Online
Saat ini ada 157 pengunjung tamu dan 0 pengunjung terdaftar online.

Anda bisa log-in atau daftar di sini.
Login




 


 Tidak bisa login?
 Mau daftar? KLIK DI SINI!
Polling

Menurut Anda, Media Konsumen itu...

[ Hasil | Polling ]

Votes: 1765

Sketsa - Opini

Jajan Es di Emperan Malioboro

Rabu, 02 Januari 2008

Bantuan Artikel
Oleh: Sabjan Badio

Bukan Malioboro namanya kalau tak ada pedagang kaki lima. Bahkan, itulah salah satu daya tarik kawasan tersebut. Saking menarik dan terkenalnya, harga petak di kaki lima Malioboro bisa berlipat dari harga ruko di jalan-jalan lain.

Tahun 2001, aku dan ayahku (M. Udian Abasrin) menelusuri Malioboro, jalan-jalan, menikmati semua yang bisa dinikmati, serta membeli semua yang pantas (dan terjangkau) untuk dijadikan oleh-oleh.
Melintas depan Hotel Mutiara, ayahku mengajak mampir ke salah satu gerobak es. Beliau pengen merasakan es melon ala Malioboro. Aku menolak. Beliau boleh jajan, tapi aku tak mau. Melihat sikapku, beliau agak tersinggung. Dapat kutebak di kepalanya telah terbersit pikiran “lain” terhadapku: tak menghargai keinginannya dan tak mau menemani.

Aku diam. Ada sebuah ganjalan yang sulit dikeluarkan. Apalagi peristiwa itu terjadi mendadak di depan gerobak es. Waktu itu, otakku secara otomatis berpikiran jelek. Aku dan ayah tak bisa bahasa Jawa, sementara si penjual tidak memasang tarif secara tertulis yang bisa dibaca oleh semua pengunjung. Ditambah lagi dengan desas-desus miring yang sempat kudengar tentang tarif kaki lima di kawasan itu. Itulah sebab aku berpikir untuk mengajak ayah ke daerah lain yang bertarif pasti, di dekat kosku misalnya. Apa lacur, si bapak terlanjur “ngambek”.

Itu baru pedagang makanan. Pedagang kaki lima lain, pedagang cendera mata, pedagang pakaian, dan pedagang barang lain, sama saja. Mereka jarang memasang tarif tertulis atas barang dagangannya. Oleh karenanya, akan selalu ada tawar-menawar. Harga dipatok setinggi langit agar jika ditawar setinggi bulan pun tetap untung berlipat. Pembeli yang tahu diri tentunya tidak akan berani menawar sampai separuh harga. Padahal, sesungguhnya harga sebenarnya mungkin saja separuh dari separuh. Karena itu pula, tak jarang terlihat pedagang mengejar calon pembeli yang bergerak menjauh karena tak berhasil menawar. “OK, untuk Bapak, tak apalah. Tapi, jangan bilang-bilang, ya Pak?”

Itu adalah sedikit gambaran tentang sisi lain Malioboro. Walaupun begitu, aku tidak menuntut para pedagang memasang tarif tertulis untuk setiap dagangannya. Mengapa? Biarlah Malioboro dengan tawar-menawarnya. Ini adalah seni dan semoga menjadi daya tarik lain bagi Malioboro. Hanya saja, para pedagang juga harus sportif, jangan sampai menaikkan harga berlipat ganda. Dan, jangan pula mengatakan modalnya segini-segitu, padahal tidak. Berdaganglah dengan jujur. Pasanglah harga awal yang wajar dan biarkan calon pembeli mengeluarkan semua kemampuan menawarnya. Sementara, para pembeli harus hati-hati. Pelajarilah semua hal yang mungkin dipelajari tentang kawasan itu sebelum melakukan kunjungan.

Tidak adil namanya kalau aku hanya bercerita tentang kekurangsukaanku terhadap jalan ini. Akhir-akhir ini aku menemukan pedagang kaki lima yang memasang tarif secara tertulis atas dagangannya. Selain itu, ada peristiwa menarik yang kualami dan tak terlupakan hingga kini. Waktu bersantai di kawasan itu, aku sempat menyaksikan seorang pedang menegur pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Mereka tak berhenti protes hingga pengunjung tersebut memungut kembali sampahnya. Asumsiku, itulah sebab kebersihan “lorong” kaki lima di kawasan itu begitu terjaga. Paling tidak, begitulah kesanku hingga saat ini.

Bertahun-tahun kemudian, kudapatkan informasi atas alasan para pedagang yang tidak memasang tarif secara tertulis. Katanya sih, hal itu menunjukkan budaya verbal yang masih melekat pada masyarakat tersebut. Dengan kata lain, budaya baca tulis masih bergrafik rendah dibandingkan dengan budaya verbal. Benarkah? Entahlah. Yang jelas Jln. Malioboro merupakan salah satu titik yang paling mengesankan bagiku hingga saat ini.


Artikel lain dalam kategori Sketsa :

Komentar Anda ?

Saat ini telah ada 5 komentar


  1. ius | Pesan | Rabu, 02 Januari 2008

    di malioboro itu kudu pinter2 nawar...

    gw beli celana motif batik, ( enak sih adem, enteng pula celananya ) dia buka harga 50rb ?? gila kan ? hampir setara ama celana bahan levis yang selutut...

    karena sang penjual buka harga gila, gw juga tawar dengan gila...

    gw bilang "alah paling goceng, di jakarta aja cuma goceng di tanah abang bang.."

    penjual bilang "ngak dapat mas, celana bahan bagus ini"

    gw : ya uda deh bang makasih..

    selang beberapa langkah abangnya manggil

    "mas, 7rb aja yah, biar jadi deh..."

    gw pikir lagi...

    gw berbalik dan gw tawar lagi...

    uda deh 25rb 4 potong saya ambil...

    abangnya bilang "pilih dulu deh..."

    gw dalam hati cuma ngmg @#$%^&*(

    sekedar sharing..

  2. P.N Jonathan | Pesan | Rabu, 02 Januari 2008

    Malioboro...malioboro,ini tempat memang unik,saya pernah mau beli beca mini yang katanya dari perak untuk oleh oleh temen kerja,wualah si mas bilang Rp300.000,terus aku tawar Rp 50.000..eh langsung drastis dari 300.000 jadi 75.000 rupiah,yang akhirnya jadi juga 50.000 rupiah...ternyata besoknya istri saya yang juga beli beca mini antik tersebut untuk oleh oleh kakanya, berhasil mendapatkan 25.000 rupiah saja...ha...ha ....ha aku ketawa pada diri sendiri,soalnya aku yang asli orang Indonesia kurang jeli nawar daripada istri saya yang bukan orang Indonesia...ini cerita pengalaman saya di Malioboro,tapi setiap tahun kalau aku berlibur di Indonesia selalu menyempatkan pergi jalan jalan ke Malioboro,itulah uniknya tempat ini dan saya tidak pernah membenci tempat ini.Oke Malioboro we love you so much

  3. Brio | Pesan | Rabu, 02 Januari 2008

    Kalau berbelanja di kaki lima Malioboro memang harus jeli,sebaiknya survey dulu ditoko (yg.biasanya harga pas) kemudian bila belanja dikaki lima ditawar dibawah itu.

    Penjual tidak akan marah kok walaupun ditawar separohnya atau lebih. Penjual ini kan menuruti tradisi penjual dipasar dimana pembeli (biasanya ibu ibu)selalu menawar biarpun harganya sudah direndahkan.Yang agak merepotkan kalau kita makan lesehan karena bisa bisa dipungut harga yang mahal padahal sudah terlanjur dimakan icon_biggrin

    Tetapi akhir akhir ini karena seringnya ada protes dari pembeli terutama yang dari luar kota sudah banyak warung lesehan yang memasang daftar harga. Tetapi untuk makan dilesehan agar diperhatikan kebersihannya (maklum air terbatas).

    Memang jalan jalan dan berbelanja di Malioboro ada keasikan tersendiri (tapi kadang kadang juga menjengkelkan) icon_biggrin

    Salam

  4. dayathardi | Pesan | Senin, 14 Januari 2008

    hi hi hi.... icon_biggrin

    saya saja yang asli jogja kadang masih takut belanja. icon_biggrin

    tips dari saya:

    1. kalo makan tanya dulu harganya, kalo ok baru makan.

    2. untuk barang mending lihatdi toko dulu, perhatikan denga cermat baru lihat yang di emperan.

    kenapa ga pasang harga?

    kalo menurut saya itulah seninya malioboro

  5. Purwaty Puji Rahayu | Pesan | Kamis, 24 Januari 2008

    kurang sreg kalau pergi ke Jogja, ga mampir ke Malioboro..tempatnya memang asyik..tapi yang jualan kalau buyka harga juga gila..

    harganya mahal banget, mungkin mentang-mentang dah punya nama kali ya. Apalagi kalau kita sama sekali ga ngerti dan ga bisa bahasa jawa..yaaahh alamat di tembak aja deh harganya..

    pernah suatu kali suami saya pergi kesana, karena dia belum pernah kesana, smp di rmh dia cerita.suami saya kan orangnya to the point.kalau ga suka atau ga sreg dia langsung bilang. dia pernah makan di Malioboro..dia pikir harganya murah, eh ternyata harganya mahal. dia langsung bilang "Mas, bekas polisi ya..? suka nembak-nembak..? makanya saya makan harganya di tembak mahal banget.. icon_lol

Anda harus daftar dan login untuk bisa memberi komentar !


 Pencarian lebih lanjut dengan Google..

Google
 
Web www.mediakonsumen.com



Surat/Artikel Terbaru



Komentar Terbaru