negara ini terlalu gampang disetir oleh negara lain ( contohnya : waktu kedatang presiden Amerika, apakah negara ini tidak obok-obok, masak ada negara yang mau negaranya dimasuki militer negara lain hanya karena presiden negara tersebut mau berkunjung ke negara ini, dimana rasa kepercayaan negara kita terhadap TNI kita sendiri).

  25. Reza | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    sori ..pada baris ke 4 maksunya " diacak-acak" bukannya diajak-ajak

  26. Reza | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    maaf bung marco..

    saya tidak berbisnis hiburan...(seperti yang bung marco sebutkan dipoint 19), usaha kelontong saya juga halal dan gaji yang saya terima dari tempat saya berkerja juga gaji yang halal, dari pada saya memberikan ke aparat yang tidak benar, saya lebih suka memberikan ke orang-orang yang benar-benar ingin menjaga dan memelihara agama yang saya anut, karena hanya itu yang bisa saya perjuangkan untuk agama saya. Karena saya sering membaca berita-berita di Internet dan Majalah, kalau agama yang saya anut sedang berusaha diobok-obok oleh negara zionis dan sekutunya.

  27. P.N Jonathan | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    Kalau negara kita diobok obok oleh America..ya salah pemerintah kita juga lah...utang LN kita terutama ke USA udah nggak kebayar...lama lama kita kayak Mexico dianggap negara yang udah pailit icon_smile

  28. ius | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    kekerasan apapun namanya salah tetep salah.

    gitu aja kok repot..

    sekedar info saja, banyak juga umat muslim yang ngak senang dengan keberadaan FPI, kenapa bisa begitu yah ? (saya sendiri bukan muslim,saya netral dan saya sangat menghargai umat muslim, tidak ada niat untuk ikut campur, hanya pikiran di otak saya saja)

  29. P.N Jonathan | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    Udahlah kita nggak usah organisasi organisasian...kita pikirin bersama aja bagaimana supaya sebagian rakyat nggak makan beras raskin lagi,hal ini lebih penting untuk dipikirkan icon_cool

  30. marco | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    @Bung Reza, nah anda sendiri juga membaca di internet dan majalah kan? Sama juga dengan saya yang mendapat info tsb dari internet. icon_lol

    Forum ini kan untuk menampung pendapat dari masing-masing sudut pandang. Komentar saya juga tidak menyinggung masalah agama. Yang saya permasalahkan cuma tindak kekerasan dari FPI. Anda sendiri yang memandang pokok permasalahan terlalu jauh.

    Kalau untuk masalah bukti, memang tidak ada bukti yang jelas. Cuma yang saya heran kenapa yang disweeping cuma tempat hiburan A? Kenapa tempat hiburan B luput? icon_frown

    Dan lagipula kalau FPI bertindak sesuai dengan kehendak dan penilaian sendiri, jadi apa lagi donk fungsi dari aparat kepolisian? icon_biggrin

  31. sarah | Pesan | Jumat, 13 Juni 2008

    @ Pak Jon, saya ga ngalamin zaman sukarno, keluaran 74 niy :)) yah bagi saya, sistem yang dibentang sama suharto itu banyak kasi kesempatan untuk KKN jadi subur. Kalo soal rakyat, saya rasa mereka naturenya manut-manut aja, plus diberangus pula keinginan berkehendak dan berpendapatnya oleh rezim militer suharto, jadi bagi saya bukan dari mereka budaya KKN itu

    tapi menarik juga tuh pendapat pak Jon soal kebiasaan turun temurun suatu masyarakat. Itu kali yang menghasilkan pemimpin yang kaya suharto dan ternyata, previously, sukarno icon_razz

    Tapi satu hal, saya yakin manusia ga seharusnya pegang kekuasaan lama-lama, karena dengan sifat dasarnya, sebaik apa pun dia, kalo terlalu lama berkuasa lambat laun dia bikinnya kehancuran, bukan perbaikan, karena kekuasaan itu berat tantangannya

    ok perbedaan pemikiran itu rahmat kan Pak Jon :) btw beberapa oom saya belasan sampai 20-an tahun di amsterdam, sama dengan pak jon, dibanggain terus tuh amsterdam :P ga pa pa deh, kita ngerti kok icon_cool

  32. Thomas | Pesan | Sabtu, 14 Juni 2008

    Kalo ngebahas soal organisasi massa Indonesia memang tidak ada habis-habisnya yak icon_biggrin icon_biggrin , cuman kalo orang sudah mendirikan atau bergabung salah satu organisasi massa pasti saja menganggap dia dan kelompoknya sendiri yang benar, dia enggak nyadar sebanyak apapun massa yang dia punya 2 atau 3 juta atau lebih itu tidak mewakili suara orang Indonesia yang 200 juta-an lebih. Jadi tidak ada alasan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan demi kepentingan rakyat Indonesia (rakyat yang mana icon_confused ) kecuali kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

    Sangat menyebalkan sekali apabila seseorang atau sekelompok orang mengaku-ngaku mendapat amanat umat muslim Indonesia (misalnya), trus langsung membuat keonaran dan berkata dengan lantang bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar dan perlu?. Kayak mereka dapat jaminan masuk surga saja dan yang lainnya masuk neraka icon_redface

    Hak apa yang mereka punya hingga bersikap menilai dan menghakimi setiap orang atau kelompok yang dianggap sesat, ingatlah bahwa "kebenaran" itu hanya milik Allah SWT semata. Saya juga orang muslim, tapi dulu guru ngaji saya tidak mengajari untuk mukulin orang non-muslim, yang saya heran mereka yang ada di organisasi islam seperti FPI pastinya orang yang mengerti Al Qur'an dan Hadis dan saya yakin sekali mereka sampai hafal luar kepala, apakah mereka tidak mencontoh Nabi Muhammad SAW memperlakukan orang-orang non-muslim??. Yang saya tahu dari pengajian sejak saya kecil, Islam itu agama yang cinta damai dan penuh kasih bahkan terhadap orang non-muslim.

    Mereka bersorban putih berkain sarung, membentangkan panji dengan nama Allah SWT. Bukannya menebar kebaikan malah menebar pukulan dan pentungan icon_mad , sadar bapak-bapak sekalian sebelum bapak2 nanti dihakimi nanti di alam kubur diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT yang Nama-Nya dipakai Bapak2 sekalian sebagai pembenaran apa yang Bapak2 lakukan di Dunia

  33. marsuni | Pesan | Sabtu, 14 Juni 2008

    @P.N Jonathan

    @Marco

    Jikalau kita tidak tahu, tidak usah menyebarkan fitnah, Koment No 19 & 22.

    dari artikel diatas sepertinya P.N Jonathan lebih tahu dari pada saudara Marco.

    Berkomentarlah yang lebih berisi dan apa adanya yang terlihat dengan mata, jikalau mereka memalak dengan nyata, sayapun akan nyata-nyata mendukung pembubaran FPI.

    Janganlah berkomentar yang sekedar asal keluar untuk kepuasan diri yang tidak bermanfaat yang cenderung melebih-lebihkan seperti kebanyakan tanpa ada solusi yang berharga. itukan seperti "maaf tidak semua" wanita tukan gosip/rumpi/mulut ember yang sering menambah-nambahkan sehingga masalah jadi lebih ruwet.

    sekali lagi tanpa solusi.

    kalau menurut pendapat saya FPI itukan anggotanya banyak juga yang berwiraswasta (punya usaha) dan juga bekerja di instansi pemerintah dan swasta, dan juga pengusaha-pengusaha yang fanatik.

    dan untuk yang non islam (tapi buat P.N Jonathan & Marco saya yakin Anda Muslim/Islam) sebaiknya tidak usah berkomentar terlalu jauh karena tidak tahu apa-apa tentang FPI & ISLAM (walaupun kadang FPI tidak sejalan "caranya" dalam menjalankan yang disunahkan oleh agama ISLAM).

    Saya sekedar berkomentar dan berusaha tidak emosi dengan juga tidak memakai iconsmile.

    Salam Komunitas MK icon_smile icon_smile icon_wink

  34. Advena Vee | Pesan | Minggu, 15 Juni 2008

    Menurut saya segala sesuatu yang berlebihan (hyper) itu gak baik,,buat diri sendiri dan sekitarnya,,

    Rasa toleransi berkurang,,tenggang rasa berkurang pokoknya chaos la,,

    So no fanatism yeah!! icon_lol

  35. marco | Pesan | Minggu, 15 Juni 2008

    @Bung Marsuni, Salam Komunitas MK juga icon_smile icon_smile icon_wink

    Perbedaan itu hal biasa dalam berdemokrasi.

    Bukankah telah saya klarifikasi dalam komentar saya sebelumnya bahwa yang saya permasalahkan adalah tindakan kekerasan FPI dalam menyelesaikan permasalahan, terakhir dengan kasus MONAS.

    Seperti pokok pembahasan untuk FPI ini salah alamat kalau kita lanjutkan di Forum MK ini. Anyway Thanks atas commentnya.

    Salam MK icon_smile icon_smile icon_cool

  36. marsuni | Pesan | Senin, 16 Juni 2008

    @Marco

    Saya sebenarnya juga tidak setuju dengan kekerasan (namun menurut saya itu adalah puncak kekesalan yang berlarut-larut dari ke plin-planan pemerintah yang telat mengeluarkan SKB) jadi kekerasan itu adalah hal yang salah (dalam kasus monas) namun itu "mungkin" wajar karena FPI sdh muak dengan pemerintah...!

    Terkait komentar-komentar lain yang keluar "mungkin" tanpa tahu dan sekedar untuk kepuasan diri sesaat semata, jikalau saya mau (toh orang/komunitas MK ga' tahu siapa saya) Saya bisa saja mengatakan ada pihak non muslim dan non Ahmadiyah didalam aksi monas, tapi apa gunanya berkomentar bOhOng yang ga berisi dan tak ada gunanya sama sekali dan juga tak memberi pencerahan...! Ibarat TONG KOSONG NYARING BUNYINYA..!

    Jadi menurut saya berkomentarlah dengan kata "mungkin" jika belum tahu, atau "betul adanya" jika memang mempunyai data yang akurat..! itu komentar yang lebih bijak dan dapat mencari pencerahan dari komentator lainnya..

    Salam MK icon_smile icon_smile icon_wink icon_cool

  37. marsuni | Pesan | Senin, 16 Juni 2008

    @Reza

    Saya Islam tapi shalat Saya masih bolong-bolong, dan mungkin banyak bolongnya, dan juga belum banyak berbuat untuk agama saya. tapi untuk Agama Saya (ISLAM), saya akan pertaruhkan apapun. malah dengan nyawa sekalipun (jika matinya mati syahid)..! ntar kalau ga mati syahid, jadi mati kafir dah..!

    Maksud Saya itulah mengapa ada orang yang rela berbuat apapun demi agamanya (walaupun ada orang yang mengatakan jangan sangkut pautkan agama) Oh.. tidak karena agama yang nomor 1, maka harussss dan memang harus.!

    Agama no 1

    Negara no 2

    Keluarga no 3

    Itu menurut saya lho...! ga setuju it's oke.. ga masalah.

    Salam MK icon_smile icon_smile icon_wink icon_cool

  38. richardo | Pesan | Sabtu, 21 Juni 2008

    maaf saya ikut nyambung. dari inti pembicaraannya ialah. udah susah di buat tambah susah. mendingan ketimbang bingung kita ngurusi negara ini. yang urusanya enggak kelar kelar icon_confused icon_confused icon_confused

    saya punya solusinya.matikan tv nya atau buang aja korannya. lalu habis itu mandi-habis mandi buatlah secangkir kopi-terakhir silakan anda bersantai di depan rumah anda. gampangkan! icon_lol icon_lol icon_lol icon_lol

  39. Nani | Pesan | Sabtu, 21 Juni 2008

    @Pak Richardo: gampang banget! icon_lol icon_lol drpd ributin yg mana ayam dan yg mana telor..

  40. Advena Vee | Pesan | Selasa, 24 Juni 2008

    Still screaming for,,

    NO FANATISM!!! NO FANATISM!!!

    Yg FANATIS itu NGGAK SEHAT,,bener2 NGGAK SEHAT,,

    Akalnya gak sehat,,Kelakuannya gak sehat,,

    Fanatisme bikin orang jadi gila,,kyk jerk-you-know-who,,

  41. marsuni | Pesan | Kamis, 26 Juni 2008

    @Nani

    Tapikan di artikel ini ga ngeributin Ayam ama terol eh telor icon_biggrin icon_biggrin icon_biggrin icon_biggrin becanda icon_smile

    @Advena Vee

    Ga' semua FANATIS itu ga' sehat, tergantung FANATIS dibidang/segi/Golongan mana/apa! Anda jangan berpikir terlalu Dangkal malah sangat dangkal..!

    Kalau FANATISnya dalam hal yang negatif, saya jelas akan kontra,namun jika Fanatisnya dalam hal yang positif. saya akan mendukung.

    1 lagi, namun FANATIS itu bukan berarti membenarkan hal-hal yang dapat merugikan orang lain, kecuali orang tersebut memulai lebih dulu. (dalam artian Siapa jual saya akan beli).

    karena belum tentu yang Ga FANATIS itu kelakuannya lebih baik dari pada yang FANATIS, tapi tergantung cara penempatannya...!

    icon_wink icon_wink

  42. Advena Vee | Pesan | Jumat, 27 Juni 2008

    @ Marsuni

    Oke,,saya baru bisa menerima argumentasi anda jika anda dapat memberikan contoh konkrit yang membuktikan bahwa ada fanatisme yang sehat,, icon_wink

    Karena saya belum bisa menemukan satu fakta pun yang dapat membenarkan bahwa ada fanatisme yg sehat,, icon_razz

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !


 Pencarian lebih lanjut dengan Google..

Google
 
Web www.mediakonsumen.com



Surat/Artikel Terbaru



Komentar Terbaru