Online
Saat ini ada 121 pengunjung tamu dan 1 pengunjung terdaftar online.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login
Polling
Tahun Baru, Paradigma Baru
Kamis, 03 Januari 2008
Bantuan Artikel
Bagi saya, sejatinya inilah momen di mana sebagai manusia, sekali lagi mumpung masih dikasih waktu dan dipertemukan dengan momen ini, ’kembali’ kita diminta untuk sedikit meluangkan waktu dengan menarik nafas dalam-dalam guna menemukan kejernihan pikir dan hati dan kemudian merenung atas dosa-dosa dan kebajikan yang telah kita lakukan setahun lalu.
Dan atas dasar permenungan dengan kesadaran penuh, jujur dan ikhlas itu kemudian kita gunakan sebagai pijakan untuk menyusun resolusi ke depannya. Dengan begitu, pemaknaan atas tahun baru tak hanya sebatas pada gempita seremoni atau pestapora saja melainkan secara nyata kita mampu menyelami dan memaknai gempitanya pesta tahun baru yang berada di tengah-tengah arus deras banir dan bencana tanah longsor di neger ini.
Tak ada salahnya memang kita menghabiskan waktu sebulan selama Desember untuk mempersiapkan serangkaian daftar rencana untuk mengisi detik-detik pergantian tahun baru ini, terserah itu sederetan acara pesta yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan tiga puluh detik menjelang pukul 00:00, atau acara lain yang lebih bersifat untuk kemaslahatan umat manusia dengan mendermakan tenaga, pikiran dan keikhlasan hati untuk saudara-saudara kita yang sedang bertarung dengan hidup dan kehidupannya akibat derasnya bencana yang mendera negeri gemah ripah loh jinawi Indonesia ini. Bagi kita yang menganggap tahun baru sebagai momen untuk dirayakan dengan pesta, itu juga sah-sah saja, ya karena kebanyakan dari kita memang butuh momen untuk dirayakan. Bila di Jakarta yang kota metropolitan begitu gegapnya dunia gemerlap malam tentu akan semakin gempita menjelang detik-detik pergantian tahun nanti. Nun jauh di utara metropolitan sana, tepatnya di Muara Baru penghuni daerah itu harus pasrah detik-detik pergantian tahun dilaluinya di daerah yang digenangi air laut denganarusnya yang sewaktu-waktu terus bertambah deras.
Di kawasan wisata Tawang Mangu, masyarakat dengan bergotong royong dalam keperihan tengah berusaha melakukan evakuasi korban longsor dengan medan yang begitu sulit. Di Solo, Jawa Tengah mungkin masyarakat masih menyisakan rasa kagetnya akibat Bengawan Solo meluap, dan di Aceh, lagi-lagi setelah 3 tahun tak sedikit masyarakat korban gempa dan tsunami harus tetap bertahan di pengungsian.
Tahun baru selalu memberi harapan baru. Tahun baru selalu diisi dengan mimpi-mimpi baru, resolusi baru dan semua yang serba baru, hingga tak jarang kita lupa menghitung dosa dan bahagia setahun sebelumnya. Memang tak ada yang salah. Sekali lagi tahun baru sejatinya juga menjadi waktu yang sangat baik untuk kita sekejab merenung, melihat kebelakang sebentar dan melakukan introspeksi kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun resolusi di tahun baru ini. Jika sudah begitu banyak pesta yang kita lakukan, tak ada salahnya di momen pergantian tahun ini giliran melakukan hal yang berbeda untuk kemaslahatan umat manusia. Diisi dengan doa agarkeperihan negeri ini segera dapat di atasi. Kalaulah ada sedikit limpahan rizki tak ada salahnya jika berbagin dengan mereka yang sedang bertarung dengan genanan air, tanah longsor dan lainnya. Alangkah indahnya jika semangat tahun baru ini kita jadkan juga sebagai momentum untuk kembali peduli terhadap lingkungan dan sesama. Para pengusaha HPH dengan semangan tahun baru ini yang ditegur dengan silih bergantinya bencana banjir dan tanah longsor di mana-mana semogajuga menjadikannya sebagai momen untuk bersama bertekad melakukan reklamasi atas hutan yang telah digundulinya dan lebih memikirkan solusi atas dampak yang telah ditimbulkan. Pengusaha lain yang juga bergerak di pengelolaan sumber daya alam semoga juga menggunakan moment tahun baru ini sebagai momen yang mengingatkan mereka untuk lebih peduli dengan lingkungan dan alam yang diolahnya. Bolehlah mengeruk batu bara tapi tentu juga harus diiringi dengan pembenahan area yang diolahnya dan tidak begitu saja membiarkannya sambil menunggu alam ini murka.
Sedikit ada rasa bangga menyaksikan serentetan selebritis kita yang memanfaatkan momen tahun baru ini sebagai sebuah wahana untuk menyerukan pada sesama untuk sekali lagi secara tulus dan serius peduli pada perubahan alam dan masyarakat di sekelilingnya. Mereka melihat serentetan kisah tragis dan linangan air mata ditengah derasnya arus banjir, derasnya serbuan kemiskinan dan ketakkuasaan kalangan lemah, makin terasanya dampak atas pemanasan global dan serangkaian peristiwa perih lainnya sebagai sebuah cermin diri atas beberapa dosa yang dilakukan manusia. Banjir, tanah longsor, pemanasan global dan lainnya tak bisa dilepaskan dari ulah manusia. Dari pandangan serentetan publik figur itu secara pribadi saya mencoba ntuk mengingatkan diri sendiri, bahwa hutan, tanah dan sumber daya alam yang terhampar dan melimpah di Nusantara ini ’bukanlah warisan dari para leluhur kita atau nenek moyang kita’ melainka semua itu adalah ’pinjaman dari anak cucu kita, generasi penerus negeri ini’. Dengan demikian apakah saya mungkin dan anda para pengelola sumber daya alam negeri ini begitu tega mengembalikan pinjaman anak cucu kita dalam kondisi yang rusak dan parah. Kita kembalikan hutan ke anak cucu kita dalam kondisi gundul, kita kembalikan lahan subur tanah negeri ini ke anak cucu kita daam kondisi terbengkelai tanpa adanya upaya reklamasi setelah dikeruk batu bara, emas, minyak atau lainnya? Sebegitu percaya dan bangganya anak cucu kita generasi penerus negeri ini memberikan pinjaman sumber daya alam seisinya kepada kita yang dewasa, apakah kita akan merusak kepercayaan itu yang akhirnya melenyapkan keindahan dan kegemah ripahan tanah Nusantara ini. Jikalau demikian, anak cucu negeri ini yang sejatinya berharap mendapatkan tanah negeri yang subur, terawat dan melimpah melainkan hanya segelintir teman-temannya saja yang dapat hasil melimpah dan notabene adalah anak cucu dari para pengusaha yang mengelola hutan dan sumber daya alam negeri ini.
Detik-detik pergantian mentari baru bisa menjadi lebih bermakna dengan bersama-sama kita memaknai dengan spirit kebersamaan untuk kemaslahatan umat. Semoga tidak menjadi sekedar menghabiskan satu bulan untuk menyiapkan 1 hari yakni hari di mana akan bergantinya tahun ini hanya bermakna pada pesta saja, melainkan bermakna untuk perkembanga diri dan lingkungannya. Jadi apapun resolusi anda di tahun baru ini, semoga kita sebagai manusia mau untuk kembali mengingat akan esensi hidup dan kehidupan mulai sejak ’awal’ kita dilahirkan hingga ’akhir’ dari sebuah siklus kehidupan yang disebut dengan kematian. Artinya, kita ada dalam sebuah akhir perjalanan hidup dan juga awal untuk menjalani dan mempertanggungjawabkan atas segala tingkah polah kita selama kita hidup dalam kehidupan setelah kematian. Selamat Tahun Baru. Mari tumbuhkan kepekaan diri untuk saling peduli antarsesama manusia dan lingkungan kita.
* Tarsih Ekaputra
Tak ada salahnya memang kita menghabiskan waktu sebulan selama Desember untuk mempersiapkan serangkaian daftar rencana untuk mengisi detik-detik pergantian tahun baru ini, terserah itu sederetan acara pesta yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan tiga puluh detik menjelang pukul 00:00, atau acara lain yang lebih bersifat untuk kemaslahatan umat manusia dengan mendermakan tenaga, pikiran dan keikhlasan hati untuk saudara-saudara kita yang sedang bertarung dengan hidup dan kehidupannya akibat derasnya bencana yang mendera negeri gemah ripah loh jinawi Indonesia ini. Bagi kita yang menganggap tahun baru sebagai momen untuk dirayakan dengan pesta, itu juga sah-sah saja, ya karena kebanyakan dari kita memang butuh momen untuk dirayakan. Bila di Jakarta yang kota metropolitan begitu gegapnya dunia gemerlap malam tentu akan semakin gempita menjelang detik-detik pergantian tahun nanti. Nun jauh di utara metropolitan sana, tepatnya di Muara Baru penghuni daerah itu harus pasrah detik-detik pergantian tahun dilaluinya di daerah yang digenangi air laut denganarusnya yang sewaktu-waktu terus bertambah deras.
Di kawasan wisata Tawang Mangu, masyarakat dengan bergotong royong dalam keperihan tengah berusaha melakukan evakuasi korban longsor dengan medan yang begitu sulit. Di Solo, Jawa Tengah mungkin masyarakat masih menyisakan rasa kagetnya akibat Bengawan Solo meluap, dan di Aceh, lagi-lagi setelah 3 tahun tak sedikit masyarakat korban gempa dan tsunami harus tetap bertahan di pengungsian.
Tahun baru selalu memberi harapan baru. Tahun baru selalu diisi dengan mimpi-mimpi baru, resolusi baru dan semua yang serba baru, hingga tak jarang kita lupa menghitung dosa dan bahagia setahun sebelumnya. Memang tak ada yang salah. Sekali lagi tahun baru sejatinya juga menjadi waktu yang sangat baik untuk kita sekejab merenung, melihat kebelakang sebentar dan melakukan introspeksi kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun resolusi di tahun baru ini. Jika sudah begitu banyak pesta yang kita lakukan, tak ada salahnya di momen pergantian tahun ini giliran melakukan hal yang berbeda untuk kemaslahatan umat manusia. Diisi dengan doa agarkeperihan negeri ini segera dapat di atasi. Kalaulah ada sedikit limpahan rizki tak ada salahnya jika berbagin dengan mereka yang sedang bertarung dengan genanan air, tanah longsor dan lainnya. Alangkah indahnya jika semangat tahun baru ini kita jadkan juga sebagai momentum untuk kembali peduli terhadap lingkungan dan sesama. Para pengusaha HPH dengan semangan tahun baru ini yang ditegur dengan silih bergantinya bencana banjir dan tanah longsor di mana-mana semogajuga menjadikannya sebagai momen untuk bersama bertekad melakukan reklamasi atas hutan yang telah digundulinya dan lebih memikirkan solusi atas dampak yang telah ditimbulkan. Pengusaha lain yang juga bergerak di pengelolaan sumber daya alam semoga juga menggunakan moment tahun baru ini sebagai momen yang mengingatkan mereka untuk lebih peduli dengan lingkungan dan alam yang diolahnya. Bolehlah mengeruk batu bara tapi tentu juga harus diiringi dengan pembenahan area yang diolahnya dan tidak begitu saja membiarkannya sambil menunggu alam ini murka.
Sedikit ada rasa bangga menyaksikan serentetan selebritis kita yang memanfaatkan momen tahun baru ini sebagai sebuah wahana untuk menyerukan pada sesama untuk sekali lagi secara tulus dan serius peduli pada perubahan alam dan masyarakat di sekelilingnya. Mereka melihat serentetan kisah tragis dan linangan air mata ditengah derasnya arus banjir, derasnya serbuan kemiskinan dan ketakkuasaan kalangan lemah, makin terasanya dampak atas pemanasan global dan serangkaian peristiwa perih lainnya sebagai sebuah cermin diri atas beberapa dosa yang dilakukan manusia. Banjir, tanah longsor, pemanasan global dan lainnya tak bisa dilepaskan dari ulah manusia. Dari pandangan serentetan publik figur itu secara pribadi saya mencoba ntuk mengingatkan diri sendiri, bahwa hutan, tanah dan sumber daya alam yang terhampar dan melimpah di Nusantara ini ’bukanlah warisan dari para leluhur kita atau nenek moyang kita’ melainka semua itu adalah ’pinjaman dari anak cucu kita, generasi penerus negeri ini’. Dengan demikian apakah saya mungkin dan anda para pengelola sumber daya alam negeri ini begitu tega mengembalikan pinjaman anak cucu kita dalam kondisi yang rusak dan parah. Kita kembalikan hutan ke anak cucu kita dalam kondisi gundul, kita kembalikan lahan subur tanah negeri ini ke anak cucu kita daam kondisi terbengkelai tanpa adanya upaya reklamasi setelah dikeruk batu bara, emas, minyak atau lainnya? Sebegitu percaya dan bangganya anak cucu kita generasi penerus negeri ini memberikan pinjaman sumber daya alam seisinya kepada kita yang dewasa, apakah kita akan merusak kepercayaan itu yang akhirnya melenyapkan keindahan dan kegemah ripahan tanah Nusantara ini. Jikalau demikian, anak cucu negeri ini yang sejatinya berharap mendapatkan tanah negeri yang subur, terawat dan melimpah melainkan hanya segelintir teman-temannya saja yang dapat hasil melimpah dan notabene adalah anak cucu dari para pengusaha yang mengelola hutan dan sumber daya alam negeri ini.
Detik-detik pergantian mentari baru bisa menjadi lebih bermakna dengan bersama-sama kita memaknai dengan spirit kebersamaan untuk kemaslahatan umat. Semoga tidak menjadi sekedar menghabiskan satu bulan untuk menyiapkan 1 hari yakni hari di mana akan bergantinya tahun ini hanya bermakna pada pesta saja, melainkan bermakna untuk perkembanga diri dan lingkungannya. Jadi apapun resolusi anda di tahun baru ini, semoga kita sebagai manusia mau untuk kembali mengingat akan esensi hidup dan kehidupan mulai sejak ’awal’ kita dilahirkan hingga ’akhir’ dari sebuah siklus kehidupan yang disebut dengan kematian. Artinya, kita ada dalam sebuah akhir perjalanan hidup dan juga awal untuk menjalani dan mempertanggungjawabkan atas segala tingkah polah kita selama kita hidup dalam kehidupan setelah kematian. Selamat Tahun Baru. Mari tumbuhkan kepekaan diri untuk saling peduli antarsesama manusia dan lingkungan kita.
* Tarsih Ekaputra
Komentar Anda ?
Saat ini telah ada 3 komentar
Pencarian lebih lanjut dengan Google..
Surat/Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Halaman Untuk Cetak
Kirim Artikel Ini
Komentar Pembaca
Link Ke Blog Anda
tahun baru bukan materi yang kita perbaharui tapi jiwa kita perbaharui...banyak mengasihi,kurangi mementingkan diri sendiri
tahun baru buat gw sama aja, kaga ada bedanya lah...
gini gini juga...
Sebetulnya Tahun Baru ini yang meresapi adalah karyawan dan Pimpinan suatu usaha yang resmi, karena pada tutup tahun ini akan terlihat hasi kerja selama satu tahun.Mereka dengan gembira menyambutnya (untuk yang laba)karena akan memperoleh jasa produksi (bonus).Untuk orang biasa mestinya ya sama saja ada tahun baru atau tidak ibaratnya roda yang terus berputar. Bila menyambut dengan gegap gempita ya itu hanya sekedar hiburan saja
Untuk suatu perusahaan memang tahun baru penting karena bagaimana hasil tahun yang lalu kemudian disusun taktik dan strategi untuk lebih memperbaikinya sehingga tahun berjalan akan lebih baik lagi (peningkatan) dari hasil yang diperoleh tahun lalu.
Untuk manusia awam introspeksi tidak harus menunggu tahun baru tetapi setiap saat bagaimana dapat dicapai "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin".
Kelihatannya yang dengan gegap gempita menyambut tahun baru tersebut terbawa karyawan perusahaan resmi tersebut, sehingga ikut ikutan menyambutnya.Termasuk saya yang ikut menyampaikan "Selamat tahun baru 2008"