http://www.bluetooth.bizuniversal.com/

Online
Saat ini ada 70 pengunjung tamu dan 0 pengunjung terdaftar online.

Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login




 


 Tidak bisa login?
 Mau daftar? KLIK DI SINI!
Polling

Menurut Anda, Media Konsumen itu...

[ Hasil | Polling ]

Votes: 1193

Kesehatan/Rumah Sakit - Keluhan

RS Santosa Bandung Lebih Mementingkan Uang Daripada Nyawa Manusia

Senin, 12 Mei 2008

Bantuan Artikel
Pada hari Jum'at 2 Mei 08, sekitar jam 21 saya mengantar ayah kami ke UGD RS. Santosa Bandung yang bertaraf internasional untuk diperiksa. Alasan memilih RS tersebut agar ayah kami mendapat perawatan yang terbaik dan kalau sudah bertaraf internasional nilai kemanusian lebih diutamakan.

Dari hasil periksaan dokter UGD kondisi ayah saya sudah kritis dan harus dirawat di HCU, dibagian pendaftaran ruangan kami diharuskan menyediakan uang jaminan 10 jt, karena saat itu kami tidak membawa uang sebesar itu kami meminta keringanan untuk pembayaran uang jaminan tersebut tetapi tidak bisa.
Oleh bagian pendaftaran kami disarankan untuk konsultasi lagi ke dokter UGD untuk penggantian ruang perawatan. kami bolak balik dari UGD ke pendaftaran sementara kondisi ayah kami makin menurun dan diharuskan dirawat di ICU dengan jaminan 20 jt. dokter dan petugas menerangkan mengapa membutuhkan jaminan 20 jt dan alasan tersebut kami mengerti, tetapi yang menjadi permasalahan jangankan untuk 20 juta untuk mendapatkan 10 juta saja pada malam itu kami kesulitan.

Kami meminta agar ayah kami dirawat dulu sedangkan untuk uang jaminan kami beberapa hari ke depan, tetapi hal tersebut ditolak pihak RS. pada saat saya ngomong "JADI KALAU ORANG YANG TIDAK PUNYA DUIT TIDAK BISA DIRAWAT DI ICU" diiyakan oleh petugas RS. Atas persetujuan keluarga akhirnya ayah kami rujuk ke RS. Hasan Sadikin pada jam 23 malam dan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa ketika masih ditangani oleh bagian UGD RS. HS dan saat itu pula kami bawa pulang.

Yang menjadi kekesalan buat kami adalah RS. Santosa lebih mementingkan uang daripada nyawa manusia, hal tersebut terlihat pada saat pemindahan dari RS. Santosa ke RS. HS pihak RS. Santosa melalui HP petugasnya menagih terus kepada kami mengenai biaya perawatan selama di UGD RS. Santosa padahal sudah saya tegaskan akan kami bayar tetapi setelah kondisinya tenang. telpon dari pihak RS. Santosa terus berlanjut baik ke rumah maupun ke HP saya, waktu mereka telpon Sabtu 3 Mei 08 jam 6.34 saat memandikan jenazah, Senin 5 Mei jam 11.22 dan 18.45, padahal berkali-kali saya tegaskan akan dibayar paling lambat seminggu setelah semua urusan dengan jenasah beres.

Melihat hal tersebut apabila RS. Santosa tidak mau menerima orang miskin seharusnya di pintu masuk dibuat tulisan "ORANG YANG TIDAK PUNYA UANG (MISKIN) TIDAK BOLEH BEROBAT DISINI". demikian kekesalan saya terhadap RS. Santosa, kepada pengelola Media Konsumen saya ucapkan terima kasih.

Supriatna
Jl. Trs. Psm No.16 Rt.06 Rw.04
Bandung


Artikel lain dalam kategori Kesehatan/Rumah Sakit :

Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 11 komentar


  1. Nani | Pesan | Senin, 12 Mei 2008

    Saya turut berduka cita atas meninggalnya Ayah anda yang tercinta.

    Saya rasa yang terjadi pada Anda, sering kali terjadi pada teman2 saya, bahkan pada saya sendiri... krn rs sakit skrg kebanyakan memang bukan untuk melayani orang yang tidak punya uang lagi..

  2. marsuni | Pesan | Senin, 12 Mei 2008

    Saya juga turut dan sangat berduka atas meninggalnya Ayahanda Supriatna tercinta, dan saya rasa kita tidak perlu menunggu tanggapan dari RS Santosa Bandung..!

    karena apapun alasannya nyawa manusia adalah yang paling utama.

    mungkin sebaiknya pemerintah memasang plank yang besar disetiap RS. yang berbunyi "Anda sakit parah..?, kalau tidak punya uang 10 s/d 20 juta, jangan dibawa ke Rumah Sakit..! karena tidak akan kami layani...!"

    Jika saya sebagai pemimpin negeri ini (minimal pimpinan daerah (Gubernur, walikota, bupati), saya akan memecat/memberhentikan Dokter atau siapapun yang menolak pasien..!

    sudah sering saya melihat dan menyaksian berita di televisi masyarakat yang kurang mampu disuruh pulang karena kahabisan biaya..! dan bukan lagi rahasia umum. tapi entah mengapa ko' Dokter-Dokter di Rumah Sakit itu ga punya malu karena hanya lebih mementingkan uang..! Mau muntah dan geregetan sekali saya melihatnya..!

    Bupati ditempat saya pernah menegur Dokter yang membiarkan pasien tidur diselasar karena tak punya cukup biaya (waktu itu malah masuk koran) dan saya terharu mambacanya...!

    sayang pejabat seperti itu mungkin 1 diantara 100..!

  3. squalleonhart | Pesan | Senin, 12 Mei 2008

    saya jg punya pengalaman yg sama yaitu di RS. Persahabatan Jakarta...sepertinya rata2 rumah sakit seperti itu pelayanannya; memang mental para pelaku RS itu BOBROK semua kali ... biar yg diAtas sana yg akan menghukumnya....

  4. Tarantula | Pesan | Selasa, 13 Mei 2008

    Umur manusia memang di tangan Tuhan, tapi kalo ceritanya begitu pastilah kita dongkol juga ya, seandainya... seandainya... & seandainya ... tapi yah begitulah rata2 Rumah Sakit di Indonesia.

    Saya juga pernah mengalami hal yang sama tahun 1992 di sebuah RS swasta ternama di kota Jogjakarta, adik saya yang kecelakaan dibiarkan aja tergeletak di UGD dalam keadaan kritis sampai menunggu keluarga datang untuk memberikan jaminan. Perawat hanya memberikan bantuan oksigen dengan alat pompa oksigen yang hanya dipompa dengan tangan.

    Akhirnya adik saya meninggal karena penanganan yang serius baru dilakukan 1 jam kemudian setelah ada pihak keluarga yang menjaminkan. Padahal saat itu adik saya sangat butuh penanganan secepatnya karena ada pendarahan di otak.

    Waktu itu kami juga berandai2, seandainya penanganannya cepat dilakukan, mungkin adik saya bisa selamat.

    Tapi apa mau dikata, akhirnya toh kami cuma bisa menerima keadaan.

    Saya turut berduka cita.

  5. kornelis | Pesan | Selasa, 13 Mei 2008

    wah kalau yang satu ini saya gak bela rumah sakitnya. KETERLALUAN !!!

    benar2 keterlaluan. okelah saya setuju memang ICU itu mahal dan butuh deposit yang tidak cukup sedikit. tapi kalau memang sudah tau orangnya gak pegang uang dan lihat kondisinya kenapa gak langsung rujuk ke rumah sakit pemerintah!!! dodol....

    setidaknya anda mengurangi stressfull mereka.

    jika saja hukum kedokteran di negeri tercinta ini sudah semaju USA tentu saya rekomendasikan supaya rumah sakit wierd ini di sue...

    sayang ya hubungan dokter pasien di negeri ini sepertinya sama seperti tahun 70an dan belum masuk hubungan dokter pasien milleniuman. uh... dodol

    nyebelin banget

  6. ius | Pesan | Selasa, 13 Mei 2008

    turut berduka cita buat ayahanda pak supriatna

    kalo bener, rumah sakit kaya gini nih yang br*ng***

    dokter jaman sekarang cuman ada duit duit dan duit....

    sampe nyawa orang yang sekarang pun harus di DP dengan duit, se akan2 nyawa orang ada di nominal duit tsb..

    buat manajemen RS SENTOSA kalo baca artikel ini,

    selamat yah, anda telah di butakan oleh duit dan telah melakukan satu kesalahan yang fatal.

    mari kira black list di milis2 untuk RS seperti ini,

    VOTED FOR !!

    NB: kalao mau berbisnis, jangan berbisnis dengan kedok rumah sakit, buka warung pecel lele aja

    salam

  7. Brio | Pesan | Selasa, 13 Mei 2008

    Ikut berduka cita kepada bang Supriatna atas meninggalnya ayahanda.

    Biasanya semakin "wah" Rumah Sakit tersebut semakin tinggi motif bisnisnya (karena perhitungan investasi), demikian juga dokter dokter yang bekerja disitu. Soal penanganan pasien dan kwalitas dokter belum tentu sejajar dengan kemegahan bangunan dan beaya yang harus dibayar.

    Mungkin sudah cocok namanya Rumah Sakit kalau kesitu bukan kesembuhan tetapi kesakitan yang diperoleh khususnya bagi masyarakat yang ekonominya lemah. icon_biggrin

    Salam.

  8. 123x | Pesan | Rabu, 14 Mei 2008

    setau saya rs santosa mempunyai motto friendly and caring, tp dgn kasus diatas sepertinya tidak cocok antara motto sama kenyataan yg ada -- bagaimana dgn social responsibility dari rs tsb?? -- mungkin penyetoran uang jaminan sudah menjadi prosedur disana, tp mestinya prosedur itu bisa lebih fleksibel, lihat dulu kondisi pasien (berdasarkan diagnosis dokter), kalau keadaan kritis, segera tangani, jgn malah ribut masalah administrasi. baru setelah keadaan stabil boleh ngomongin soal duit... biar sesuai ma motto nya. utk keluarga pak Supriatna, saya turut berduka cita atas kejadiaan diatas.

  9. Tommie Draven | Pesan | Rabu, 14 Mei 2008

    Saya juga turut berduka cita ...

    Mungkin sebenernya begini (kira2 aja dr ceritanya)

    itukan rumah sakit mahal, asumsinya orang punya duit, di test dr deposit. Kl bisa deposit berarti mampu, br diobati. Kl gak bisa deposit ya jng sampai RS rugi, jd br biaya penanganan aja yg gak terlalu besar kalau2 pasiennya gak punya duit banyak.

    Saya cuma berharap semoga yg bikin prosedur nya mengalami hal yg sama (masuk RS tp gak bisa byr deposit krn gak ada duit cash) ... mungkin terdengar gak manusiawi .. tapi kan kemanusiawian itu akan selalu saya pergunakan kl berhadapan dengan manusia lagi icon_biggrin

  10. indra setyawan | Pesan | Senin, 30 Juni 2008

    rumah sakit nya sih ngga masalah mas...org2 nya yang bekerja disana, udh ga punya hati nurani!!!,sabar aja mas,yang berat disini,malah akan meringankan ayah anda di alam sana,yang sabar mas

  11. sarah | Pesan | Senin, 30 Juni 2008

    turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk pak supriatna

    mungkin rumah sakit yang mentereng emang begitu kebijakannya, ya? Saya belum pernah soalnya berobat atau bawa orang berobat ke RS2 super keren. Cuma pernah dengar bertahun-tahun lalu dari teman, RS internasional bintaro minta deposit 5 juta sebelum bisa masuk.

    Kalo pengalaman saya, masukin alm. ayah ke RS jantung harapan kita, ruang ICU jantung, yang semalam kalo ga salah 9 juta-an, deposit cuma 500 ribu. Dan seminggu setelah ayah saya meninggal, baru saya urus administrasinya. Ga ditelfon terus kaya cerita di atas.

    Luar biasa ya, makin lama orang makin ga ada nuraninya. Hati-hati tuh, para petinggi atau pemilik rumah sakit. Mungkin kalian emang ga akan pernah mengalami nasib ditelantarkan karena ga berduit, tapi Tuhan itu adil!

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !


 Pencarian lebih lanjut dengan Google..

Google
 
Web www.mediakonsumen.com



Surat/Artikel Terbaru



Komentar Terbaru