Online
Saat ini ada 138 pengunjung tamu dan 0 pengunjung terdaftar online.

Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login




 


 Tidak bisa login?
 Mau daftar? KLIK DI SINI!
Polling

Menurut Anda, Media Konsumen itu...

[ Hasil | Polling ]

Votes: 1435

Lain-Lain/Keamanan & Ketertiban - Keluhan

Aparat Polisi Lalu Lintas yang Sewenang-wenang

Senin, 03 Maret 2008

Bantuan Artikel
Teman saya kirim email kepada saya,yang isinya curhat tetang ketidaknyamanan Polisi di Indonesia. Sekalian saya coba sharing ke Teman-teman di Media Konsumen. Semoga bermanfaat.

Tanggal 15 Januari 2008 di pos polisi lalu lintas pemuda Semarang di depan gedung kampus UNAKI pukul 18.00 lebih, saya mengalami hal yang amat tidak menyenangkan.
Diawali dengan dihentikannya mobil saya di Jalan Tanjung Semarang oleh seorang oknum polisi yang namanya Rudi (tidak bersedia memberikan nomer identitas kepolisiannya) dengan tuduhan saya melanggar lampu merah di depan Stasiun Poncol dan SIM saya (SIM A; saat pemeriksaanpun biasanya tidak ada polisi yang mempermasalahkan) tidak memenuhi syarat untuk mengendarai mobil diesel (Panther). Dia bilang untuk semua jenis mesin diesel harus sim B1. Semua ini berkesan mengada-ngada demi memeras uang dari saya.

Kemudian saya di ajak ke pos polisi di Jalan Pemuda, disana saya akan ditilang. Saya tidak bersedia karena saya sama sekali tidak merasa melanggar lampu merah dan juga SIM A pun boleh mengendarai mobil diesel. Dengan sopan saya melakukan pembelaan, eh malah dibentak-bentak. Saya pun masih sabar menjelaskan, kemudian dia tambah marah dan mencaci maki saya juga menghina saya dengan menyebut saya CINA, banci, dan lain-lain.

Kesabaran pun ada batasnya, saya balas membentak, kemudian dia memiting saya sehingga saya tidak bisa bergerak, mencekik, meludahi, dan menampar saya.

Karena tidak terima, saya pun balas caci maki, ludahi dan memukul dia. Saya bentak-bentak dan saya kata katai dia. Karena suara saya yang keras akhirnya banyak mahasiswa yang berkerumun sehingga teman polisi tersebut (sesama polantas yang kebetulan hari ini sedang jaga di pos Pemuda dan awalnya sama sekali tidak ikut ikut) berusaha membantu saya dan mengeluarkan saya dari dalam pos polisi (thanks Pak).

Dia berusaha mendamaikan kami dan mempersilahkan saya pergi, tapi Pak Rudi (saya tahu namanya saat temannya menasihati dia) masih mengata ngatai saya dan bahkan mencoba menendang saya.

Karena banyak mahasiswa, terlihat dia ketakutan dan berusaha membela diri di depan mahasiswa2. Saya yang tidak terima dengan perlakuannya tidak mau pergi dan menuntut permohonan maafnya, saya juga menunjukan luka-luka saya kepada rekan-rekan mahasiswa. Sekali lagi dengan berlagak tidak bersalah (dan masih menyalahkan saya) dengan sombongnya dia mencaci maki saya dan bilang bahwa luka luka di lengan dan leher saya adalah ulah saya sendiri (emang saya gila apa?? melukai diri sendiri).

Teman teman Polisi tersebut kemudian menasihatinya dan karena kerumunan mahasiswa bertambah banyak dia akhirnya ( dengan terpaksa ) meminta maaf pada saya dan mengajak damai serta mengembalikan surat-surat saya tanpa jadi ditilang.

Tapi kerugian saya sudah cukup banyak! Harga diri saya diinjak injak!

Dan untuk memperkarakan kasus ini pun saya malas karena saya rasa hanya akan buang2 uang dan waktu saya. Dengan terpaksa saya pergi dengan segala kekecewaan saya.

Seharusnya setiap polisi lalu lintas yang bertugas wajib menyebutkan nama dan nomor identitas polisi dia kepada kita sebelum memeriksa surat-surat kita.

Saya juga merasa bahwa kita berhak mengetahui UNDANG UNDANG LALU LINTAS dengan sejelas-jelasnya. Karena banyak kejadian, mereka mengarang undang undang demi memeras uang rakyat.

Ini masalah prinsip!

Bila saya tidak bersalah, di cari-carikan alasan seakan-akan saya bersalah, dan mendapat penganiayaan secara fisik, DEMIKIANKAH KUALITAS POLISI LALU LINTAS DI INDONESIA??? Apa bedanya dengan preman dan sampah masyarakat???

Abie
Surabaya


Artikel lain dalam kategori Lain-Lain/Keamanan & Ketertiban :

Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 7 komentar


  1. romy | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Yang diinginkan polisi korup adalah surat-surat kita. Ketika surat2 ini dipegang mereka, pasti dibawa ke pos karena pos lebih aman dan tertutup dari umum.

    Setelah ada di dalam pos, alasan demi alasan dibuat untuk menekan kita agar meminta damai melalui jalur uang.

    Saran saya, kalau memang tidak bersalah dan bila ada polisi berdiri sendirian atau berdua dan tidak sedang menaiki kendaraan, memanggil kita untuk menepi; kita tidak perlu berhenti. Kalau memang ada razia, jumlah aparatnya pasti banyak. Kalau sedikit, itu bukan razia tapi cari uang makan.

  2. P.N Jonathan | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Yang jelas saya tidak melihat kejadian ini,jadi benar apa tidaknya rubik ini tidak bisa kita buktikan.Btw sudah seharusnya polisi mengayomi masyarakat

  3. Night Spy | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    weleh weleh abie

    kalau polisi begitu tuh sudah biasa, yang amat disayangkan adalah temen abie itu kok balas meludahi dan main pukul-pukulan dengan polisi???

    sungguh sangat disesalkan,

    menurut hemat gue sih begini, jika dipukul, kita tidak usah melawan, kita lari saja... kemudian kita ke rumah sakit, (rumah sakit pemerintah) kemudian kita minta pihak rumah sakit untuk membuat visum, setelah hasil visum tersebut didapati oleh kita, gue garansi deh, itu polisi pasti mampus deh....

    caranya hanya sederhana saja, buat surat pengaduan ke kepolisian (jangan lupa ajak temen yang berprofesi sebagai wartawan, agar beritanya tidak bisa di 86 oleh polisi dan kloni kloninya tuh) dan hal ini juga sebagai backup jika dari pihak kepolisian tidak mau menerima pengaduan temen abie.

    Setelah itu temen wartawan itu buat di koran dengan head line news dengan judul yang sangat mengugah hati :) MENGAYOMI ATAU MEMUKULI? dijamin deh temen wartawan itu pasti terkenal dan harian / terbitannya jamin laku kereas...

    Hal ini berimpact kepada harkat dan martabat dari Kepolisian Indonesia, yang pasti tentu polisi (yang sok jago tersebut) dicopot atau mungkin dimutasi ke daerah yang kering abis.

    paling tidak, polisi tersebut tidak balik modal deh, karena kita sih kasihan saja, begitu mau test masuk di akabri, AKP atau sejenisnya, mereka sudah banyak mengeluarkan uang tuh, sehingga mereka sibuk mencari uang untuk menutupi modal yang telah dikeluarkan.

    semoga bermanfaat.

    wasssaaallllaaammmmm

    icon_evil NS icon_evil

  4. Brio | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Biasalah teman saya juga mengalami kejadian di Semarang memakai mobil luar kota warna catnya agak aneh. Di STNK disebutkan warna silver tetapi, pak Polisi bertahan bahwa itu bukan warna silver dp. memakan waktu lama karena mau jagong isterinya terpaksa keluar ang pao. Jadi hati hati kalau memakai mobil luar kota di Semarang bisa bisa berhubungan dengan pak Polisi yang "disiplin sekali" icon_lol icon_lol icon_lol

    Salam.

  5. Nani | Pesan | Senin, 03 Maret 2008

    Baru tau, seumur2 belum pernah berurusan sama polisi (knock knock kayu, amit2 deh).. gara2 takut hal2 yg begini nih

  6. ius | Pesan | Selasa, 04 Maret 2008

    waduh... ini berita sepertinya uda lama beredar di forum sebelah nih..

  7. ExE | Pesan | Rabu, 04 Juni 2008

    Grrr, tolong diperhatikan ciri2 polisi yg memang sengaja "merampok" pengguna jalan :

    1. Biasanya jika memang ada razia, terpampang tulisan "razia polisi" dan polisinya berjumlah banyak, bukan cuma 3 ato 4 orang.

    2. Seharusnya polisi akan berbicara dgn hormat kepada pengguna jalan, bukannya berlagak ledha-ledhe. Masa polisi bicaranya ga beda ama anak2 tongkrongan seperti yg pernah saya alami?

    3. Mereka sengaja mencari2 kesalahan kita, bahkan membuat kita seolah-olah merasa bersalah utk memastikan korbannya tdk akan lolos.

    4. Saat dihadapkan dgn tilang, mereka pasti akan mempersulit jika kita memilih sidang. Malahan ada sidang di tempat yg seharusnya ga boleh. Hal itu supaya calon korbannya memilih sidang di tempat yg mengharuskan membayar dalam jumlah besar dari ongkos sidang. Spt yg saya alami, mereka mengharuskan sidangnya di Kendal, pdhal ditilangnya di Semarang pas mau pulang ke arah Pati di arteri.

    5. Harusnya kita dapat surat bukti tilang dari polisi, tapi kok saya gak ya? Jelas ga beres ini.

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !


 Pencarian lebih lanjut dengan Google..

Google
 
Web www.mediakonsumen.com



Surat/Artikel Terbaru



Komentar Terbaru